Selasa, 12 Februari 2019

M. DYO HENDIKA SAPUTRA, BOCAH BONDOWOSO JUARA INTERNASIONAL

Terkendala Akomodasi, Bulan Ini ke Malaysia.

Berprestasi tidak harus menunggu dewasa. seperti yang dilakukan oleh M. Dyo Hendika Saputra, putra asli Kecamatan Tenggarang Bondowoso yang berhasil meraih prestasi tingkat nasional bahkan internasional. prestasi ini diraih berkat kelihaiannya mengendalikan push bike alias mendorong sepeda tanpa pedal sepeda.

RANGGA MAHARDIKA, Jember.

KEJUARAAN nasional sepeda motor dan sepeda yang diadakan di Sevendream City, Baratan Patrang saat bulan puasa kemarin terlihat cukup sengit. meskipun sedang puasa namun kejuaraan yang digelar untuk memeriahkan road show Asean Games 2018 yang digelar oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga ini cukup meriah. baik itu level sepeda maupun sepeda motor.

Namun diantara puluhan pembalap itu, ada satu sosok yang banyak menarik perhatian bagi pengunjung dan pembalap lain. sosok ini cukup mungil, namun terlihat lincah memainkan sepeda miliknya. tetapi sepeda ini tidak dikayuh melainkan didorong dulu baru kemudian dikendarai.

Bahkan, beberapa kali anak kecil yang membawa sepeda ini membuat penonton dibuat senam jantung. bagaimana tidak, diirnya atraksi dengan menaikkan satu kaki di atas jok, sedangkan kaki satunya horizontal mendatar sejajar dengan tubuhnya. dia beberapa kali membuat penonton bertepuk tangan diatas atraksinya itu.

Dialah M. Dyo Hendika Saputra. bocahasli Desa Koncer kidul Kecamatan Tenggarang, Bondowoso. usianya baru empat tahun.

"Tanggal 23 Juni nanti ini baru Lima Tahun," ucap Hendro Widodo , ayah Dyo saat mendampingi anaknya ke Jember. di usianya yang masih anak-anak ini, ternyata sudah banyak prestasi yang diraih oleh Dyo.

Sejak setahun lalu, Dyo meraih prestasi yang gemilang. mulai dari Mei 2017, di Sleman Jogja dirinya menjadi juara 3 tingkat nasional untuk kategori usia 4 tahun. Juni 2017. "itu padahal kejuaraan perdana yang diikuti," jelas Hendro. Dyo pun kembali meraih juara yakni dalam even internasional di Bali yakni saat mengikuti Event Strider Cup Bali.
Kemudian di bulan September 2017 di Jakarta. dirinya menjadi juara 3 dari kategori yang sama. "Puncaknya pada Oktober 2017 ikut even di Malaysia. Dyo berhasil menjadi juara 1 kategori 4 tahun," jelasnya. selain juara-juara tadi, cukup banyak kejuaraan lain yang mengantarkan putra kedua pasangan Hendro dan Rofika ini meraih banyak penghargaan. tentu prestasi ini sangat membanggakan bagi dirinya.
Padahal, dirinya pertama menemukan bakat sang anak ini dengan tidak sengaja. dimana saat itu, anak keduanya ini bermain dengan kakaknya Sulton. mereka sedang bermain mobil-mobilan yang didorong," terangnya. kemudian Dyo ini kok sudah bisa.

Akhirnya dicoba dengan menggunakan sepeda push bike tanpa pedal ini. bahkan, saat berlatih awal ini tanpa menggunakan roda bantuan kecil layaknya sepeda anak-anak lainnya. ternyata sang anak tanpa ada yang mengajari bisa sendiri. "memang kalalu untuk internasional, sebelum lima tahun hanya boleh push bike ini," jelasnya.

Jika memang sudah bisa push bike, maka akan mudah untuk mengendarai sepeda yang memiliki pedal. "karena kan kuncinya keseimbangan," jelasnya.

Dengan demikian, anaknya berarti akan mudah untuk berlatih sepeda biasa. akhirnya dirinya pun melihat potensi yang ada pada anaknya itu dan diajak untuk bermain di sejumlah kejuaraan itu.

Meskipun untuk berangkat ke sejumlah daerah dirinya mengakui jika banyak kendala. utamanya untuk akomodasi yang selama ini masih menggunakan dana pribadi. dirinya mengakui memang juga ada bantuan dari pemerintah daerah setempat namun tidak bisa mencukupi semua kebutuhan selama kejuaraan.
"Ya kalau sudah kejuaraan, sehari semalam minimal habis Rp 1,5 juta," tuturnya. padahal, untuk kejuaraan bisa sampai seminggu. belum lagi ditambah dengan transportasinya.

