Kamis, 21 Maret 2019

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini

Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pemerintah desa Sidomekar memugar pasar itu dengan desain unik. Tembok-tembok Pasar Krempyeng dibuat mural. imbasnya, pengunjung pun kian ramai.

MAHRUS SHOLIH, Semboro

DI sudut sebuah pasir Krempyeng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Sunarmi terlihat menunggui dagangannya. selepas fajar ia membuka lapak, dagangannya laris diborong pembeli. hanya tinggal tiga buah tempe yang tertumpuk di sebuah meja pendek terbuat dari bambu itu. pagi itu, nasib baik sepertinya menghampiri nenek 14 cucu tersebut.

Di usia yang memasuki renta ibu lima orang anak ini memang masih terlihat trengginas. kulitnya yang keriput tak menghalangi semangatnya untuk hidup mandiri, dan tak tergantung kepada anak cucu.

"Dagangannya saya sendiri habis. tempe yang saya jual sekarang ini milik pedagang lain. saya hanya membantu menjualkan saja," kata perempuan 70 tahun tersebut.

Menggunakan logat Jawa, warga Dusun Babatan, Desa Sidomekar ini bercerita, sejak pasar krempyeng itu dipugar medio April lalu oleh pemerintah desa setempat, banyak warga yang berbelanja di pasar yang menempati sebuah gang tersebut.

Mereka tak hanya berasal dari Sidomekar, tetapi juga desa lain yang berdekatan. bahkan, ada juga yang berasal dari desa di Kecamatan Umbulsari.

Pedagang yang telah berjualan sejak 40 tahun silam ini menuturkan, meningkatnya minat warga tersebut karena kondisi pasar tradisional ini tak lagi kumuh. pembeli juga tertarik dengan suasana pasar yang penuh dengan aneka warna. menurut dia, kondisi ini menjadi pemantik banyaknya pembeli yang berdatangan. "dampaknya tentu kembali ke pedagang. penghasilan kami meningkat," ujarnya.

Dulu, kata Sunarmi, kondisi pasarnya relatif sepi, karena kalah bersaing dengan pasar induk kecamatan, serta pedagang sayur keliling. sebab, pasar yang menjual kebutuhan pokok dan sayur-mayur ini terletak tak jauh dari pasar kecamatan semboro, yang hanya berjarak sekitar 300 meter arah selatan.

Namun, setelah setiap sudut pasar dan lapak pedagang dicat beraneka warna, minat warga berbelanja di pasar kembali bergeliat . "sebab, saat ini kondisinya bagus. dan sekarang namanya dikenal pasar warna-warni. jadi, ramai pembeli setelah dicat," ucapnya.

Ketika memasuki pasar warna-warni, pengunjung akan menemui sebuah jembatan yang melintasi sungai irigasi. di akses masuk ini, pengunjung akan disambut gapura yang terbuat dari bambu, serta melihat meriahnya kombinasi warna merah muda, hijau, kuning, dan biru yang digoreskan di setiap sudut pasar.

Tak hanya di dinding toko, lapak pedagang, dan aspal jalan saja, bebatuan yan menjadi plengsengan sungai juga dicat berwarna-warni. bahkan, di beberapa tempat juga dibuat mural dengan gambar tiga dimensi, seperti gambar tokoh pewayangan, petruk, serta ular yang siap memangsa, sehingga terlihat sangat rancak.
Menurut Haji Sofyan, yang menjadi daya tarik pembeli di pasar yang buka sejak bakda subuh hingga pukul 09.00 pagi ini tak hanya keindahan warna dan gambarnya saja. tetapi juga kekompakan para pedagang untuk membuat suasana di pasar berbeda dengan pasar lainnya.

Kata pedagang bumbu dapur ini, pada hari Minggu di setiap awal buulan, semua pedagang berkostum adat Jawa. perempuan memakai kebaya, sedangkan lelakinya mengenakan baju garis-garis (Surjan) khas Jawa dan blangkon sunan. "di momen seperti itu, biasanya pengunjung akan lebih banyak," kata warga Desa Mundurejo Kecamatan Umbulsari tertentu.

Pria yang sejak tahun 1983 berdagang di pasar krempyeng tersebut mengaku, setelah ada pengecetan, omzet dagangannya meningkat rata-rata 10 persen. omzet itu akan melonjak jika ada momen unik seperti mengenakan kostum  adat tersebut. bahkan, kenaikannya mencapai hampir dua kali lipat. "jika hari biasa omzetnya antara Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta. namun, di momen-momen tertantu bisa mencapai Rp 2 juta," akunya.

Sementara itu, kepala desa sidomekar sugeng priyadi menjelaskan, ide pemugaran itu berawal dari kondisi pasar yang dinilai kumuh. sehingga,pada 15 April lalu, bersama kelompok masyarakat sadar wisata (pokdarwis) jeruk siyem, pemerintah desa berinisiatif untuk membuat tampilan pasar yang saat ini menampung 45 pedagang tersebut lebih menarik.

Tujuannya juga sederhana, sugeng menuturkan, jika kondisi pasar bersih dan menarik, maka akan semakin menarik minat pembeli. target akhirnya adalah peningkatan pendapatan para pedagang yang muaranya meningkatkan kesejahteraan mereka. "akhirnya kami sepakat untuk membuat pasar warna-warni," katanya.

Selain itu, kata dia, jika tidak ada kreasi dari pemangku kebijakan, maka para pedagang yang berjualan di pasar tradisional akan kalah bersaing dengan pasar maupun toko modern. apalagi, saat ini toko waralaba sudah masuk hingga ke pelosok desa. "tapi saya mewanti-wanti agar para pedagang menjaga kebersihan pasar. mereka mendukung, karena tujuannya memang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri," tandasnya. (mg-4/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 30 JUNI 2018

Rabu, 20 Maret 2019

ONIE SURYANTO, PEMBUAT PESAWAT MAINAN WHITE EAGLE TERBAIK

Tolak Pesanan India Karena takk mampu produksi Massal

Pendidikannya hanya lulusan SMA. Namun soal kedirgantaraan, pria yang tinggal di Desa Kemiri, Panti, memiliki keahlian yang didapatkannya secara otodidak. meski demikian, produknya mampu tembus ke pasar Internasional. seperti apa ?

RULLY EFENDI, Panti

Bahannya hanya terbuat dari styrofoam namun berkat tangan terampil Onie Suryanto, styrofoam yang umum disebut gabus, bisa dibuat mainan dirgantara berkelas. tak heran kemudian, mainan yang dibuat di Desa Kemiri, Panti, itu dipesan berbagai daerah hingga ke luar negeri.

Produk pesawat mainan Onie, memiliki kualitas yang tak diragukan. bahkan yang jenis White Eagle, sempat disebut sebagai pesawat terbang mainan terbaik di dunia. karena hanya punya Onia, penyangga pesawatnya yang bisa dinaik-turunkan.

"Dulu paling bagus buatan Tiongkok. tapi karena terbuat dari plastik, tidak bisa dinamis ini," terang bapak empat orang anak itu.

Berbagai perlombaan aerosport di sejumlah kota, pernah dia ikuti dengan produk buatan perdesaan tersebut. namun siapa yang menyangka, mainan.nya bisa mengguli produk Venezuela. bahkan sejak dua tahun lalu, mainannya sudah pernah dibeli penghobi mainan dirgantara di Eropa.

Tapi pemesan tak membeli banyak. bahkan awal tahun 2018, kenalannya di India, sempat memmesan seribu pesawat mainanya setiap bulannya. "tapi tidak kami sanggupi. karena masih belum bisa memproduksi masal," ujarnya.

Ketidakmampuannya itu, karena terkendala peralatan yang serba ala kadarnya. sementara pekerja, masih mengandalkan anak muda yang belum bekerja di kampungnya. "alat yang kami gunakan hanya cutter dan gunting biasa. gambar variasi pesawat pakai manual," tuturnya.

Sehari, Onie bersama Lima pekerjanya hanya mampu memproduksi 20 unit. tentu, kapasitas produksi sejumlah itu sangat kecil. padahal potensi dan permintaan pasar sangat besar. "tapi sekarang tidak lagi. kami mulai didampingi dosen Politeknik Negeri Jember," akunya.

Sementara Ahmad Robiul Awal Udin, salah seorang dosen pendamping Prodi Mesin Otomotif Poltek Jember, yang tahu persoalan Onie langsung membentuk tim pendampingan, supaya pesawat mainan White Eagle Made In Kemiri-Panti, ini mampu menjadi market leader di bidang usahanya. "mereka hanya butuh peralatan, yang sebenarnya juga sederhana," kata pria bergelar Magister Teknik tersebut.

Setelah diskusi dan mengkaji, ternyata Onie hanya membutuhkan alat sablon, alat pemotong kayu balsa dan styrofoam. "setelah kami dampingi, sekarang sudah bisa memproduksi 200 mainan setiap harinya," akunya bangga.

Bukan hanya Robiul dan para dosen Poltek yang tertarik, kemenristek Dikti juga ikut mensupport. bahkan, aktivitas usaha Onie mulai diikutkan program kemitraan masyarakat. "bukan hanya bisnis. apalagi sekedar jual mainan. sebab unsur edukasinya sangat kuat dan cocok untu anak SD hingga SMA dan penghobi," terangnya.

Selain itu, ada gengsi negara yang sangat potensial. terlebih, karena mainan yang dibuat dan dijual Onie, sudah tembus ke apsar Internasional. "ini UKM yang potensi ekspornya tinggi," imbuhnya.

Tak selesai mendampingi dan menyediakan alat fungsional, Robiul, juga ikut membantu promosi dan memasarkannya. meski dia juga harus menggandeng pegiat tko online ternama. "bukan sekadar pengabdian, support kemenristek Dikti sebagai tanda bahwa negara hadir," pungkasnya. (rul/hdi)

SUMBER : JP-RJ 29 JUNI 2018

Kamis, 07 Maret 2019

KREATIFITAS PETUGAS AGAR PEMILIH DATANG KE TPS

Berkostum Unik, hingga Sediakan Kopi Gratis

Pesta demokrasi yang digelar di jember kemarin memberikan cerita berbeda. selain perjuangan tim pemenangan, juga ada sejumlah TPS yang kreatif dalam memancing minat para calon pemilih untuk memberikan hak pilihnya menentukan kepala daerah Jawa Timur lima tahun ke depan.

JUMAI-RANGGA MAHARDIKA, Semboro

DI DUSUN Beteng RT 004/RW IV, Desa Sidomekar, Kec Semboro, ada TPS yang terlihat menarikk dan unik. bahkan kesan berbeda sudah terasa saat melintasi di gang beraspal. di pintu masuk TPS, terlihat beberapa tombak yang dipajang.

Begitu mendekati TPS, suasana jadul kian terasa TPS. di dalam TPS, terlihat dua payung raksasa yang dipasang di kanan kiri pintu.

Sementara di bagian luar tenda, ada foto dua calon gubernur dan wakil gubernur Jatim, serta daftar jumlah pemilih tetap (DPT) di papan beasar.

Di bagian depan TPS inilah, seorang petugas Limnas berjaga. Linmas ini bukan umumnya. dia malah macak seperti pengawal sebuah kerajaan di zaman kuno, lengkap dengan senjata tradisionalnya.

Sementara itu, di TPS yang dibuat dari terop ukuran 6x8 meter ini, terdapat sederet meja untuk meletakkan kertas surat suara dan daftar hadir pemilih yang datang.

Anggota Linmas langsung menyapa pemilih yang membawa surat penggilan untuk di tumpuk di meja paling ujung. selanjutnya, setelah surat suara di tumpuk, pemilih langsung diminta menunggu di kursi yang sudah disediakan.

Begitulah suasana 'jadoel' di TPS 14, Dusun Beteng RT 004 RW IV, Desa Sidomekar, Semboro kemarin.
Mereka memang menggunakan tema zaman kerajaan dalam pilkada kali ini. tentunya, pemandangan kostum nyeleneh ini juga membuat pemilih yang datang ke TPS menjadi tertawa dan terheran-heran.

"Kok sempat-sempatnya menggunakan kostum seperti film India Mahabrata," ujar salah seorang masyarakat yang memberikan hak pilihnya, kemarin.

Belum lagi, ditambah dengan keramahan petugas PPS yang ada di TPS 14. mereka selalu menyambut kedatangan pemilih dengan senyuman. sehingga, suasana menjadi lebih nyaman dan lebih akrab.