Bahkan dirinya masih ingat kenangan ketika ikut kejuaraan ke Malaysia. diaman saat itu hanya dengan bermodal uang Rp 6 juta, dirinya tetap nekad berangkat bersama sang anak. "Ya sangat menipis. akhirnya untuk menginap tidak di hotel," terangnya. dirinya pun mencari kenala Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia dan nunut menginap di sana.

Ternyata, Dyo berhasil meraih prestasi gemilang, keberhasilan demi keberhasilan inilah yang kemudian melecutkan semangatnya untuk terus mengembangkan bakat sang anak ini. "30 Juni 2018 ini mau berangkat lagi ke Malaysia. ikut kejuaraan even strider cup. doakan ya bisa menang lagi," tuturnya.

Dyo yang masih duduk di bangku TK Nurul Hidayah, Desa Koncer ini pun terlihat santai saat hendak diwawancara. dirinya pun sepertinya sudah terbiasa dengan kamera sejumlah warga yang gemas dan ingin memfoto dirinya. bocah kecil dengan prestasi gemilang inipun mengaku senang dengan bersepeda.

"Senang, senang balapan,"ucapnya. dia pun ingin terus membalap. apalagi, Dyo memiliki cita-cita yang mulia yakni menjadi tentara jika besar nanti.(ram/hdi)

SUMBER ; JP-RJ 23 JUNI 2018

Senin, 11 Februari 2019

MENENGOK KEBERHASILAN PELAJAR JEMBER YANG BERPRESTASI HINGGA KE AUSTRALIA

Mengkaji Sistem Lalu Lintas di Depan SMPN 2 Jember

Tak ada yang tidak mungkin, jika semuanya digarap serius. Meski tinggal dan belajar di Jember, dua pelajar bersama seorang gurunya, bisa tembus memenangkan kompetisi yang digelar pemerintah Australia. seperti apa ?

RULLY EFENDI, Jember Kota.

TIGA medali emas menjadi milik dua siswa dan seorang guru SMAN 1 Jember. membanggakan. karena medali tersebut diberikan oleh kedutaan besar Australia di Jakarta. semakin membanggakan, karena ketiganya bakal dikirim ke Australia, sebagai perwakilan Indonesia.

Pelajar membanggakan itu, Firman Syauqi Maulana Habaib, Firdaus Y. Bahtiar dan guru pendamping keduanya, Heri Tri Susanto. Ketiganya, dipastikan akan terbang ke Australia pada medio Juli 2018 mendatang. mereka, bakal mengikuti short course tentang STEM di Queensland University of Technology (QUT) di Brisbance Australia selama 7 hari.

Keberangkatan ketiganya bagian hadiah, karena sudah meraih juara Science, Technology, Engineering yang menarik, mereka memilih tema: "lalu lintas aman melalui storene berhenti sebelum lini".

Sejatinya, tema tersebut pernah diusung Syauqi seorang diri, saat mengikuti perlombaan pelajar pelopor keselamatan lalu lintas yang digelar Kementrian Perhubungan (Kemenhub).

Ya, saat itu Syauqi juga meraih juara. se-Indonesia. sehingga, gagasan Dinas Perhubungan (Dishub) tentang produk storene yang ada di persimpangan SMPN 2 Jember, sampai jadi perbincangan nasional. semua, tentu karena prestasi anak muda yang lahir 18 september 2000 tersebut.

Storene, tak lain akronim dari stop Before The Line. sebuah alat yang biasanya dipasang di persimpangan jalan. tujuannya, tentu untuk mengurangi pelanggar lalu lintas di traffic light. "ketika traffic light berwarna merah, sensor ultrasonik akan aktif," terang Syauqi.

Sensor ultrasonik memiliki fungsi untuk mengirimkan sinyal, bagi pengendara yang melewati stop line. sinyal itu akan memunculkan bunyi peringatan dari traffic voice. "alat ini hanya akan aktif jika traffic menyala," tuturnya.

Selain sensor ultrasonik yang dipasang pada delinator, membuatnya jug abutuh sensor LDR pada red lamp box. untuk memunculkan bunyi peringatan kedua kompenen itu juga butuh tambahan traffic voice. "Alhamdulillah, gagasan ini juga diterima baik tim Austrade Jakarta," katanya.

Pada kompetisi Science Your Future Competition (SYFC), tim SMAN 1 Jember mengirim vidio berdurasi 90 detik dan essay, yang terdiri dari 500 kata yang tentunya, berkaitan dengan STEM,mereka, dinilai paling solutif menjawab tantangan yang ada di Indonesia. terutama soal lalu lintas dan kecelakaan di jalan raya.

Kemenangan anak muda Jember tersebut, hasil dari sebuah perjuangan panjang. betapa tidak, sedikitnya ada 90 tim dari beberapa daerah di Indonesia,yang harus mereka ungguli dengan karya nyata. "kami bangga karena jurinya sangat profesional. mereka para profesor Australiaan Technology Network," akunya.

Dalam kesempatan short course di Australia nanti, tim SMAN 1 Jember juga diberi kesempatan mempresentasikan produk di hadapan civitas QUT di Brisbance, Australia. harapannya, produk Storene yang jadi gagasan bisa diaplikasikan dan dikembangkan di seluruh dunia. sebab dengan demikian,nama Jember juga akan terdongkrak hingga berbagai negara.

Ketiganya membuktikan bahwa anak Jember juga bisa berprestasi hingga ke luar negeri. Tentu, semuanya diraih hasil dari kerja keras da semangat optimisme yang tinggi. "kami ingin membuktikan, pelajar Jember juga bisa disegani," pungkasnya. (rul/hdi)

SUMBER : JP-RJ 21 JUNI 2018

Kamis, 07 Februari 2019

LINDUNGI SATWA, DANDY UBAH KULIT KAMBING JADI MACAN

Mulai Harimau, Panther, Macan Tutul, dan Sebentar Lagi Ada Luwak

Kreativitas bidang kerajinan terus saja ada, seperti Dandy yang mempu menyulap kulit kambing jadi macan. bahkan jadi mirip macan Sungguhan.

WAWAN DWI SISWANTO, Jember Kota.

PENGUNJUNG Cafe Gumitir tiba-tiba kaget dengan kehadiran macan. Hewan buas ini tidak hanya satu saja, ada sekitar 7-10 ekor. wow pasti bikin merinding karena takut diterkam. ada macam warna hitam atau disebut panther, harimau, macan tutul, macan putih, dan singa.

Tenang saja hewan buas itu hanya duplikat, bukan macan sungguhan karena itu bukan macan sungguhan, masyarakat tetap bikin merinding saat menyentuh hewan mamalia tersebut. ya hewan itu sungguh mirip, bahkan seperti harimau yang telah dikeringkan atau diawetkan.

Bagi pecinta satwa khususnya hewan-hewan yang dilindungi, macan hasil kreasi Dandy ini tidak menyalahi aturan, dan tidak membumuh hewan dilindungi untuk membuat macan-macanan tersebut.
"Khulitnya kulit asli, tapi bukan kulit macan sungguhan. kulitnya ini dari kulit kambing, untuk kumis harimau itu dari bulu ayam, sementara mata dan giginya itu sintesis," terang Dandy.

Pria dengan nama lengkap Muhammad Dandy itu mengatakan, kegiatan membuat tiruan harimau  tersebut bukan untuk bisnis semata saja. tapi juga untuk kampanyekan hewan ynag dilindungi.

Hewan yang dilindungi dan sering dijadikan buruan adalah satwa kucing besar atau harimau dan sejenisnya. apalagi, keberadaan sekarang tinggal sedikit. sebagai orang Jawa, Dandy merasa sedih harimau jawa itu tidak ada lagi dan bisa dikatakan punah. "harimau ini sering diburu, diambil kulitnya, diambil kepalanya, kukunya, taringnya, hingga kumisnya," tambahnya.

Berangkat dari sana, pria 62 tahun itu, mulai meramu kulit kambing dicat sedemikian rupa agar mirip kulit harimau.Pemilihan kulit kambing ini karena ada bulu tipis seperti harimau. sedangkan kulit sapi tidak bisa diaplikasikan, sebab kulit dan bulunya terlalu tipis. pekerjaan pengecatan kulit kambing diubah motif harimau, menurut Dandy, harus teliti, termasuk detail bagian penggungnya.

Untuk badannya, kata dia, fiber karbon dan fiber zinc white untuk bagian detail. hingga saat ini 18 jenis harimau ynag dibuat olehnya. diantaranya leopard, tiger, puma, panther, jaguar, jaguar kutub, nebulosa, king ming, dan king jaguar.

Sementara untuk ukurannya agar terlihat nyata, dia mencari literatur seperti nyata, dia mencari literatur tentang hewan buas tersebut. "karena buat kulitnya saja butuh waktu dengan detail-detailnya. macan yang dibuat juga harus mirip," paparnya.

Dandy tak ingin hasil karyanya justru menjadi aneh karena ukuran tubuh dan gestur harimau berbeda dengan aslinya. "kalau bentuknya aneh, bisa jadi harimau itu buat lelucon. harimau kok lucu," tambahnya.
Dalam sebulan, pria yang suka mengenakan topi ini setidaknya membutuhkan 600 sampai 700 lembar kulit kambing ettawa khusus. sedangkan untuk tas kulit bermotof harimau, itu butuh sekitar 10 ton dalam sebulan. banyaknya kulit yang dipakai, karena saat ini banyak orang pesan. tidak hanya dari dalam negeri saja, tapi telah diminati daerah Timur Tengah dan Eropa.