Mereka juga memberikan perlakuan istimewa untuk pemilih yang berusia lanjut, mereka langsung didampingi sambil dituntun. setelah melakukan pencolosan, pemilih diminta untuk mencelupkan salah satu jari ke petugas yang juga menggunakan kostum Mahabharata.

Bukan sekadar kostum, mereka juga menyediakan minuman gratis bagi pemilih. di sebuah pojok disediakan tiga termos berisi kopi dan teh hangat yang disiapkan untuk pemilih. "yang ingin ngopi silahkan memilih kopi. kalau mau teh juga boleh," ucap Agus Sukarno, kepala Dusun (Kasun) Beteng yang rumahnya di tempati TPS dengan kostum unik ini.

Agus mengatakan, pihaknya memang sengaja melakukan aksi ini. hal ini untuk menarik minat warga untuk bisa hadir ke TPS, guna menentukan pilihannya daam pilgub kali ini. kostum yang digunakan ini memang bertema kolosal kerajaan.

Pihaknya mengaku terinspirasi dari cerita Mahabharata. "tujuan dari kostum unik ini selain untuk merangsang warga di TPS, juga ikut melestarikan budaya bangsa, " ujarnya.

Sementara ketua KPPS TPS 14, Nunuk Marbuah menambahkan, jika kostum ini sengaja dilakukan pihaknya yakni unutuk mendukung Desa Sidomekar. "Desa Sidomekar ini juga sedang menggalakan atau menggiatkan menjadikan desa inimenjadi desa wisata," jelasnya.

Sementara itu, Sugeng Priyadi, Kades Sidomekar mengatakan, ini  merupakan salah satu upaya dari warga, terutama petugas KPPS dalam rangka meningkatkan hak pilihnya dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

"ini hanya untuk menarik simpati agar warga yang mempunyai hak pilih bisa hadir ke TPS," terangnya.

Dia menjelaskan, ini merupakan pakaian tradisional yang biasa di gunakan dalam film Mahabharata. namun, untuk mendapatkannya tidak sulit bagi warga sekitar. "kostum ini memang sudah dimiliki warga Sidomekar, dan dibikin sendiri," pungkasnya. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 28 JUNI 2018

Minggu, 03 Maret 2019

DI BALIK KEMENANGAN JEMBER MARCHING BAND (JMB) DALAM WGI FILIPINA

Repot, Wira-wiri Bawa Bass Drum Seberat 21 Kilogram

Sepintas, melihat anak-anak yang bermain alat musik marching band terlihat mudah. padahal, ada alat (bass drum) yang beratnya 21 kilogram. peserta JMB harus membawa semua alat berat ini, dari Jember ke Filipina.

BAGUS SUPRIADI, Manila

RABU, 20 Desember lalu, peserta JMB berangkat dari kantor Pembakab Jember menuju bandara internasional I Ngurah Rai Denpasar, Bali, sudah menanti. rupanya, mereka membawa semua alat musik JMB. Mulai dari lima buah marimba, lima bass drum, sbare drum, simbal, vibra, danlainnya.

Penuh, satu truk besar berisi semua alat musik JMB yang sudah dikemas dengan kardus. peserta JMB tak langsung chek in lalu naik pesawat. namun, mereka harus rempong dulu saat mengangkut semua alat musik ke bagasi bandara. Tak mudah, membutuhkan waktu sejam lebih.

Mereka menaikkan barang ini ke troli. hampir semua troli di depan bandara terpakai untuk mengangkut barang ini. masuk bandara, alat musik itu harus dicek menggunakan x-ray, sehingga harus diturunkan lagi, lalu dinaikkan lagi ke troli.

Urusan masih belum selesai, peserta JMB harus mengantre. mereka mengular ke belakang memenuhi antrean. sekitar 47 orang dari tim JMB membawa kardus dengan ukuran besar. petugas bandara panasaran isi yang dibawa. setelah diberi pemahaman bahwa itu alat musik untuk ikut kompetisi di filipina, mereka baru paham.

Tim JMB tiba di bandara internasional Ngurah Rai sekitar pukul 22.00 WITA. mereka selesai memasukkan alat musik ke  bagasi sekitar pukul 23.30. setelah itu, berangkat menuju Bandara Ninoy Aquino, Manila, Filipina dengan waktu perjalanan empat jam.Kamis pagi tiba, mereka tyak langsung ke hotel.

Sebab, anak-anak harus 'diruwetkan' untuk mengambil semua alat musik di bagasi, lalu menaikkannya ke truk yang telah disediakan panitia Bacoor internasional Music Championship 2018. satu anak bisa mengangkut tiga kardus besar ke truk.

Mereka harus jeli, tidak boleh ada yang ketinggalan. CEO JMB Tri Basuki mengawasi langsung agar barang-barangnya tidak ada yang tertinggal. setelah semua dipastikan aman, baru berangkat menuju hotel The Herritage di Filipina.

Tak selesai di situ, mereka masih disibukkan denan urusan alat musik. mereka kembali mengangkutnya ke hotel, membuka kardus dan merangkai semua alat musik itu. sayangnya, hotel belum siap dan peserta tidak bisa langsung masuk kamar. namun, harus menunggu sekitar empat jam.

Beberapa dari mereka sudah lelah, ada yang tidur di kursi sambil menunggu bisa chek in kamar. ketika mendapatkan kunci kamar hotel, ternyata tak langsung istirahat dengan tenang. sebab, siangnya harus menggelar latihan di Kota Bacoor.

Lagi-lagi, mereka kembali harus sibuk dengan membawa alat musik ke tempat latihan. bahkan, harus menunggu lama karena truk pengangkut alat musik tidak cukup dan lama sekali datangnya. jadwal latihan pukul 14.00, molor hingga pukul 16.00.

Di GOR itu mereka latihan seperti yang dilakukan di GOR PKPSO Jember hingga malam, sekitar pukul 20.00. jumat pagi (22/6), usai pembukaan, mereka kembali menggelar latihan. alat musik yang dibawa tetap menjadi hal utama dan dibongkar pasang.

Tempat latihan kedua ini cukup mengecewakan. sebab, lokasinya merupakan tempat parkir kendaraan yang cukup luas. peserta juga harus membersihkannya karena ada beberapa genangan air. semua latihan itu dilalui oelh peserta agar mampu memberikan yang terbaik.

Sabtu (23/6), ketika perlombaan dimulai, mereka berangkat sekitar pukul 08.00 pagi, sayangnya, geladi bersih yang dijadwalkan pukul 12.10, kembali molor. "panitia kurang sigap, kami dibawa berputar ke mana-mana," ucap Tri Basuki.

Dia sedikit kecewa dengan pelayanan yang diberikan oelh panitia. latihan yang cukup keras membuat dua pemain JMB sempat drop, yakni pemain snare drum, Ikhsan dan Kamalina. namun, dua anak itu tidak menyerah, tetap berusaha keras. "Ikhsan saat latihan sempat mabuk, Kamalia dan Arkhan sempat sesak napas saat uji lapangan karena kedinginan," jelas Hadrawi, ketua umum JMB.

Saat hendak masuk final. mereka memanfaatkan luar arena untuk latihan semaksimal mungkin. ketika hendak masuk dalam perlombaan, semua alat musik harus siap. bila waktunya sudah tiba, mereka harus segera membawa alat ke arena untuk ditata.

Tak hanya kerepotan membawa alat-alat musik, peserta JMB juga harus membawa beban yang cukup berat. misal, Daniel Wahyu, pemain bass drum lima harus memainkan alat dengan berat 21 kilogram. "itu beratnya 21 kiloogram," akunya.

Bass srum empat seberat 20 kilogram, bass drum satu delapan kilogram. kemudian simbal 3 kilogram, snare drum sembilan kilogram. "total ada sekiat 30 alat musik marching band yang dibawa," tambah komandan JMB Fritzy Nur Adly.

Fritzy mengaku, alat musik itu memang berat. namun, ketika sudah dimainkan terasa ringan. sebab, ketika melihat penonton, semua beban itu hilang. justru semakin semangat untuk menabuh alat musiknya. "fisik memnag capek, tetapi hilang ketika jiwa seni muncul saat bermain," terangnya. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 27 JUNI 2018

Rabu, 27 Februari 2019

KIPRAH HENDRY PUJI, PELATIH SINDO DHARAKA JEMBER

Setia meski Kondisi Kembang Kempis di Putaran Kedua

Di liga 3 musim ini, pecinta sepak bola Jember dikejutkan oleh kehadiran Sindo Dharaka FC. Baru terbentuk beberapa minggu sebelum kompetisi, tim debutan ini mampu menduduki peringkat pertama di klasemen putaran pertama. Hendry Puji, pelatih asal Tanggul menjadi sosok baliknya.

ADI FAIZIN, Patrang.

BARU terebntuk, langsung menghentak. gambaran itu barangkali tepat untuk disandingkan bagi Sindo Dharaka FC, klub yang bermain di Liga 3 Zona Jawa Timur. secara kebetulan, Sindo Dharaka berada di Grup G, bersama tim sekolahnya, Persid Jember.

Meski baru seumur jagung, prestasi Sindo Dharaka FC sepanjang babak penyisihan grup putaran pertama kemarin, mengundang decak kagum publik Jember.

Dan salah satu sosok di balik gebrakan tersebut tak lain adalah Hendry Puji.

"Sebagai putra asli Jember saya terpanggil untuk mewadahi bibit-bibit pemain potensial yang belum tertampung di Persid Jember," tutur pelatih asal Tanggul tersebut. Hendry memang tidak sekadar menjadi pelatih kepala. dia juga turut terlibat dalam pembentukan klub.

Yang juga tidak kalah menarik, Sindo Dharaka baru terbentuk beberapa minggu menjelang dimulainya kompetisi liga 3. "kira-kira kurang satu bulan sebelum batas akhir pendaftaran dan dimulainya kompetisi," ungkap pria yang juga pernah memperkuat persebaya ini.

Sepak bola memang sudah mendarah daging dalam jiwa Hendry Puji. maklum saja, dia dibesarkan dalam keluarga pesepak bola. sang ayah, (alm) Tumiran dikenal publik Jember sebagai pendiri dan pemilik klub sepak bola Indonesia Muda (IM) Tanggul. sebagai salah satu klub  internal, IM Tanggul selama bertahun-tahun menjadi salah satu "pemasok" utama pemain andalan untuk Persid Jember.

"istilahnya saya ini belajar sepak bola dari bayi," ujar pria kelahiran 3 September 1978 ini. belajar dasar-dasar bermain sepak bola di IM Tanggul sejak kecil, Hendry lantas bergabung ke Persid Junior saat  berusia 16 tahun. "saat itu, selama dua musim, saya dilatih oleh (alm) Pak Masrukkin dan Pak Santoso Pribadi," tutur alumnus SMAN 2 Tanggul ini.

Hendry lantas melanjutkan karier pesepak bolanya dengan singgah diPersid senior selama satu musim dan tim sepak bola Unmuh Jember. perjalanannya kemudian berlanjut ke Suryanaga Surabaya selama 4 tahun. dari sinilah, karier Hendry kian bersinar.

Tidak hanya dipercaya sebagai kapten, Hendry juga sempat merasakan manisnya juara internal persebaya bersama Suryanaga. dari situ, Hendry kemudian dipercaya untuk memperkuat persebaya selama satu musim, hingga kemudian pindah ke Petrokimia Putra Gresik dan Deltras Sidoarjo.

"ini masa yang cukup berkesan, karena di persebaya saya bertemu pemain top seperti Bejo Sugiantoro dan Mursyid Efendi. selain itu, di Petrokimia saya juga bersama dengan Widodo C. Putro. di Deltras juga dilatih oleh Rudy Keltjes," kenang Hendry.

Rudy Keltjes saat ini menjadi Direktur Teknik Persid jember, mendampingi putranya yang menjadi pelatih kepala. adapun Widodo Cahyono Putro sempat dipercaya mendampingi Alfred Riedl melatih timnas.
Karier pesepak bola Hendry lalu berlanjut ke beberapa tim divisi 1 dan 2 pada masa itu. seperti persebo bojonegoro, Gresik United hingga akhirnya terhenti di Persid Solo. Usai mengantar persis Solo promosi ke Divisi Utama, Hendry mengalami cedera parah pada tahun 2008 yang membuatnya gantung sepatu sebagai pemain.