Tembus ke pasar luar negeri, juga tidak semudah itu. ya hasil karyanya tersebut dikira barang ilegal karena mengira adalah harimau yang telah dikeringkan. "awalnya susah, tapi sekarang paham," imbuhnya. untuk membuat satu harimau setidaknya membutuhkan waktu 2 minggu.

Atas kelihaian Dandy membuat harimau dari kulit kambing, juga ada tawaran membuat luwak. dia pun tertantang, tapi dalam tujuannya. dia juga ada rasa edukasi ke masyarakat. "ya biar orang tahu, jangn memburu luwak. jika tidak ada luwak, maka tidak ada kopi luwak. apalagi kopi luwak ini identik dari indonesia," pungkasnya. (dwi/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 20 JUNI 2018

Rabu, 06 Februari 2019

LUCUNYA HADRAH CILIK TPA BUSTANUL ULUM BMP MANGLI

Langsung Tepar setelah Mainkan Delapan Lagu dalam Satu Acara

Jika umumnya grup musik hadrah terdiri dari sekelompok orang dewasa, tidak demikian dengan grup hadrah TPA Bustanul Ulum BMP Mangli. mereka terdiri dari sekelompok anak yang baru duduk di bangku SD. walau begitu mereka sama sekali tidak merasakan kesulitan ketika tampil di hadapan orang banyak.

LINTANG ANIS BENA K, Jember.

GELARAN acara buka puasa bersama yang juga dihadiri oleh Nyai Mutmainnah, beberapa hari lalu dihadiri tak kurang dari 50 warga sekitar serta anak-anak yatim piatu dan kaum duafa. sepanjang acara berlangsung, mereka ditemani alunan hadrah yang dimainkan sekelompok pemusik hadrah di atas panggung.

Namun uniknya, alih-alih dimainkan oleh orang dewasa, yang terlihat adalah anak-anak kecil yang berdiri memainkan rebana, tamborin, dan simbal. suara mereka tak kalah merdu, walau masih belum terlalu fasih,namanya juga anak-anak, kadang ada saat ketika mereka off-tune atau tak sesuai dengan melodi yang dimainkan pemusik lainnya.

Kelompok yang rata-rata duduk di bangku sekolah dasar ini merupakan santri di TPA Bustanul Ulum Mangli, tepatnya di perumahan Bumi Mangli Permai. pengelolanya sengaja mengajak anak-anak sekitar untuk berpartisipasi dalam tim hadrah tersebut. "tujuannya untuk melatih mental anak-anak, yang  penting mau untuk tampil," ujar Hidayati, salah satu pengasuh TPA.

Sejatinya kelompok musik hadrah ini sudah digerakan semenjak tahun 1990-an silam. selama ini musik tersebut diturunkan dari generasi ke generasi santri yang belajar di sana. "semua santri di TPA Bustanul Ulum diajarkan hadrah," imbuhnya.

Inisiasi munculnya kelompok musik hadrah anak-anak ini berawal ketika TPA ini mendapat lungsuran alat-alat hadrah dari grup yang tak lagi aktif. dengan kemampuan Hidayati yang memang mahir hadrah, dirinya mencoba mengajarkan hadrah kepada para santri. "pas anak-anak dilatih, kok mereka bisa, ya sudah dilanjutkan," lanjut Hidayati.

Cara mengajarkannya pun cukup menarik. setiap satu senior wajib mengajarkan satu alat musik hadrah kepada satu adik kelasnya. "santri yang kecil-kecil sudah terbiasa melihat kakak kelasnya main hadrah, jadi mereka juga tetap belajar. malah lebih mudah dari pada mengajarkan hadrah kepada orang dewasa," kata Lilik Masriati pengasuh lainnya.

Itulah sebabnya tradisi ini bisa bertahan hingga turun menurun. apalagi, hadrah bukanlah jenis musik yang umum. mereka harus belajar nada dan irama musik Timur Tengah yang sama sekali tidak mengandalkan not balok tersebut.

waktu berlatih pun fleksibel, tergantung kemauan anak-anak. normalnya mereka latihan setiap Jumat. "tapi kalu misalnya mereka banyak kegiatan, ya kita ngalahi cari hari lain," imbuh Lilik.

Karena masih berusia belia, banyak sekali pengalaman unik yang dialami. salah satunya ketika mereka harus tampil membawakan delapan buah lagu berturut-turut. "sampai anak-anak mengeluh, katanya tangannya merah semua. ya mau gimana lagi namanya juga anak-anak," seloroh hidayati.

Bahkan sesekali, ketika anak-anak enggan berlatih atau tampil di depan umum, Hidayati dan pengasuh lainnya harus memberikan iming-iming. "saya bilang, nanti kamu dikasih hadiah. meskipun sederhana seperti snack, mereka sudah seneng banget," imbuhnya.

Dari sisi perawatan alat pun Lilik dan pengasuh lainnya masih belum berpikir untuk menambah inventaris. hanya sekitar 15 alat saja yang mereka miliki. "kalau bilang pengen ya pengennya nambah satu set Al Banjari itu," imbuhnya semabri tertawa. "tapi harganya mahal, satu set bisa sampai 3 jutaan," lanjutnya.

Walau demikian Hidayati mengaku anak-anak sangat jarang mengeluh tentang kualitas alat musiknya. justru sebaliknya, mereka sangat antusias jika diajak tampil. "apalagi kalau sudah tampil di acara rutin kami, namanya pengajian cilik atau peci, mereka semangat sekali," kata wanita berhijab tersebut.

Bagi Hidayati, Lilik dan Mudrikah yang juga menjadi pelatih hadrah, kualitas yang dihasilkan bukanlah tujuan utamanya. mereka lebih ingin membentuk karakter anak-anak menjadi lebih percaya diri dan tidak minder, sehingga bisa digunakan ketika terjun di sekolah masing-masing.

"kalau sudah percaya diri, misalnya ada acara di sekolahnya mereka bisa 'dipakai' sebagai MC atau semacamnya," kata Mudrikah. (lin/hdi)

SUMBER : JP-RJ 19 JUNI 2018

Minggu, 03 Februari 2019

PETASAN, TRADISI YANG TAK PERNAH BISA HILANG

Tak Lengkap jika Hajatan Tak Pakai Mercon

Meski banyak menimbulkan korban jiwa, petasan masih sulit dihilangkan dari budaya masyarakat Indonesia. petasan seolah menjadi kewajiban saat bulan puasa dan lebaran. sempat sedikit redup pasca tragedi bom bali 1 dan bom Bali 2.

ADI FAIZIN, Jember.

SEBAGAI bulan suci, Ramadhan selalu disambut suka cita oleh masyarakat muslim di berbagai belahan dunia. tak terkecuali di Indonesia. sebagai negara mayoritas muslim, Ramadhan selalu membawa tradisi-tradisi yang menarik. salah satunya adalah tradisi mercon atau petasan.

Hampir merasa di seluruh wilayah, mercon selalu mengiringi bulan Ramadhan dan lebaran. namun, tradisi itu serasa menurun beberapa tahun terakhir, seperti yang dirasakan oleh Iwan Joyo Suprapto. "waktu saya kecil, selalu ramai sekali mercon itu. mulai beberapa hari sebelum puasa hingga setelah lebaran, semua warga desa, baik tua maupun muda, selalu merayakan dengan mercon," tuur Iwan, tokoh pemuda di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo ini. Meski termasuk bahan berbahaya dan beresiko tinggi, nyatanya orang tidak juga kapok untuk bermain mercon. "ada di desa saya, orang dewasa yang jari tangannya hampir habis. waktu dia kecil, terkena mercon di tangannya," cerita Iwan.

Meski saksi hidup korban mercon masih ada di desa mereka, toh tradisi memainkan mercon di Desa Sumbersalak tidak jua luntur. bahkan berakar cukup kuat. saking kuatnya, ada semacam hukum tidak tertulis yang seolah mewajibkan bermain mercon di saat-saat tertentu.

"Kalau zaman dulu, seorang pria ynag sudah bertunangan, serasa wajib untuk membawa mercon ketika berkunjung silaturahmi ke calon mertuanya. yakni ketika Lebaran, dia harus memainkan mercon di depan rumah calon mertua," tutur alumnus Fakultas Dakwah IAIN Jember ini. tujuan membawa mercon ke rumah calon mertua, menurut Iwan tidak lain untuk meramaikan suasana. "kan di petasan itu dikasih kertas yang bnayak sekali. setelah meledak, jadi berhamburan. itu biasanya tidak segera disapu, agar suasananya tetap meraih," tutur Iwan.

Namun tradisi mercon itu berangsur menurun pasca tragedi Bom Bali 1 pada 2002 dan Bom Bali 2 pada 2005. pasca kejadian tersebut, saat itu polisi menngencarkan razia terhadap seluruh bahan peledak. peredaran bahan-bahan kimia yang bisa menjadi bahan baku pembuatan petasan pun diperketat. sejak itu pula, tradisi bermain petasan atau mercon di Desa Sumbersalak ataupun di desa-desa lain sekitarnya, dirasakan Iwan berkurang drastis. jarang lagi didengar suara meledak yang memekakkan telinga, imbas dari polusi suara yang ditimbulkan oleh mercon. namun situasi itu tidak bertahan lama. beberapa tahun kemudian, secara berangsur-rangsur mercon kembali marak. masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk membakar petasan. (cl/ras)

SUMBER : JP-RJ 18 JUNI 2018

Kamis, 31 Januari 2019

MUFID, KALLIGRAFER YANG FOKUS PEMBINAAN KALIGRAFER

Dirikan Sanggar Gratis, Mendidik 13 Lembaga di Jember

Membuat tulisan Arab indah atau biasa yang disebut kaligrafi bukanlah hal yang mudah. Ternyata, di Jember sudah bisa menghasilkan banyak kaligrafer nasional. jalan ini sudah dirintis oleh Mufid sejak tahun 1993 lalu.