Dari tahun 2008 pula, Hendry kembali ke Suryanaga untuk belajar ilmu kepelatihan. Suryanaga, bagi Hendry memiliki arti penting dalam kariernya, baik sebagai pesepak bola maupun pelatih. "salah satunya adalah filosofi permainan yang menekankan jarak. saya ambil filosofi itu dari ajarannya pak Michael Sanjaya (owner Suryanaga,Red)." beber Hendry.

Strategi itu, menurut Hendry banyak efektif diterapkan oleh sepak bola spanyol. yakni memperpendek jarak dan mengandalkan sentuhan. dan saat diterapkan ke Sindo Dharaka, terbukti strategi itu cukup ampuh.

Di Suryanaga, Hendry mula-mula dipercaya menjadi asisten pelatih bagi Gomes Oliviera. dia bertandem dengan Fabio Oliviera yang menjadi asisten pelatih bidang analis pertandingan. "mereka berdua di musim lalu dipercaya melatih Madura United. terakhir, habisj lebaran saya kontak Fabio, dia dipercaya melatih tim di Korea Selatan. masih sering kontak saya," tutur Hendry.

Malang melintang di berbagai kota, tak membuat hendry lupa akan kampung halamannya. awal tahun ini, dia pulang ke Jember setelah mendapat lisensi kepelatihan C-AFC. Bisa dibilang, hendry menjadi orang jember lisensi level tersebut. "saya kebetulan dibantu rekomendasi dari pak Suhaimi, pegiat sepak bola dari kalisat," ungkap Hendry.

Dengan mengantongi lisensi pelatih C-AFC, Hendry memenuhi syarat menjadi pelatih untuk tim yang bermain di liga 3, sesuai regulasi yang ditetapkan oleh PSSI. karena itu, Hendry lantas diajak kawannya untuk membentuk tim baru.

"Kebetulan ada klub Samudera Indonesia (Sindo) yang selama dua musim terakhir ini vakum tidak ikut kompetisi. lalu juga ada tawaran dari Brigif9 Kostrad Jember yang mau memfasilitasi. jadi ya sudah kita merger saja tim ini," tutur Hendry.

Dengan persiapan yang serba minim, terbentuklah Sindo Dharaka FC Jember yang terdaftar di Liga 3 PSSI Zona Jawa Timur. dukungan dari pihak militer antara lain peminjaman lapangan dan personel. dari total 27 pemain Sindo Dharaka, 8 diantaranya merupakan prajurit aktif anggota Brigif 9.

"beberapa prajurit yang punya potensi bermain sepak bola, namun tidak tertampung di PSAD (klub sepak bola TNI AD), kita tampung di sini," lanjut Hendry.

Selain itu, Hendry juga menampung beberapa pemain Jember yang tidak lolos seleksi masuk Persid. bahkan Dwika Bhaskara, pemain yang dicoret dari Persid usai putaran pertama, kini juga bergabung ke Sindo Dharaka. "saya memang tergerak sebagai orang jember, untuk mewadahi pemain-pemain yang terbuang," ungkap Hendry.

Menggunakan pemain-pemain "buangan", Hendry memang harus memeras otak secara ektra,, untuk meracik strategi yang jitu. apalagi, Sindo Dharaka terbilang yang "miskin" pendanaan karena nyaris tanpa sponsor. "kami pelatih dan pemain, tidak dapat gaji. untuk latihan dan bertanding saja, kita bontot makanan sendiri," tutur Hendry.

Beberapa pemain Sindo Dharaka yang berasal dari kalangan sipil, juga masih aktif bekerja selama pertandingan. karena itu, Hendry memaklumi jika setiap latihan, jumlah pemain yang datang tidak sampai separuh. "saya sebagai pelatih harus punya treatment khusus untuk menyiasati kondisi yang serba terbatas ini. makanya formasi bermain Sindo Dharaka tidak pernah paten, karena pemainnya juga tidak utuh," beber Hendry.

Toh, dengan kondisi yang serba terbatas, Hendry mampu membuka mata pecinta sepak bola Jember untuk melirik Sindo Dharaka. ini misalnya terlihat dalam beberapa pertandingan terakhir Sindo Dharaka di putaran pertama kemarin, mulai banyak diminati suporter. ini sering juga dengan raihan prestasi yang berhasil ditorehkan sindo dharaka.

Dari total 6 kali pertandingan yang sudah dijalani di putaran pertama, tidak sekalipun Sindo dharaka mengalami kekalahan. sindo dharaka hanya sekali seri, yakni saat Derby (duel tim sekota) kontra persid di stadion Jember Sport Garden (JSG) Ajung. dengan torehan tersebut, sindo mengoleksi 16 poin, dan kukuh di peringkat pertama klasemen Grup G hingga jeda kompetisi.

"Memang di putaran pertama kemarin, kita bermain tanpa beban. alhamdulillah hasilnya seperti ini," tuturnya merendah. meski demikian, Hendry sedikit pesimitis menatap putaran kedua, yang akan segera bergulir pada awal Juli 2018 ini. pasalnya, di saat tim lain memantapkan persiapan dengan menambah pemain dan porsi latihan, sindo justru sebaliknya.

"kita memang mempertahankan pemain sebagai penghargaan kepada mereka yang sudah bersedia bermain tanpa dibayar. tetapi memang untuk latihan, selama jeda kita nyaris tidak ada," ungkap Hendry. tidak adanya latihan menurut Hendry disebabkan keterbatasan dana.

Diakui Hendry, kondisi manajerial sindo saat ini kurang solid, ibarat anak tanpa orang tua. dengan tidak adanya dukungan dari manajemen, membuat Hendry sempat nyaris putus asa dan berniat mundur. "cuma saya kemarin dimotivasi oleh Fabio dari Korea Selatan. ya sudah saya lanjutkan saja tim ini, denagn kondisi seadanya. semoga nanti ada pihak yang peduli, karena niat kita di sindo dharaka, murni untuk pembinaan bibit-bibit pemain," pungkas Hendry. (ad/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 26 JUNI 2018

Rabu, 20 Februari 2019

CARA ANAK-ANAK MUDA BERBAGI KEPERDULIAN DI MASYARAKAT

Gelar Berbagai Kegiatan, Sumber Dana dari Donasi.

Anak-anak muda punya beragam cara untuk menunjukkan keperdulian mereka kepada masyarakat. salah satunya dengan bergabung dalam komunitas sosial. ada saja kegiatan-kegiatan yang digelar bersama komunitas tersebut.

LINTANG ANIS BENAK, JEMBER KOTA.

ANAK-anak dengan seragam yang berbeda dalam satu ruangan, berangkat ke sekolah dengan sandal jepit bahkan nyeker atau tak mengenakan alas kaki, sudah jadi pemandangan yang biasa di sekolah-sekolah pinggiran. ini seakan menjadi salah satu ciri khas tersendiri. tak terkecuali di SDN Jambearum 3 yang berada di Lereng Gunung Raung tersebut.

Tak hanya itu, jumlah siswa dan guru pun hampir tidak proposional. di SDN Jambearum 3 hanya memiliki dua guru honorer dan kepala sekolah untuk menangani 81 siswa. hal tersebut merupakan tantangan tersendiri.

Kurangnya staf pengajar ini juga membuat penyampaian ilmu menjadi kurang maksimal. dari 81 siswa, baru sebagian yang bisa baca tulis dan berhitung. beruntung semenjak beberapa waktu lalu dirinya mendapat bantuan dari relawan yang ikut mengajar di SDN Jambearum 3.

Melihat hal tersebut, sekelompok pemuda langsung tanggap dengan mengirimkan relawan pengajar ke sana. bahkan demi bisa maksimal membantu kegiatan belajar mengajar, para relawan ini rela menginap di sekolah  karena lokasinya yang jauh dan medannya yang cukup ekstrem di Lereng Gunung Raung.

Hanan Kukuh, koordinator relawan tersebut menuturkan para relawan ini berangkat setiap senin dan menginap hingga Rabu. "mereka membantu mengajar di sana," ujarnya.

Mengajar di tempat pelosok ini menjadi salah satu agenda komunitas yang belum lama ini digagas oleh sekelompok anak-anak muda. menurut Agung Ganong, relawan dari komunitas Grebeg Sedekah, setiap orang punya tanggung jawab moral dan sosial untuk bisa membantu di lingkungan sekitarnya. tidak hanya manusia, tetapi juga alam.

Banyak agenda lainnya yang menjadi kegiatan rutin Grebeg Sedekah, seperti donor darah dan donasi bencana alam. di bulan ramadhan, relawan Grebeg Sedekah juga memiliki banyak agenda seperti Grebeg Ramadhan dan belanja bareng anak yatim.

"jika biasanya kita ke panti asuhan dengan membawa parsel untuk anak-anak yatim piatu, kali ini kita ajak anak-anak untuk berbelanja jelang idul fitri. mereka memilih sendiri apa yang mereka inginkan, dengan budget tertentu dan didampingi relawan," paparnya.

Seluruh donasi dikumpulkan dari para donatur yang banyak menitipkan donasinya kepada relawan. jika ada donatur yang ingin menitipkan donasinya untuk kelompok khusus, maka relawan GS memastikan penyaluran donasi tersebut tepat sasaran. "misalnya kalau ada yang mau donasi untuk anak yatim piatu, ya kita sisihkan untuk diserahkan pada anak yatim piatu," ujarnya.

Tak ada jumlah anggota tetap di komunitas tersebut. cak oyong dan pendiri lainnya membuka kesempatan sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk bergabung, tanpa melalui proses seleksi. "karena itu tidak ada yang namanya anggota. segala elemen masyarakat bisa menjadi relawan, bahkan anak-anak sekalipun," tegasnya.

"pertama kali kita umumkan kegiatan Grebeg Sedekah melalui Twitter dengan hashtag #GrebegSedekah. kita melakukan bedah sekolah, dan mengajar anak-anak untuk  belajar sambil bermain," ujar Ganong yang juga menemani Cak Oyong.

Peran media sosial ini menjadi sangat penting dalam pengumpulan dan penyaluran donasi. tak jarang banyak orang yang memberi informasi mengenai keberadaan kaum duafa yang membutuhkan bantuan di pelosok desa. "kadang ada orang yang mention kita, bisa nggak Grebeg Sedekah bantu di sini," lanjutnya. (ras)

SUMBER : JP-RJ 25 JUNI 2018

Senin, 18 Februari 2019

JIMLY ASHARY, RAIH BERBAGAI PRESTASI KALIGRAFI

Juara Asean Hingga Diminta Buat Hiasan Mushaf di Malaysia.

Kaligrafi sudah menjadi bagian yang tidak terpisah dari santri Ponpes Darussholah ini. Ketekunan dan kesabaran mengantarkannya berprestasi hingga tingkat internasional. karyanya kerap lolos dalam berbagai pameran.

BAGUS SUPRIADI, Jember Kota.

PRIA berkacamata itu sudah menekuni ilmu kaligrafi sejak masih menjadi pelajar. Di pesantren, dia memilih mengembangkan kemampuan seni Islam. butuh waktu panjang untuk menjadi mahir di bidang kaligrafi.

Sekarang santri yang akrab disapa Jimly ini sudah menebarkan ilmunya pada santri yang lain. terbaru, karya muridnya berhasil lolos dalam ajang pameran kaligrafi di Museum Aharjah Dubai. "beberapa bulan lalu saya diminta buat tulisan mushaf di Malaysia," katanya.

Jimly jug asudah memiliki murid ditingkat nasional dan internasional. cara belajarnya secara offline dan online.
"saya sempat meraih juara lima lomba IRCICA DI Turki tahun lalu," akunya.

Juara di tingkat lokal seperti juara tiga MTQ nasional mahasiswa di UI Jakarta, juara satu kaligrafi dalam Festifal arlobi di Malang. bahkan, pada 2017 lalu, Jimly mampu meraih juara harapan dua khat naskhi di festival kaligrafi Asean di Jombang. prestasi tersebut bukan hal yang baru. sebab, sudah meraih puluhan prestasi di bidang kaligrafi. "sampai lupa ada beberapa prestasi," tutur pria kelahiran 6 Juni 1993 tersebut.