RANGGA MAHARDIKA, Jember Kota.

MENJADI kaligrafer sebenarnya bukan  menjadi jalan pilihan bagi Mufid. saat itu dia belajar kaligrafi  dengan tidak sengaja. yakni sekitar tahun 1984 saat dirinya yang menjadi santri angkatan pertama di Pondok Pesantren Nurul Islam, Antirogo Sumbersari Jember.

Mufid 'dipaksa' oleh pengasuh KH. Muhyidin Abdussomad untuk belajar kaligrafi. kemudian dia belajarlah kepada Ustad (alm) Abdullah. "Dulu pertama belajar kaligrafi karena di pondok tidak ada yang bisa menulis bagus," ucapnya mengenang masa kecilnya.

Menurut kelahiran Jember, 15 juni 1967 saat itu dia belajar menulis arab bagus untuk dituangkan dalam kitab yang diajarkan di Ponpes yang diasuh oleh KH. Muhyidin Abdussomad ini. hingga kemudian berkembang menjadi belajar di kanvas dan media lainnya.

"Dulu belajarnya pakai lidi pohon aren dengan tinta cina dan media ares (dalam pohon) pisang," terang putra kedua dari enam bersaudara ini.

Dirinya juga sempat mengikuti berbagai lomba tingkat lokal. tidak puas, pada 1992 suami dari Zamrani ini pun memperdalam ilmu kaligrafi kepada Ustadz Faiz Abdul Rozak di Bangil, Pasuruan yang merupakan kaligrafer tingkat internasional. bahkan, Uztad Faiz ini menjadi pembina dan juri nasional kaligrafi tingkat nasional.

Di Bangil inilah, Mufid bisa belajar berbagai jenis kaligrafi. mulai dari yang kaligrafi murni yang sesuai dengan kaidah pakem kaligrafi hingga ke kontemporer yakni yang kekinian dengan berbagai tambahan yang rumit. hingga dirinya pun kemudian mulai berani mengikuti lomba tingkat propinsi dan nasional. "pertama ikut MTQ (Musabaqah Tilawati Quran) tingkat propinsi tahun 1993 di Banyuwangi," jelasnya.

Di tingkat ini, dirinya belum mendapatkan juara karena masih pertama dan kalah dengan para seniornya. apalagi, dirinya di tiga jenis kategori kaligrafi. dimana untuk setiap jenis lomba dirinya diberikan waktu selama delapan jam dan bertarung di tiga kategori. "Tantangan jika ikut lomba adalah berperang dengan kesabaran," ucapnya. bahkan di angkatannya dari enam orang hanya dirinya yang terus bertahan di kaligrafi.

Baru pada MTQ Propinsi di Jombang tahun 1996 dirinya meraih juara harapan dua untuk jenis kaligrafi Mushaf. "baru mendapatkan juara dua tingkat nasional di MTQ Bali tahun 2000 di jenis kategori yang sama," tutur bapak dari Alifa Mustafidah dan Nanda Farha Mufidah ini. baru tahun 2006 dirinya tidak bisa ikut MTQ karena terkendala umur yakni dengan batasan usia 35 tahun.

Dirinya pun kini terus memperdalam ilmu kaligrafi ini. pasalnya, untuk jenis ini ada kejuaraan hingga ke tingkat internasional. "selain itu, kaligrafi ini sebenarnya yang paling sulit, namun paling mudah dibaca orang," terangnya. hal inilah yang membuatnya juga terus menelurkan hingga ke generasi mudanya.

Tetapi, untuk jenis kaligrafi yang terus dikembangkannya ada cukup banyak. kini dirinya menguasai empat jenis kaligrafi yakni selain hiasan Mushaf ada Naskah, dekorasi dan kontemporer. "ada sekitar delapan jenis tulisan arab yang saya pelajari," terangnya menambahkan.

Usai tidak mengikuti MTQ, dirinya bukan berarti berhenti dari kaligrafi. dirinya masih sering menjadi juri di tingkat propinsi dari nasional. Mufid juga banyak  menyumbangkan karyanya untuk sejumlah masjid di Jember yang digambar manual. seperti di masjid Baitun Nur di Ponpes Nuris Antirogo, RSD dr. Soebandi, Terminal Arjasa, Masjid Rambipuhi dan Masjid Nur Inka Mako Brigif 9 Jember masih banyak masjid lainnya.