Dalam belajar kaligrafi, Jimly patut menjadi teladan. ketelitiannya dalam mengukir huruf membuat karya-karyanya terlihat indah. baginya, belajar kaligrafi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "butuh keuletan dan kesabaran agar bisa menguasainya," tegasnya.

Jimly bercerita, awal proses hingga di tingkat internasional berawal saat dirinya belajar pada seniman dan kaligrafer asal Malang, yakni ustaz Bambang. "Ilmu dari beliau saya bisa ikut pameran ke Algeria," akunya alumni IKIP PGRI Jember tersebut.

Setelah itu, lanjut dia, belajar ke beberapa guru lainnya dari luar negeri. yakni Ustzaz Belaid Hamidi dari Maroko dan ustaz Ehab Thabet Ibrahem dari Palestina. 'semua ilmu dari mereka saya dapatkan dari pembelajaran online," tuturnya.

Jimly belajar pada ustaz Ehab Ibrahem Thablet Palestina sudah mencapai waktu 5 tahun. sampai sekarang proses pembelajaran masih tetap tetap berlangsung. karena belajar tidak boleh berhenti meskipun sudah bias, harus tetap diasah.

Putra dari Suprapto dan Susilatin tersebut juga belajar pada ustaz Ehab Ibrahem. padahal, tak mudah untuk menjadi muridnya. namun Jimly merasa bersyukur bisa menjadi murid ustaz asal Palestina tersebut. "Ini rezeki saya, tak banyak yang dijadikan oleh murid neliau," ujarnya.

Jimly menambahkan dalam belajar kaligrafi, perlu memahami bentuk tiap huruf sehingga memerlukan kesabaran yang extra dobel. namun, ketika sudah memahaminya, belajar kaligrafi tidak akan mudah untuk dilepaskan. karena mengetahui seluk beluk rahasia, bentuk dan goresan kaligrafi.

"Setiap huruf memiliki rahasia yang berbeda-beda. rahasia itu akan diketahui jika belajar kaligrafi pada ahlinya," jelasnya.

Menurut dia, menulis kaligrafi sama denagn kegiatan seni lainnya. membutuhkan inspirasi agar bisa dituangkan dalam bentuk karya. membutuhkan pikiran yang segar. ketika inspirasi itu datang, maka harus segera dituangkanke atas agar ide itu tidak hilang.

Ide kadang muncul ketika melihat sesuatu yang indah, unik dan lucu, bahkan juga datang ketika mendengarkan ayat suci Alqur an atau hadist. "kadang juga dari pepatah atau syair arab yang memiliki makna bagus," ucapnya.

Sukses dalam meraih prestasi, Jimly membagikan tips belajar kaligrafi. pertama, harus sabar. karena belajar kaligrafi bukan hanya belajar tentang estetika atau keindahan saja. tetapi juga belajar melatih kesabaran yang sesungguhnya. "ketika belajar Alif, harus benar-benar lurus sesuai dengan contoh yang sudah paten," akunya.

Kedua, harus berani mencoba meskipun berulang kali salah. bisa menulis kaligrafi karena terbiasa. ketiga harus istiqomah dan disiplin. "tantangan hanya melawan kamalasan," imbuhnya. malas sering menghampiri saat mood dalam berlatih mulai melemah.

Cara mengatasinya, kata dia, dengan menyegarkan kembali ide-ide untuk berkarya, misal melihat karya-karya kaligrafi para master. "sehingga muncul motivasi baru untuk terus berkarya," tandasnya. (gus/hdi)

SUMBER : JP-RJ 24 JUNI 2018

Selasa, 12 Februari 2019

M. DYO HENDIKA SAPUTRA, BOCAH BONDOWOSO JUARA INTERNASIONAL

Terkendala Akomodasi, Bulan Ini ke Malaysia.

Berprestasi tidak harus menunggu dewasa. seperti yang dilakukan oleh M. Dyo Hendika Saputra, putra asli Kecamatan Tenggarang Bondowoso yang berhasil meraih prestasi tingkat nasional bahkan internasional. prestasi ini diraih berkat kelihaiannya mengendalikan push bike alias mendorong sepeda tanpa pedal sepeda.

RANGGA MAHARDIKA, Jember.

KEJUARAAN nasional sepeda motor dan sepeda yang diadakan di Sevendream City, Baratan Patrang saat bulan puasa kemarin terlihat cukup sengit. meskipun sedang puasa namun kejuaraan yang digelar untuk memeriahkan road show Asean Games 2018 yang digelar oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga ini cukup meriah. baik itu level sepeda maupun sepeda motor.

Namun diantara puluhan pembalap itu, ada satu sosok yang banyak menarik perhatian bagi pengunjung dan pembalap lain. sosok ini cukup mungil, namun terlihat lincah memainkan sepeda miliknya. tetapi sepeda ini tidak dikayuh melainkan didorong dulu baru kemudian dikendarai.

Bahkan, beberapa kali anak kecil yang membawa sepeda ini membuat penonton dibuat senam jantung. bagaimana tidak, diirnya atraksi dengan menaikkan satu kaki di atas jok, sedangkan kaki satunya horizontal mendatar sejajar dengan tubuhnya. dia beberapa kali membuat penonton bertepuk tangan diatas atraksinya itu.

Dialah M. Dyo Hendika Saputra. bocahasli Desa Koncer kidul Kecamatan Tenggarang, Bondowoso. usianya baru empat tahun.

"Tanggal 23 Juni nanti ini baru Lima Tahun," ucap Hendro Widodo , ayah Dyo saat mendampingi anaknya ke Jember. di usianya yang masih anak-anak ini, ternyata sudah banyak prestasi yang diraih oleh Dyo.

Sejak setahun lalu, Dyo meraih prestasi yang gemilang. mulai dari Mei 2017, di Sleman Jogja dirinya menjadi juara 3 tingkat nasional untuk kategori usia 4 tahun. Juni 2017. "itu padahal kejuaraan perdana yang diikuti," jelas Hendro. Dyo pun kembali meraih juara yakni dalam even internasional di Bali yakni saat mengikuti Event Strider Cup Bali.
Kemudian di bulan September 2017 di Jakarta. dirinya menjadi juara 3 dari kategori yang sama. "Puncaknya pada Oktober 2017 ikut even di Malaysia. Dyo berhasil menjadi juara 1 kategori 4 tahun," jelasnya. selain juara-juara tadi, cukup banyak kejuaraan lain yang mengantarkan putra kedua pasangan Hendro dan Rofika ini meraih banyak penghargaan. tentu prestasi ini sangat membanggakan bagi dirinya.
Padahal, dirinya pertama menemukan bakat sang anak ini dengan tidak sengaja. dimana saat itu, anak keduanya ini bermain dengan kakaknya Sulton. mereka sedang bermain mobil-mobilan yang didorong," terangnya. kemudian Dyo ini kok sudah bisa.

Akhirnya dicoba dengan menggunakan sepeda push bike tanpa pedal ini. bahkan, saat berlatih awal ini tanpa menggunakan roda bantuan kecil layaknya sepeda anak-anak lainnya. ternyata sang anak tanpa ada yang mengajari bisa sendiri. "memang kalalu untuk internasional, sebelum lima tahun hanya boleh push bike ini," jelasnya.

Jika memang sudah bisa push bike, maka akan mudah untuk mengendarai sepeda yang memiliki pedal. "karena kan kuncinya keseimbangan," jelasnya.

Dengan demikian, anaknya berarti akan mudah untuk berlatih sepeda biasa. akhirnya dirinya pun melihat potensi yang ada pada anaknya itu dan diajak untuk bermain di sejumlah kejuaraan itu.

Meskipun untuk berangkat ke sejumlah daerah dirinya mengakui jika banyak kendala. utamanya untuk akomodasi yang selama ini masih menggunakan dana pribadi. dirinya mengakui memang juga ada bantuan dari pemerintah daerah setempat namun tidak bisa mencukupi semua kebutuhan selama kejuaraan.
"Ya kalau sudah kejuaraan, sehari semalam minimal habis Rp 1,5 juta," tuturnya. padahal, untuk kejuaraan bisa sampai seminggu. belum lagi ditambah dengan transportasinya.

Bahkan dirinya masih ingat kenangan ketika ikut kejuaraan ke Malaysia. diaman saat itu hanya dengan bermodal uang Rp 6 juta, dirinya tetap nekad berangkat bersama sang anak. "Ya sangat menipis. akhirnya untuk menginap tidak di hotel," terangnya. dirinya pun mencari kenala Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia dan nunut menginap di sana.

Ternyata, Dyo berhasil meraih prestasi gemilang, keberhasilan demi keberhasilan inilah yang kemudian melecutkan semangatnya untuk terus mengembangkan bakat sang anak ini. "30 Juni 2018 ini mau berangkat lagi ke Malaysia. ikut kejuaraan even strider cup. doakan ya bisa menang lagi," tuturnya.

Dyo yang masih duduk di bangku TK Nurul Hidayah, Desa Koncer ini pun terlihat santai saat hendak diwawancara. dirinya pun sepertinya sudah terbiasa dengan kamera sejumlah warga yang gemas dan ingin memfoto dirinya. bocah kecil dengan prestasi gemilang inipun mengaku senang dengan bersepeda.

"Senang, senang balapan,"ucapnya. dia pun ingin terus membalap. apalagi, Dyo memiliki cita-cita yang mulia yakni menjadi tentara jika besar nanti.(ram/hdi)

SUMBER ; JP-RJ 23 JUNI 2018

Senin, 11 Februari 2019

MENENGOK KEBERHASILAN PELAJAR JEMBER YANG BERPRESTASI HINGGA KE AUSTRALIA

Mengkaji Sistem Lalu Lintas di Depan SMPN 2 Jember

Tak ada yang tidak mungkin, jika semuanya digarap serius. Meski tinggal dan belajar di Jember, dua pelajar bersama seorang gurunya, bisa tembus memenangkan kompetisi yang digelar pemerintah Australia. seperti apa ?

RULLY EFENDI, Jember Kota.

TIGA medali emas menjadi milik dua siswa dan seorang guru SMAN 1 Jember. membanggakan. karena medali tersebut diberikan oleh kedutaan besar Australia di Jakarta. semakin membanggakan, karena ketiganya bakal dikirim ke Australia, sebagai perwakilan Indonesia.

Pelajar membanggakan itu, Firman Syauqi Maulana Habaib, Firdaus Y. Bahtiar dan guru pendamping keduanya, Heri Tri Susanto. Ketiganya, dipastikan akan terbang ke Australia pada medio Juli 2018 mendatang. mereka, bakal mengikuti short course tentang STEM di Queensland University of Technology (QUT) di Brisbance Australia selama 7 hari.

Keberangkatan ketiganya bagian hadiah, karena sudah meraih juara Science, Technology, Engineering yang menarik, mereka memilih tema: "lalu lintas aman melalui storene berhenti sebelum lini".

Sejatinya, tema tersebut pernah diusung Syauqi seorang diri, saat mengikuti perlombaan pelajar pelopor keselamatan lalu lintas yang digelar Kementrian Perhubungan (Kemenhub).

Ya, saat itu Syauqi juga meraih juara. se-Indonesia. sehingga, gagasan Dinas Perhubungan (Dishub) tentang produk storene yang ada di persimpangan SMPN 2 Jember, sampai jadi perbincangan nasional. semua, tentu karena prestasi anak muda yang lahir 18 september 2000 tersebut.

Storene, tak lain akronim dari stop Before The Line. sebuah alat yang biasanya dipasang di persimpangan jalan. tujuannya, tentu untuk mengurangi pelanggar lalu lintas di traffic light. "ketika traffic light berwarna merah, sensor ultrasonik akan aktif," terang Syauqi.

Sensor ultrasonik memiliki fungsi untuk mengirimkan sinyal, bagi pengendara yang melewati stop line. sinyal itu akan memunculkan bunyi peringatan dari traffic voice. "alat ini hanya akan aktif jika traffic menyala," tuturnya.

Selain sensor ultrasonik yang dipasang pada delinator, membuatnya jug abutuh sensor LDR pada red lamp box. untuk memunculkan bunyi peringatan kedua kompenen itu juga butuh tambahan traffic voice. "Alhamdulillah, gagasan ini juga diterima baik tim Austrade Jakarta," katanya.

Pada kompetisi Science Your Future Competition (SYFC), tim SMAN 1 Jember mengirim vidio berdurasi 90 detik dan essay, yang terdiri dari 500 kata yang tentunya, berkaitan dengan STEM,mereka, dinilai paling solutif menjawab tantangan yang ada di Indonesia. terutama soal lalu lintas dan kecelakaan di jalan raya.

Kemenangan anak muda Jember tersebut, hasil dari sebuah perjuangan panjang. betapa tidak, sedikitnya ada 90 tim dari beberapa daerah di Indonesia,yang harus mereka ungguli dengan karya nyata. "kami bangga karena jurinya sangat profesional. mereka para profesor Australiaan Technology Network," akunya.

Dalam kesempatan short course di Australia nanti, tim SMAN 1 Jember juga diberi kesempatan mempresentasikan produk di hadapan civitas QUT di Brisbance, Australia. harapannya, produk Storene yang jadi gagasan bisa diaplikasikan dan dikembangkan di seluruh dunia. sebab dengan demikian,nama Jember juga akan terdongkrak hingga berbagai negara.

Ketiganya membuktikan bahwa anak Jember juga bisa berprestasi hingga ke luar negeri. Tentu, semuanya diraih hasil dari kerja keras da semangat optimisme yang tinggi. "kami ingin membuktikan, pelajar Jember juga bisa disegani," pungkasnya. (rul/hdi)

SUMBER : JP-RJ 21 JUNI 2018

Kamis, 07 Februari 2019

LINDUNGI SATWA, DANDY UBAH KULIT KAMBING JADI MACAN

Mulai Harimau, Panther, Macan Tutul, dan Sebentar Lagi Ada Luwak

Kreativitas bidang kerajinan terus saja ada, seperti Dandy yang mempu menyulap kulit kambing jadi macan. bahkan jadi mirip macan Sungguhan.

WAWAN DWI SISWANTO, Jember Kota.

PENGUNJUNG Cafe Gumitir tiba-tiba kaget dengan kehadiran macan. Hewan buas ini tidak hanya satu saja, ada sekitar 7-10 ekor. wow pasti bikin merinding karena takut diterkam. ada macam warna hitam atau disebut panther, harimau, macan tutul, macan putih, dan singa.

Tenang saja hewan buas itu hanya duplikat, bukan macan sungguhan karena itu bukan macan sungguhan, masyarakat tetap bikin merinding saat menyentuh hewan mamalia tersebut. ya hewan itu sungguh mirip, bahkan seperti harimau yang telah dikeringkan atau diawetkan.

Bagi pecinta satwa khususnya hewan-hewan yang dilindungi, macan hasil kreasi Dandy ini tidak menyalahi aturan, dan tidak membumuh hewan dilindungi untuk membuat macan-macanan tersebut.
"Khulitnya kulit asli, tapi bukan kulit macan sungguhan. kulitnya ini dari kulit kambing, untuk kumis harimau itu dari bulu ayam, sementara mata dan giginya itu sintesis," terang Dandy.

Pria dengan nama lengkap Muhammad Dandy itu mengatakan, kegiatan membuat tiruan harimau  tersebut bukan untuk bisnis semata saja. tapi juga untuk kampanyekan hewan ynag dilindungi.

Hewan yang dilindungi dan sering dijadikan buruan adalah satwa kucing besar atau harimau dan sejenisnya. apalagi, keberadaan sekarang tinggal sedikit. sebagai orang Jawa, Dandy merasa sedih harimau jawa itu tidak ada lagi dan bisa dikatakan punah. "harimau ini sering diburu, diambil kulitnya, diambil kepalanya, kukunya, taringnya, hingga kumisnya," tambahnya.

Berangkat dari sana, pria 62 tahun itu, mulai meramu kulit kambing dicat sedemikian rupa agar mirip kulit harimau.Pemilihan kulit kambing ini karena ada bulu tipis seperti harimau. sedangkan kulit sapi tidak bisa diaplikasikan, sebab kulit dan bulunya terlalu tipis. pekerjaan pengecatan kulit kambing diubah motif harimau, menurut Dandy, harus teliti, termasuk detail bagian penggungnya.

Untuk badannya, kata dia, fiber karbon dan fiber zinc white untuk bagian detail. hingga saat ini 18 jenis harimau ynag dibuat olehnya. diantaranya leopard, tiger, puma, panther, jaguar, jaguar kutub, nebulosa, king ming, dan king jaguar.

Sementara untuk ukurannya agar terlihat nyata, dia mencari literatur seperti nyata, dia mencari literatur tentang hewan buas tersebut. "karena buat kulitnya saja butuh waktu dengan detail-detailnya. macan yang dibuat juga harus mirip," paparnya.

Dandy tak ingin hasil karyanya justru menjadi aneh karena ukuran tubuh dan gestur harimau berbeda dengan aslinya. "kalau bentuknya aneh, bisa jadi harimau itu buat lelucon. harimau kok lucu," tambahnya.
Dalam sebulan, pria yang suka mengenakan topi ini setidaknya membutuhkan 600 sampai 700 lembar kulit kambing ettawa khusus. sedangkan untuk tas kulit bermotof harimau, itu butuh sekitar 10 ton dalam sebulan. banyaknya kulit yang dipakai, karena saat ini banyak orang pesan. tidak hanya dari dalam negeri saja, tapi telah diminati daerah Timur Tengah dan Eropa.

Tembus ke pasar luar negeri, juga tidak semudah itu. ya hasil karyanya tersebut dikira barang ilegal karena mengira adalah harimau yang telah dikeringkan. "awalnya susah, tapi sekarang paham," imbuhnya. untuk membuat satu harimau setidaknya membutuhkan waktu 2 minggu.

Atas kelihaian Dandy membuat harimau dari kulit kambing, juga ada tawaran membuat luwak. dia pun tertantang, tapi dalam tujuannya. dia juga ada rasa edukasi ke masyarakat. "ya biar orang tahu, jangn memburu luwak. jika tidak ada luwak, maka tidak ada kopi luwak. apalagi kopi luwak ini identik dari indonesia," pungkasnya. (dwi/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 20 JUNI 2018

Rabu, 06 Februari 2019

LUCUNYA HADRAH CILIK TPA BUSTANUL ULUM BMP MANGLI

Langsung Tepar setelah Mainkan Delapan Lagu dalam Satu Acara

Jika umumnya grup musik hadrah terdiri dari sekelompok orang dewasa, tidak demikian dengan grup hadrah TPA Bustanul Ulum BMP Mangli. mereka terdiri dari sekelompok anak yang baru duduk di bangku SD. walau begitu mereka sama sekali tidak merasakan kesulitan ketika tampil di hadapan orang banyak.

LINTANG ANIS BENA K, Jember.

GELARAN acara buka puasa bersama yang juga dihadiri oleh Nyai Mutmainnah, beberapa hari lalu dihadiri tak kurang dari 50 warga sekitar serta anak-anak yatim piatu dan kaum duafa. sepanjang acara berlangsung, mereka ditemani alunan hadrah yang dimainkan sekelompok pemusik hadrah di atas panggung.

Namun uniknya, alih-alih dimainkan oleh orang dewasa, yang terlihat adalah anak-anak kecil yang berdiri memainkan rebana, tamborin, dan simbal. suara mereka tak kalah merdu, walau masih belum terlalu fasih,namanya juga anak-anak, kadang ada saat ketika mereka off-tune atau tak sesuai dengan melodi yang dimainkan pemusik lainnya.

Kelompok yang rata-rata duduk di bangku sekolah dasar ini merupakan santri di TPA Bustanul Ulum Mangli, tepatnya di perumahan Bumi Mangli Permai. pengelolanya sengaja mengajak anak-anak sekitar untuk berpartisipasi dalam tim hadrah tersebut. "tujuannya untuk melatih mental anak-anak, yang  penting mau untuk tampil," ujar Hidayati, salah satu pengasuh TPA.

Sejatinya kelompok musik hadrah ini sudah digerakan semenjak tahun 1990-an silam. selama ini musik tersebut diturunkan dari generasi ke generasi santri yang belajar di sana. "semua santri di TPA Bustanul Ulum diajarkan hadrah," imbuhnya.

Inisiasi munculnya kelompok musik hadrah anak-anak ini berawal ketika TPA ini mendapat lungsuran alat-alat hadrah dari grup yang tak lagi aktif. dengan kemampuan Hidayati yang memang mahir hadrah, dirinya mencoba mengajarkan hadrah kepada para santri. "pas anak-anak dilatih, kok mereka bisa, ya sudah dilanjutkan," lanjut Hidayati.

Cara mengajarkannya pun cukup menarik. setiap satu senior wajib mengajarkan satu alat musik hadrah kepada satu adik kelasnya. "santri yang kecil-kecil sudah terbiasa melihat kakak kelasnya main hadrah, jadi mereka juga tetap belajar. malah lebih mudah dari pada mengajarkan hadrah kepada orang dewasa," kata Lilik Masriati pengasuh lainnya.

Itulah sebabnya tradisi ini bisa bertahan hingga turun menurun. apalagi, hadrah bukanlah jenis musik yang umum. mereka harus belajar nada dan irama musik Timur Tengah yang sama sekali tidak mengandalkan not balok tersebut.

waktu berlatih pun fleksibel, tergantung kemauan anak-anak. normalnya mereka latihan setiap Jumat. "tapi kalu misalnya mereka banyak kegiatan, ya kita ngalahi cari hari lain," imbuh Lilik.

Karena masih berusia belia, banyak sekali pengalaman unik yang dialami. salah satunya ketika mereka harus tampil membawakan delapan buah lagu berturut-turut. "sampai anak-anak mengeluh, katanya tangannya merah semua. ya mau gimana lagi namanya juga anak-anak," seloroh hidayati.

Bahkan sesekali, ketika anak-anak enggan berlatih atau tampil di depan umum, Hidayati dan pengasuh lainnya harus memberikan iming-iming. "saya bilang, nanti kamu dikasih hadiah. meskipun sederhana seperti snack, mereka sudah seneng banget," imbuhnya.

Dari sisi perawatan alat pun Lilik dan pengasuh lainnya masih belum berpikir untuk menambah inventaris. hanya sekitar 15 alat saja yang mereka miliki. "kalau bilang pengen ya pengennya nambah satu set Al Banjari itu," imbuhnya semabri tertawa. "tapi harganya mahal, satu set bisa sampai 3 jutaan," lanjutnya.

Walau demikian Hidayati mengaku anak-anak sangat jarang mengeluh tentang kualitas alat musiknya. justru sebaliknya, mereka sangat antusias jika diajak tampil. "apalagi kalau sudah tampil di acara rutin kami, namanya pengajian cilik atau peci, mereka semangat sekali," kata wanita berhijab tersebut.

Bagi Hidayati, Lilik dan Mudrikah yang juga menjadi pelatih hadrah, kualitas yang dihasilkan bukanlah tujuan utamanya. mereka lebih ingin membentuk karakter anak-anak menjadi lebih percaya diri dan tidak minder, sehingga bisa digunakan ketika terjun di sekolah masing-masing.

"kalau sudah percaya diri, misalnya ada acara di sekolahnya mereka bisa 'dipakai' sebagai MC atau semacamnya," kata Mudrikah. (lin/hdi)

SUMBER : JP-RJ 19 JUNI 2018

Minggu, 03 Februari 2019

PETASAN, TRADISI YANG TAK PERNAH BISA HILANG

Tak Lengkap jika Hajatan Tak Pakai Mercon

Meski banyak menimbulkan korban jiwa, petasan masih sulit dihilangkan dari budaya masyarakat Indonesia. petasan seolah menjadi kewajiban saat bulan puasa dan lebaran. sempat sedikit redup pasca tragedi bom bali 1 dan bom Bali 2.

ADI FAIZIN, Jember.

SEBAGAI bulan suci, Ramadhan selalu disambut suka cita oleh masyarakat muslim di berbagai belahan dunia. tak terkecuali di Indonesia. sebagai negara mayoritas muslim, Ramadhan selalu membawa tradisi-tradisi yang menarik. salah satunya adalah tradisi mercon atau petasan.