Dirinya juga tidak ingin ilmu yang dimilikinya berhenti padanya saja. "pada tahun 2006 juga mendirikan sanggar kaligrafi Darul Qalam di rumah Antirogo," tuturnya. di sanggar ini, dirinya mengabdikan diri untuk mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar kaligrafi. bahkan kini sudah berkembang mendidik hingga ke seluru Jember, bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

"Semuanya gratis tidak dipungut biaya," jelasnya. semua kalangan bisa belakar kaligrafi disini. dia juga menjadi pembina di Jember. dirinya bahkan pernah melanglang buana menjadi pembina pada 2008 yakni di Ambon, Maluku. sejak tahun tersebut dirinya sudah banyak  menelurkan juara-juara nasional kaligrafi dari Jember.

Diantaranya ada Reska, Jimli, Alifa Mustafidah, Afif Binuril Aribi, Qoimatul Adila, siti Nur Azizah, dan Miftahul Jannah. saat di Maluku yang juara basional ada Endang dan Ika Raihani. "yang akan berangkat tahun ini di Nasional mewakili Jember ada Viona dari SMPN 3 Jember dengan kaligrafi kontempurer dan M.Nasihin dengan kaligrafi MUshaf," jelasnya.

Bukan hanya di sanggar, ternyata Mufid terus menelurkan anak didik binaannya. karena dirinya kini mendidik hingga ratusan murid. "saya juga mengajar kaligrafi di 13 Lembaga di Jember. ada sekolah negeri, swasta dan pondok pesantren," jelasnya. dengan harapan akan semakin banyak anak jember yang berprestasi melalui kaligrafi di tingkat nasional dan internasional nantinya.

Mufid menuturkan jika kaligrafi masih menjadi harapan untuk masa depan yang cerah. bukan hanya untuk ekonomi kreatif yang karyanya dijual, namun juga bisa menjadi jalan prestasi bagi penggiatnya. "karena sertifikat juara kaligrafi bisa digunakan untu7k melanjutkan ke sekolah favorit. baik jenjang SMP, SMA hingga perguruan tinggi," pungkasnya. (ram/hdi)

SUMBER : JP-RJ 17 JUNI 2018

Rabu, 30 Januari 2019

IMAM SANTOSO, AREK AMBULU YANG AKAN JADI DOKTOR DI DINLANDIA

Dari Keluarga Petani Sederhana, Bertekad Motivasi Anak Desa.

Pendidikan adalah jalan paling ampuh untuk mengubah nasib seorang menjadi lebih baik. keyakinan itulah yang dipegang teguh dan telah dibuktikan Imam Santoso, Kandidat doktor dari salah satu universitas ternama di Finlandia. berbekal keyakinan tersebut, setelah pulang ke tanah air nanti, Imam juga bertekad untuk membantu anak-anak desa di Jember meraih cita-cita terbaiknya.

ADI FAIZIN, Jember Kota

SUDAH empat tahun terakhir, Imam Santoso merasakan tantangan durasi puasa yang jauh lebih lama dibanding dengan puasa di indonesia. sejak awal menginjak kaki di kota Aalto, Finlandia, Imam harus berpuasa selama sekitar 21 jam setiap hari dibulan Ramadhan.

"perlahan nanti waktu puasanya akan mundur lebih pendek ketika musim dingin, puasa bisa hanya 6 jam. tapi itu masih sekitar 4 tahun lagi," tutur Imam sembari memberikan emoticon tersenyum. Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mendapatkan cerita menarik dari Imam Santoso melalui surel (email) dan aplikasi pesan singkat di gawai.

Dengan waktu berbuka, sahur, serta salat magrib, isya, dan subuh ynag hanya tiga jam, kaum muslimin di Finlandia menjalankan kelimanya hampir dalam satu waktu. "beruntung udaranya di sini sejuk, jadi tidak terasa," tutur Imam.

Pemuda asal Dusuun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu itu, saat ini menjadi mahasisawa tingkat akhir program Doktoral di Aalto University, salah satu universitas terkemuka yang ada di Finlandia. setelah empat tahun berjuang, Imam kini sedang menantikan proses kelulusan dan bersiap membawa pulang gelar PhD dalam bidang teknik metalurgi ke Indonesia.