Hampir merasa di seluruh wilayah, mercon selalu mengiringi bulan Ramadhan dan lebaran. namun, tradisi itu serasa menurun beberapa tahun terakhir, seperti yang dirasakan oleh Iwan Joyo Suprapto. "waktu saya kecil, selalu ramai sekali mercon itu. mulai beberapa hari sebelum puasa hingga setelah lebaran, semua warga desa, baik tua maupun muda, selalu merayakan dengan mercon," tuur Iwan, tokoh pemuda di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo ini. Meski termasuk bahan berbahaya dan beresiko tinggi, nyatanya orang tidak juga kapok untuk bermain mercon. "ada di desa saya, orang dewasa yang jari tangannya hampir habis. waktu dia kecil, terkena mercon di tangannya," cerita Iwan.

Meski saksi hidup korban mercon masih ada di desa mereka, toh tradisi memainkan mercon di Desa Sumbersalak tidak jua luntur. bahkan berakar cukup kuat. saking kuatnya, ada semacam hukum tidak tertulis yang seolah mewajibkan bermain mercon di saat-saat tertentu.

"Kalau zaman dulu, seorang pria ynag sudah bertunangan, serasa wajib untuk membawa mercon ketika berkunjung silaturahmi ke calon mertuanya. yakni ketika Lebaran, dia harus memainkan mercon di depan rumah calon mertua," tutur alumnus Fakultas Dakwah IAIN Jember ini. tujuan membawa mercon ke rumah calon mertua, menurut Iwan tidak lain untuk meramaikan suasana. "kan di petasan itu dikasih kertas yang bnayak sekali. setelah meledak, jadi berhamburan. itu biasanya tidak segera disapu, agar suasananya tetap meraih," tutur Iwan.

Namun tradisi mercon itu berangsur menurun pasca tragedi Bom Bali 1 pada 2002 dan Bom Bali 2 pada 2005. pasca kejadian tersebut, saat itu polisi menngencarkan razia terhadap seluruh bahan peledak. peredaran bahan-bahan kimia yang bisa menjadi bahan baku pembuatan petasan pun diperketat. sejak itu pula, tradisi bermain petasan atau mercon di Desa Sumbersalak ataupun di desa-desa lain sekitarnya, dirasakan Iwan berkurang drastis. jarang lagi didengar suara meledak yang memekakkan telinga, imbas dari polusi suara yang ditimbulkan oleh mercon. namun situasi itu tidak bertahan lama. beberapa tahun kemudian, secara berangsur-rangsur mercon kembali marak. masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk membakar petasan. (cl/ras)

SUMBER : JP-RJ 18 JUNI 2018

Kamis, 31 Januari 2019

MUFID, KALLIGRAFER YANG FOKUS PEMBINAAN KALIGRAFER

Dirikan Sanggar Gratis, Mendidik 13 Lembaga di Jember

Membuat tulisan Arab indah atau biasa yang disebut kaligrafi bukanlah hal yang mudah. Ternyata, di Jember sudah bisa menghasilkan banyak kaligrafer nasional. jalan ini sudah dirintis oleh Mufid sejak tahun 1993 lalu.

RANGGA MAHARDIKA, Jember Kota.

MENJADI kaligrafer sebenarnya bukan  menjadi jalan pilihan bagi Mufid. saat itu dia belajar kaligrafi  dengan tidak sengaja. yakni sekitar tahun 1984 saat dirinya yang menjadi santri angkatan pertama di Pondok Pesantren Nurul Islam, Antirogo Sumbersari Jember.

Mufid 'dipaksa' oleh pengasuh KH. Muhyidin Abdussomad untuk belajar kaligrafi. kemudian dia belajarlah kepada Ustad (alm) Abdullah. "Dulu pertama belajar kaligrafi karena di pondok tidak ada yang bisa menulis bagus," ucapnya mengenang masa kecilnya.

Menurut kelahiran Jember, 15 juni 1967 saat itu dia belajar menulis arab bagus untuk dituangkan dalam kitab yang diajarkan di Ponpes yang diasuh oleh KH. Muhyidin Abdussomad ini. hingga kemudian berkembang menjadi belajar di kanvas dan media lainnya.

"Dulu belajarnya pakai lidi pohon aren dengan tinta cina dan media ares (dalam pohon) pisang," terang putra kedua dari enam bersaudara ini.

Dirinya juga sempat mengikuti berbagai lomba tingkat lokal. tidak puas, pada 1992 suami dari Zamrani ini pun memperdalam ilmu kaligrafi kepada Ustadz Faiz Abdul Rozak di Bangil, Pasuruan yang merupakan kaligrafer tingkat internasional. bahkan, Uztad Faiz ini menjadi pembina dan juri nasional kaligrafi tingkat nasional.

Di Bangil inilah, Mufid bisa belajar berbagai jenis kaligrafi. mulai dari yang kaligrafi murni yang sesuai dengan kaidah pakem kaligrafi hingga ke kontemporer yakni yang kekinian dengan berbagai tambahan yang rumit. hingga dirinya pun kemudian mulai berani mengikuti lomba tingkat propinsi dan nasional. "pertama ikut MTQ (Musabaqah Tilawati Quran) tingkat propinsi tahun 1993 di Banyuwangi," jelasnya.

Di tingkat ini, dirinya belum mendapatkan juara karena masih pertama dan kalah dengan para seniornya. apalagi, dirinya di tiga jenis kategori kaligrafi. dimana untuk setiap jenis lomba dirinya diberikan waktu selama delapan jam dan bertarung di tiga kategori. "Tantangan jika ikut lomba adalah berperang dengan kesabaran," ucapnya. bahkan di angkatannya dari enam orang hanya dirinya yang terus bertahan di kaligrafi.

Baru pada MTQ Propinsi di Jombang tahun 1996 dirinya meraih juara harapan dua untuk jenis kaligrafi Mushaf. "baru mendapatkan juara dua tingkat nasional di MTQ Bali tahun 2000 di jenis kategori yang sama," tutur bapak dari Alifa Mustafidah dan Nanda Farha Mufidah ini. baru tahun 2006 dirinya tidak bisa ikut MTQ karena terkendala umur yakni dengan batasan usia 35 tahun.

Dirinya pun kini terus memperdalam ilmu kaligrafi ini. pasalnya, untuk jenis ini ada kejuaraan hingga ke tingkat internasional. "selain itu, kaligrafi ini sebenarnya yang paling sulit, namun paling mudah dibaca orang," terangnya. hal inilah yang membuatnya juga terus menelurkan hingga ke generasi mudanya.

Tetapi, untuk jenis kaligrafi yang terus dikembangkannya ada cukup banyak. kini dirinya menguasai empat jenis kaligrafi yakni selain hiasan Mushaf ada Naskah, dekorasi dan kontemporer. "ada sekitar delapan jenis tulisan arab yang saya pelajari," terangnya menambahkan.

Usai tidak mengikuti MTQ, dirinya bukan berarti berhenti dari kaligrafi. dirinya masih sering menjadi juri di tingkat propinsi dari nasional. Mufid juga banyak  menyumbangkan karyanya untuk sejumlah masjid di Jember yang digambar manual. seperti di masjid Baitun Nur di Ponpes Nuris Antirogo, RSD dr. Soebandi, Terminal Arjasa, Masjid Rambipuhi dan Masjid Nur Inka Mako Brigif 9 Jember masih banyak masjid lainnya.

Dirinya juga tidak ingin ilmu yang dimilikinya berhenti padanya saja. "pada tahun 2006 juga mendirikan sanggar kaligrafi Darul Qalam di rumah Antirogo," tuturnya. di sanggar ini, dirinya mengabdikan diri untuk mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar kaligrafi. bahkan kini sudah berkembang mendidik hingga ke seluru Jember, bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

"Semuanya gratis tidak dipungut biaya," jelasnya. semua kalangan bisa belakar kaligrafi disini. dia juga menjadi pembina di Jember. dirinya bahkan pernah melanglang buana menjadi pembina pada 2008 yakni di Ambon, Maluku. sejak tahun tersebut dirinya sudah banyak  menelurkan juara-juara nasional kaligrafi dari Jember.

Diantaranya ada Reska, Jimli, Alifa Mustafidah, Afif Binuril Aribi, Qoimatul Adila, siti Nur Azizah, dan Miftahul Jannah. saat di Maluku yang juara basional ada Endang dan Ika Raihani. "yang akan berangkat tahun ini di Nasional mewakili Jember ada Viona dari SMPN 3 Jember dengan kaligrafi kontempurer dan M.Nasihin dengan kaligrafi MUshaf," jelasnya.

Bukan hanya di sanggar, ternyata Mufid terus menelurkan anak didik binaannya. karena dirinya kini mendidik hingga ratusan murid. "saya juga mengajar kaligrafi di 13 Lembaga di Jember. ada sekolah negeri, swasta dan pondok pesantren," jelasnya. dengan harapan akan semakin banyak anak jember yang berprestasi melalui kaligrafi di tingkat nasional dan internasional nantinya.

Mufid menuturkan jika kaligrafi masih menjadi harapan untuk masa depan yang cerah. bukan hanya untuk ekonomi kreatif yang karyanya dijual, namun juga bisa menjadi jalan prestasi bagi penggiatnya. "karena sertifikat juara kaligrafi bisa digunakan untu7k melanjutkan ke sekolah favorit. baik jenjang SMP, SMA hingga perguruan tinggi," pungkasnya. (ram/hdi)

SUMBER : JP-RJ 17 JUNI 2018

Rabu, 30 Januari 2019

IMAM SANTOSO, AREK AMBULU YANG AKAN JADI DOKTOR DI DINLANDIA

Dari Keluarga Petani Sederhana, Bertekad Motivasi Anak Desa.

Pendidikan adalah jalan paling ampuh untuk mengubah nasib seorang menjadi lebih baik. keyakinan itulah yang dipegang teguh dan telah dibuktikan Imam Santoso, Kandidat doktor dari salah satu universitas ternama di Finlandia. berbekal keyakinan tersebut, setelah pulang ke tanah air nanti, Imam juga bertekad untuk membantu anak-anak desa di Jember meraih cita-cita terbaiknya.

ADI FAIZIN, Jember Kota

SUDAH empat tahun terakhir, Imam Santoso merasakan tantangan durasi puasa yang jauh lebih lama dibanding dengan puasa di indonesia. sejak awal menginjak kaki di kota Aalto, Finlandia, Imam harus berpuasa selama sekitar 21 jam setiap hari dibulan Ramadhan.

"perlahan nanti waktu puasanya akan mundur lebih pendek ketika musim dingin, puasa bisa hanya 6 jam. tapi itu masih sekitar 4 tahun lagi," tutur Imam sembari memberikan emoticon tersenyum. Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mendapatkan cerita menarik dari Imam Santoso melalui surel (email) dan aplikasi pesan singkat di gawai.

Dengan waktu berbuka, sahur, serta salat magrib, isya, dan subuh ynag hanya tiga jam, kaum muslimin di Finlandia menjalankan kelimanya hampir dalam satu waktu. "beruntung udaranya di sini sejuk, jadi tidak terasa," tutur Imam.

Pemuda asal Dusuun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu itu, saat ini menjadi mahasisawa tingkat akhir program Doktoral di Aalto University, salah satu universitas terkemuka yang ada di Finlandia. setelah empat tahun berjuang, Imam kini sedang menantikan proses kelulusan dan bersiap membawa pulang gelar PhD dalam bidang teknik metalurgi ke Indonesia.

"Saat ini, syarat kelulusan hampir semua sudah terpenuhi. sekarang proses menulis disertasi dan juga persiapan public defense pada September 2018 nanti," ujar Imam. selain diharuskan untuk mempresentasikan karya tulisannya di depan publik dan dewan penguji, kampus tempat Imam berkuliah juga mensyaratkan adanya publikasi ilmiah untuk lulus. tidak main-main, selama kuliah, Imam harus menerbitkan 4 publikasi di jurnal internasional. namun, Imam sudah melampaui syarat itu karena sekarang sudah berhasil menerbitkan 6 publikasi internasional.

"Kalau sekarang saya juga masih ada percobaan di laboratorium untuk menambah-nambah jumlah publikasi. mumpung diberikan fasilitas yang lengkap dan canggih di sini. rencananya, saya akan pulang ke tanah air pada bulan November 2018," tutur pria kelahiran Jember, 29 Agustus 1983 ini.

Perjuangan Imam unutuk mencapai posisi akademis saat ini terbilang berliku. terlahir dari keluarga petani sederhana di Desa Andongsari, Ambulu, tak membuat Imam ragu untuk mengejar mimpi setinggi langit. sang Ayah adalah seorang petani sederhana yang tidak memiliki tanah. oleh karena itu, sang ayah harus menyewa tanah agar bisa bertani." makanya bapak saya di desa disebut petani bayam, karena dengan bayam menguliahkan anak-anaknya," tutur putra pasangan Suyanto dan (alm) Siti Rohani ini.

Oleh karena itu, saat lulus dari SMAN Ambulu dan melanjutkan pendidikan di Isntitut Teknologi Bandung (ITB), Imam sempat kesulitan biaya. "waktu itu orang tua sempat utang sana sini untuk uang saku saya. karena beasiswa di sana umumnya adanya setelah semester 2," tutur alumnus SMP Muhammadiyah 9 Watukebo Ambulu ini.

Di ITB Imam mengambil Prodi Teknik Metalurgi yang berkaitan dengan dunia pertambangan.

Tuntunan untuk selalu mendapat beasiswa, justru membuat Imam berhasil menyelesaikan studinya di ITB dengan gelar wisudawan terbaik. momen mengharukan pada tahun 2007 itu membuat ayah dan neneknya terharu saat menyaksikan Imam berdiri di atas mimbar dan memberikan valedictorian speech sebagai  lulusan terbaik ITB. "waktu itu saya menjadi satu-satunya lulusan cum laude yang lulus 7 semester," kenang Imam.

Lulus dengan gelar terbaik dari kampus teknik prestisius, membuat Imam tak kesulitan mencari kerja selepas wisuda. tanpa perlu melamar, berbagai tawaran kerja dari perusahaan terkemuka justru datang menghampiri Imam, namun, Imam memilih jalan ynag berbeda. rutinitas sebagai guru les privat semasa kuliah S1 membuat Imam mengubah cita-citanya, dari bekerja di tambang, menjadi akademisi.

Di sela-sela kesibukan tersebut, Imam juga menyiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 dengan mengejar beasiswa.

Upaya itu membuahkan hasil. pada akhir 2008. Imam melanjutkan studi S2 di Australia atas beasiswa dari salah satu perusahaan setempat. namun, cobaan datang. krisis finasial yang melanda dunia pada 2008 membuat perusahaan Australia, bangkrut. akibatnya, beasiswa untuk Imam pun harus terhenti dan Imam harus pulang ke tanah air sebelum studinya rampung.

Namun, Imam tak menyerah, ia terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa inggrisnya dan mencoba beasiswa dari pemerintah Australia.

"Akhirnya, pada tahun 2011, saya kembali melanjutkan  studi di Universitas of Queensland atas beasiswa pemerintah  setempat. saya mengambil bidang Pyrometallury," jelas Imam.

Setelah lulus dari University of Queensland pada tahun 2013, Imam langsung menyiapkan studi lanjut ke jenjang S3. pada tahun 2014, Imam berhasil lolos seleksi beasiswa S3 di LPDP dari Kemenkue.tahun 2014 begitu berkesan, karena pada saat yang hampir bersamaan, imam juga diterima sebagai dosen PNS di almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Berbekal beasiswa dari ITB, Imam melanjutkan program doktoral ke Aalto University, sebuah kampus terkemuka di Finlandia. tidak hanya pendidikan yang berkualitas, Imam merasakan kenyamanan tersendiri selama menempuh studi di salah satu negara di Skandinavia tersebut.

"Alhamdulillah, kampus dan apartemen saya terletak di pinggir danau. jadi saya bisa menikmati pemandangan yang indah sekali," kata Imam.

Kenyamanan studi di Finlandia tidak membuat Imam lupa akan kampung halamannya. setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Imam bertekad pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya bagi kemajuan sains di Indonesia. selain itu, masa kecil yang penuh perjuangan membuat Imam bertekad untuk menularkan inspirasinya bagi anak-anak muda di Jember, khususnya. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 14 JUNI 2018

Selasa, 29 Januari 2019

DRUM CUSTOM, FURNITUR UNIK DARI DRUM BEKAS

Kaget Dihubungi Polisi, Ternbyata Mau Pesan Set Furnitur.

Mungkin ini ynag dinamakan Reduce, reuse, recycle. setelah memanfaatkan isinya, drum bekas ini diubah menjadi seperangkat furnitur yang cukup unik. jika awalnya hanya dijadikan hobi, saat ini drum custom bisa dipasarkan dengan nilai mencapai jutaan rupiah. bagaimana cara pembuatannya?

LINTANG ANIS BENA K, Jember Kota

SEPINTAS dilihat, sebuah area di kawasan Pakusari ini hanya tampak seperti tempat tumpukan drum-drum bekas. tak ada yang menarik ari tempat tersebut. orang akan melihatnya sebagai tempat loakan besi-besi bekas.

Namun, sedikit bergeser, terdapat sebuah bengkel yang diisi beberapa personel tengah 'menyulap' drum tersebut. bukan sulap bukan sihir, drum ini berubah bentuk. drum bekas yang awalnya sedikit berkarat, berganti menjadi kursi, meja, dan lemari yang sangat fashionable. dengan warna yang terang dan logo-logo produsen terkenal.

Inilah yang dikerjakan Jatminto Wahyudi, seorang kontraktor yang juga mengembangkan ide kreatifnya di bengkel workshop miliknya.

Pria asal Jogyakarta tersebut memiliki 'kadar seni' yang sedikit berlebih, dan mengubah drum-drum bekas tersebut menjadi furnitur siap pakai. melongok ke display store-nya, bisa dilihat seperangkat meja, kursi, dan lemari sudah tersimpan rapi dengan berbagai desain.

Pria yang akrab disapa Yudi ini memang bukan pertama kali mengubah sesuatu dengan desain yang unik dirinya pernah bergabung dengan salah satu brand kaus terkenal di Jogja yangg identik dengan plesetan logonya. sejak pertengahan tahun lalu, Yudi menjajal kembali kreatifitasnya dalam mengubah drum bekas menjadi seperangkat furnitur.

Drum custom, begitu Yudi menyebut karyanya. custom berarti pihaknya mengikuti permintaan konsumen. desain yang dia buat hampir tidak pernah memiliki pakem tertentu. "custom ini bahasa kita, artinya sebuah bentuk yang bisa keluar dari relnya," tuturnya.

Ide menyulap drum bekas ini muncul dari tumpukan srum yang dia miliki. sebagai seorang kontraktor dengan banyak properti drum truck, tak sedikit limbah drum yang dia hasilkan dari pekerjaan sehari-harinya. karena tidak ingin menumpuk barang bekas, Yudi mencoba memotong drum tersebut ke berbagai bentuk furnitur.

"Karena saya juga hobi trail, saya buat kursi dan meja dengan desain warna dan logo berkonsep trail. ternyata banyak teman-teman komunitas trail yang suka, dan mereka membelinya," ungkap Yudi.

Di workshop miliknya, Yudi sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan, termasuk alat potong khusus untuk membentuk drum yang memiliki ketebalan dan bahan dasar kukuh. hampir setiap hari proses produksi dilakukan oleh sekitar tujuh karyawannya. "dalam seminggu kita bisa produksi empat sampai lima set," akunya.

Awalnya, Yudi tak berniat menjual namun ketika banyak jaringan komunitasnya yang tertarik untuk membeli kreasi Yudi, dirinya mulai banting setir menjadikan hobinya sebagai bisnis. "paling murah jual seharga Rp 500 ribu untuk meja, Rp 750 ribu untuk sofa. bahkan ada yang sampai dijual seharga Rp 2,5 juta," tutur pria kelahiran 17 juni 1975 tersebut.

Pemasarannya pun tak main-main. meski bisnis 'anak bawang' ini baru dimulai pada Oktober tahun lalu, pembelinya sudah merambah ke luar pulau. "ini saya baru mengirim ke lampung," imbuhnya.

Penggemarnya pun berasal dari berbagai kalangan. mayoritas mendengar karya Yudi dari komunitas trail yang dia ikuti, kemudian tersebar hingga ke nasional. tak hanya itu, instansi besar pun melirik furnitur custom buatannya. "saya kaget ketika dihubungi Polda Jawa Timur, ternyata mau pesan," ujarnya sembari tertawa.

Tak hanya itu, banyak restoran dan kafe juga memesan furnitur drum custom ini dari tangannya. kekuatan word of mouth menjadi andalan, dan didukung dengan promosi dimedia sosial. "karena yang beli kan belum liat sendiri produk jadinya, hanya lewat foto atau vidio, saya tidak main-main dengan kualitasnya. dengan begitu orang nnati akan puas telah order di saya, dan disebarkan ke teman-temannya," papar Yudi.

Untuk sofanya, Yudi memanfaatkan bahan standar dengan kain oscar sebagai penutupnya. namun, jika pelanggan ingin memodifikasi lain, dia tak keberatan. "kadang ada yang minta dibikinin pakai bahan beledru, nggak mau oscar. ya kita terima," kata dia.

Kualitasnya, kata dia, tidak perlu diragukan lagi. untuk membuktikannya, dia berpesan pada personel yang bertugas di display store untuk tidak menyimpan produk drum custom tersebut jika hujan. "kita nggak takut cuaca, mau kehujanan atau kepanasan ya dibiarin," selorohnya.

Tidak hanya di bengkel workshop dan display store, Yudi juga menjadikan drum custom sebagai furnitur di kafe miliknya. tempat nongkrong di daerah kaliwates ini menjadi media baginya untuk mempersilahkan masyarakat melihat sendiri kreasinya. "Nuansanya pun trail," pungkasnya. (lin/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 13 JUNI 2018

Senin, 28 Januari 2019

MENENGOK KIPRAH AHMADIYAH SELAMA RAMADHAN DI JEMBER

Tidak Alami Diskriminasi, Tetap Aktif Donor Mata

Kerap dianggap memiliki keyakinan yang berbeda, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) ingin membuktikannya dengan tetap menebarkan islam yang ramah. awal puasa ini, salah satu basis Ahmadiyah di Indonesia (di Lombok) di serang kelompok intoleran beruntung, di Jember mereka mengaku tidak pernah mengalami persekusi.

ADI FAIZIN, Jember Kota

PADA 19 Mei 2018 atau hari ketiga bulan Ramadhan tahun ini. kekerasan kembali menimpa warga Ahmadiyah di Indonesia. kali ini, giliran mereka yang berada di Dusun Gerepek, Desa Greneng, Lombok Timur, NTB. sejumlah massa intoleran merusak rumah warga Ahmadiyah di tengah kekhusukan bulan suci Ramadhan.

Aksi persekusi dan diskriminasi bagi pengikut Ahmadiyah memnag bukan hal yang baru sejak reformasi bergulir di Indonesia.

Padahal, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia telah ada sejak negeri ini belum merdeka. selama itu pula, mereka bisa hidup rkun dengan sesama beberapa warga Ahmadiyah bahkan sempat berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. sebut saja seperti WR SUpratman yang merupakan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

"mereka melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah (seperti yang terjadi di NTB, red) karena ketidaktahuan mereka terhadap Ahmadiyah. faktor kecemburuan sosial aja, lantas akidahnya yang dijadikan alasan," tutur Hamid Ahmad, ketua Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jember, ketika di temui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, saat berbuka puasa bersama. dalam perbincangan tersebut, Hamid ditemani Wahib Rahman, mubalig Ahmadiyah untuk wilayah Jember dan sekitarnya.

Menurut Hamid, kekerasan dan diskriminasi terhadap warga Ahmadiyah di Indonesia hanya terjadi di daerah tertentu saja, seperti Jawa Barat ataupun NTB. Selain ekonomi, faktornya adalah politis.

"Biasanya kalau mau ada pilkada, untuk merebut simpati masyarakat banyak, kepala daerah bisa membuat larangan beribadah terhadap Ahmadiyah. bisa juga ketika usaha bersama warga Ahmadiyah maju, seperti di NTB kemarin, ada yang cemburu, lantas akidahnya dikait-kaitkan," tutur pria yang baru saja pensiun dari dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unej ini.

Meski demikian, selama ini Hamid mengaku Ahmadiyah di Jember tidak pernah mengalami diskriminasi. "kalau di Jatim dan Jateng tidak akan berani, karena di sini toleran. saya di kampus semua sudah tahu sejak lama kalau saya Ahmadi (sebutan untuk pengikut Ahmadiyah, red)," tutur bapak tiga anak ini. begitu pula dengan istrinya, Titien Suhermiatien yang tidak pernah dianggap berbeda selama menjalankan profesi sebagai dosen di Polije.