"Saat ini, syarat kelulusan hampir semua sudah terpenuhi. sekarang proses menulis disertasi dan juga persiapan public defense pada September 2018 nanti," ujar Imam. selain diharuskan untuk mempresentasikan karya tulisannya di depan publik dan dewan penguji, kampus tempat Imam berkuliah juga mensyaratkan adanya publikasi ilmiah untuk lulus. tidak main-main, selama kuliah, Imam harus menerbitkan 4 publikasi di jurnal internasional. namun, Imam sudah melampaui syarat itu karena sekarang sudah berhasil menerbitkan 6 publikasi internasional.

"Kalau sekarang saya juga masih ada percobaan di laboratorium untuk menambah-nambah jumlah publikasi. mumpung diberikan fasilitas yang lengkap dan canggih di sini. rencananya, saya akan pulang ke tanah air pada bulan November 2018," tutur pria kelahiran Jember, 29 Agustus 1983 ini.

Perjuangan Imam unutuk mencapai posisi akademis saat ini terbilang berliku. terlahir dari keluarga petani sederhana di Desa Andongsari, Ambulu, tak membuat Imam ragu untuk mengejar mimpi setinggi langit. sang Ayah adalah seorang petani sederhana yang tidak memiliki tanah. oleh karena itu, sang ayah harus menyewa tanah agar bisa bertani." makanya bapak saya di desa disebut petani bayam, karena dengan bayam menguliahkan anak-anaknya," tutur putra pasangan Suyanto dan (alm) Siti Rohani ini.

Oleh karena itu, saat lulus dari SMAN Ambulu dan melanjutkan pendidikan di Isntitut Teknologi Bandung (ITB), Imam sempat kesulitan biaya. "waktu itu orang tua sempat utang sana sini untuk uang saku saya. karena beasiswa di sana umumnya adanya setelah semester 2," tutur alumnus SMP Muhammadiyah 9 Watukebo Ambulu ini.

Di ITB Imam mengambil Prodi Teknik Metalurgi yang berkaitan dengan dunia pertambangan.

Tuntunan untuk selalu mendapat beasiswa, justru membuat Imam berhasil menyelesaikan studinya di ITB dengan gelar wisudawan terbaik. momen mengharukan pada tahun 2007 itu membuat ayah dan neneknya terharu saat menyaksikan Imam berdiri di atas mimbar dan memberikan valedictorian speech sebagai  lulusan terbaik ITB. "waktu itu saya menjadi satu-satunya lulusan cum laude yang lulus 7 semester," kenang Imam.

Lulus dengan gelar terbaik dari kampus teknik prestisius, membuat Imam tak kesulitan mencari kerja selepas wisuda. tanpa perlu melamar, berbagai tawaran kerja dari perusahaan terkemuka justru datang menghampiri Imam, namun, Imam memilih jalan ynag berbeda. rutinitas sebagai guru les privat semasa kuliah S1 membuat Imam mengubah cita-citanya, dari bekerja di tambang, menjadi akademisi.

Di sela-sela kesibukan tersebut, Imam juga menyiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 dengan mengejar beasiswa.

Upaya itu membuahkan hasil. pada akhir 2008. Imam melanjutkan studi S2 di Australia atas beasiswa dari salah satu perusahaan setempat. namun, cobaan datang. krisis finasial yang melanda dunia pada 2008 membuat perusahaan Australia, bangkrut. akibatnya, beasiswa untuk Imam pun harus terhenti dan Imam harus pulang ke tanah air sebelum studinya rampung.

Namun, Imam tak menyerah, ia terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa inggrisnya dan mencoba beasiswa dari pemerintah Australia.

"Akhirnya, pada tahun 2011, saya kembali melanjutkan  studi di Universitas of Queensland atas beasiswa pemerintah  setempat. saya mengambil bidang Pyrometallury," jelas Imam.

Setelah lulus dari University of Queensland pada tahun 2013, Imam langsung menyiapkan studi lanjut ke jenjang S3. pada tahun 2014, Imam berhasil lolos seleksi beasiswa S3 di LPDP dari Kemenkue.tahun 2014 begitu berkesan, karena pada saat yang hampir bersamaan, imam juga diterima sebagai dosen PNS di almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Berbekal beasiswa dari ITB, Imam melanjutkan program doktoral ke Aalto University, sebuah kampus terkemuka di Finlandia. tidak hanya pendidikan yang berkualitas, Imam merasakan kenyamanan tersendiri selama menempuh studi di salah satu negara di Skandinavia tersebut.

"Alhamdulillah, kampus dan apartemen saya terletak di pinggir danau. jadi saya bisa menikmati pemandangan yang indah sekali," kata Imam.

Kenyamanan studi di Finlandia tidak membuat Imam lupa akan kampung halamannya. setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Imam bertekad pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya bagi kemajuan sains di Indonesia. selain itu, masa kecil yang penuh perjuangan membuat Imam bertekad untuk menularkan inspirasinya bagi anak-anak muda di Jember, khususnya. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 14 JUNI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...