Hamid mengenang, saat awal reformasi bergulir dan kelompok intoleran di Indonesia mulai menguat, dirinya langsung mendapat pembelaan dari warga NU, Khususnya GP Anshor. "saya kadang diajak salat jemaah dan dijaadikan imam. mereka bilang lha wong salatnya sama, apanya yang sesat," kenang Hamid.

Selama ini, Hamid kerap berdiskusi dengan beberapa tokoh NU dan Muhammadiyah di Jember, untuk menjelaskan bahwa kayakinan Ahmadiyah tidak berbeda dengan umat iislam kebanyakan. "ada beberapa yang memang sedikit berbeda, seperti masalah tahlil, kan tidak bisa satu pendapat," tutur Hamid.

Di Jember, warga Ahmadiyah memang hanya sedikit. "hanya sekitar 10 kepala keluarga," terang Hamid. karena masih sedikit, mereka belum membangun masjid sendiri. untuk aktivitas bersama,mereka biasanya berkumpul di rumah Hamid di kelurahan Tegalgede, Sumbersari.

Meski berjumlah sedikit, tidak menghalangi Ahmadiyah di Jember untuk beraktivitas sosial. di Idonesia, salah satu kegiatan sosial yang menjadi program Ahmadiyah adlaah donor darah dan donor mata. "karena donor mata ini kan masih jarang dan harus segera dilakukan beberapa jam setelah meninggal. karena itu, anggota sudah tanda tangan surat donor mata ketika masih sehat," tutur Hamid.

Meski kerap mengalami berbagai kekrasan dan diskriminasi, Hamid menjamin Ahmadiyah tidak akan pernah melawan dengan kekerasan. sebab, dalam organisasi Ahmadiyah, ditekankan untuk menyampaikan islam secara damai. "di beberapa daerah yang kami mayoritaskan di desa tersebut. tetapi kami tidak pernah membalas," tutur alumnus Fakultas Pertanian Unej ini.

Jangankan membalas, berdemonstrrasi pun, warga Ahmadiyah juga dilarang. "karena kami ditekanakan untuk setia pada negara," sambung Hamid.

Karena ajarannya yang menekankan islam damai itulah, Ahmadiyah sangat menentang terorisme, apalagi yang berkedok agama. sebab itu pula, ahmadiyah, menurut Hamid, berkembang cupuk pesat di Eropa. "beberapa masjid terbesar di beberapa kota besar di Jerman dan negara Eropa lain, itu dibangun dari Ahmadiyah. kita juga berperan menepis Islamophhhhhobia di Barat," ujar Hamid.

"Bukan karena kami ingin membanggakan. tetapi yang kami tekankan, jika kita sampaikan islam ynag damai, cinta pada negara dan rasional, itu bisa menekan Islamoophobia sambung Hamid. (ad/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 12 JUNI 2018

Minggu, 27 Januari 2019

MENENGOK KEHIDUPAN PEMAIN PERSID : RUMAH KONTRAKAN JADI MES

Tak lagi Nyusu APBD, Istri Manager jadi Juru Masak

Tak selamanya membangun tim sepak bola harus mengandalkan subsidi duit negara. terlebih, bermimpi menjadikan Persid sebagai tim profesional. meski harus nombok, persid harus tetap berprestasi.

BULLY EFENDY, Jember Kota

TAK ada yang istimewa. rumah yang ada di Blok E 3 Perum Griya Mangli, nyaris sama dengan kontrakan yang diisi puluhan pemuda. namun, para pemuda di sana bukan sembarangan. mereka anak muda pilihan, pesebak bola terbaik di Jember.

Ya, rumah itu adalah mes Persid Jember. sebuah tempat hunian sementara para pemain skuad Persid Jember 2018. memang, sejak tim kebanggaan warga Jember itu dimanajeri Mirza Rahmulyono, mes Persid tak lagi ada di kawasan Kreongan Jember.

Mirza tentu punya alasan memindah mes Persid lebih dekat denagn rumahnya. salah satunya, supaya dia cepat tahu segala kebutuhan para pemain. banyak hal. termasuk persoalan makanan. "kalau dekat begini, saya lebih sering main-main," ujar personel Band Tape Ketan itu.

Memang, memilih rumah kontrakan membuat dia  kembali harus merogoh kocek. namun, ternyata ada hitung-hitungan yang lebih ekonomis. kenapa/ rupanya, pindahnya mes Persid dari Kreongan ke Griya Mangli bisa mengirit biaya makan pemain.

Sepintas, sempat membuat bingung. namun, setelah dijelaskan manajer yang masih berusia 33 tahun itu, ternyata biaya konsumsi bisa efisien. sebab dia tak harus menyewa jasa boga. "kalau dekat rumah kan bisa istri yang masak," tuturnya.

Sang istri-Vita Widya Pratiwi rela menjadi relawan penyedia makanan para pemain. dia tahu betul, sejak suaminya menjadi manajer Persid, keuangan klub tak lagi tajir. maklum, mirza mencoba mandiri tanpa duit (alias tak lagi nyusu) APBD Pemkab Jember. karena sang musisi ingin membuat persid modern dan profesional.

Konsekuensinya, mirza dan istri harus rela nombok. tak jarang duit pribadi harus dia keluarkan untuk kepentingan persid. bahkan, sejak Vita menjadi juru masak persid, tak pernah sekali pun menerima honor dari persid. dia harus pandai-pandai menyisihkan duit belanja dari suaminya.

Selama bulan puasa, jatah makanan hanya dua kali. saat berbuka dan sahur. namun, sebelumnya ada tiga jadwal makan. pagi, siang, dan malam. semua dimasak dari dapur rumah keluarga Mirza dan Vita.

Menu makanan keseharian pemain sama dengan yang di makan Mirza dan istri. sebab, mereka tak ingin ada pembeda. Vita sudah menganggap pemain binaan suaminya seperti adik dalam keluarganya sendiri.
Maklum saja, perempuan yang sedang hamil 6 bulan itu ternyata mantan atlet voli yang pernah juga membawa nama harum Jember. "saya tahu perjuangan atlet. oleh karena itu, saya ikut terpanggil. tentu karena suami," tuturnya.

Kedekatan keluarga Mirza tak hanya dengan pemain. pelatih asisten pelatih, hingga kru yang lain, sudah saling kenal baik, bahkan tak jarang mereka kumpul bersama di mes. biasanya yang paling sering usai menggelar latihan. "karena kekeluargaan, kami betah ada di mes," kata asisten pelatih yang juga mantan kapten persid, Jaya Hartono.

Mereka kompak menyampaikan ikrarnya, dari kesederhanaan rumah kontrakan yang disulap jadi mes, persid akan menunjukan taringnya menjadi tim yang disegani di liga 3 musim ini. sekali pun tak ada yang harus dikelola persid jember dari APBD Pemkab Jember. sebab, persid punya mimpi besar jadi tim profesional. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 11 JUNI 2018

Kamis, 24 Januari 2019

MONUMEN MASTRIP DAN KENANGAN PERJUANGAN YANG TERLUPAKAN

Susahnya Mengajak Masyarakat untuk Kembali Mengingat TRIP

Banyak yang mengira Mastrip adalah nama seseorang. padahal itu adalah sebutan untuk sekelompok anak-anak muda yang bergabung sebagai tentara pelajar. mereka tersebar di berbagai daerah, salah satunya dikaresidenan Besuki. Jember menjadi lokasi di mana pasukan TRIP berhasil menghadang konvoi Belanda.

LINTANG ANIS BENA K, Jelbuk

PADA Juli 1947 di tempat ini telah terjadi peristiwa perjuangan berupa penghadangan oleh Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 4000 dikenal dengan pasukan kukuk beluk terhadap konvoi tentara penjajah saat Agresi Militer I.

Tulisan tersebut dipadati pada monumen yang berada di tepi jalan Jember-Bondowoso. tak jauh dari Kantor Kecamatan jelbuk. tepatnya di daerah Panduman. masih baru, karena belum lama ini mengalami proses rehabilitas yang dilakukan oleh paguyuban Mas Trip Jember.

Dengan helm sebagai latar, dan senjata laras panjang yang diletakkan menyilang dengan pena bulu ayam. lambang dari Monumen mastrip tersebut adalah lambang dari baju kehormatan TRIP yang dikenkan saat bergerilya.

Paguyuban ini berisi mantan anggota TRIP, serta keturunannya yang terdiri dari beberapa generasi. Budi Sumarsono, ketua Paguyuban Mas Trip menuturkan, tak banyak yang tahu, asal muasal munculnya istilah Mastrip yang kini menjadi nama jalan daerah Sumbersari. Mastrip muncul dari sebutan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). satuan tentara yang terdiri dari kelompok pelajar berusia remaja.

Kala aksi militer Belanda, anak-anak muda dan pelajar memang diimbau untuk berjuang mengangkat senjata. karena mayoritas anggota TRIP adalah pria, maka penduduk banyak memanggil mereka dengan sebutan Mas, untuk menghargai  keberanian para pemuda tersebut. "Penduduk banyak ynag manggil, Mas Trip. ini ada makanan, ini ada minuman, begitu ceritanya," ujar pria asal Bondowoso tersebut.

Konon, panduman merupakan tempat dimana tentara indonesia menghadang iring-iringan tentara Belanda yang hendak menyerang Besuki dari dua arah, yaitu di peisisir Banyuwangi dan Panarukan. serangan Belanda dimulai pada 21 juli 1947, saat Belanda mendaratkan pasukannya di pesisir Banyuwangi dan di Pantai Pasir Putih Panarukan.

Momen Agresi Militer Belanda I terjadi ketika hari libur sekolah. selama masa liburan tersebut anggota TRIP khususnya di Jawa Timur mengisinya dengan latihan kemiliteran dan people defense dalam bentuk samaran. kesatuan TRIP Jawa Timur ynag terlibat dalam kegiatan tersebut adalah dari Batalyon 4000 karesidenan Besuki, ynag memiliki dua kompi yaitu 4100 (Bondowoso dan Situbondo) dan 4200 (Jember).

Pasukan TRIP sempat terpecah akibat serangan tersebut, namun masih bertahan dengan membentuk komando gerilya dengan nama sandi kukuk Beluk Hitam. Panduman menjadi salah satu lokasi perang gerilya yang berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Setelah agresi militer Belanda dan perjuangannya selesai, banyak anggota TRIP yang dikaryakan sebagai apresiasi atas jasa mereka. ada yang dikaryakan di bidang pemerintahan, menjadi tentara, dan lain-lain. namun yang paling banyak berada di sektor perkebunan. "bapak saya si perkebunan, saya juga di perkebunan," kenangnya.

Nmaun tak sedikit pula yang memilih berkarya di kota besar. banyak yang jadi pejabat tinggi dan pindah, salah satunya Jakarta. "kalau di Jakarta, TRIP sekarang itu besar karena dulu banyak ynag berangkat ke sana," ujarnya.

Di Jelbuk, kata Budi, ada beberapa tempat yang berkaitan dengan Trip. salah satunya adalah sumber air yang dijadikan tempat beristirahat ketika gerilya. "ketika penyerbuan Belanda ke daerah Besuki, sumber air itu menjadi tempat mandi Trip," lanjutnya.

Paguyuban Mas Trip Jember kini beranggotakan 55 orang dari tiga generasi. generasi satu adalah para pelaku TRIP, sedang kan generasi dua dan tiga adalah keturunan dari pelaku sejarah ini. bersama dengan aparat setempat, paguyuban tersebut terus berupaya melestarikan monumen tersebut. "kita bersama koramil dan aparat desa setempat yang memellihara monumen," kata Budi.

Hanya saja pihaknya masih belum bisa memberikan inisiasi untuk mengajak anak-anak muda sekarang dalam mengingat perjuangan pasukan TRIP. sebab menurut Budi, tak banyak anak-anak muda yang mash menghargai jasa para pejuang.

"Dulu, anak-anak muda di imbau untuk berperang saja bersedia, bahkan berjuang sampai mati-matian. sekarang orang mau perang hitung-hitungan dulu. katanya, cari makan aja susah. makanya dengan monumen mau mengingat perjuangan mengusir tentara Belanda," pungkasnya. (lin/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 10 JUNI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...