Rabu, 16 Januari 2019

PERIAS BRIDAL JEMBER TERIMA PENGHARGAAN WALIKOTA SURABAYA

Mulai Kembangkan Teknik Airbrush

Perempuan tak selamanya jadi orang nomor dua. salah satu yang perlu dilakukan, perempuan harus mandiri dengan keahliannya masing-masing. pengusaha yang juga konsen di tata rias, menawarkan diri untuk melatihnya.

RULLY EFENDI, Jember Kota.

TAMPAK paling sibuk diantara yang lain. Mondar-mandir, sembari mengamati para perempuan muda. yang sedang merias wajah tamu di Sie-sie Salon Patrang. sesekali, perempuan yang diketahui bernama Siti Aminah Zakaria, turun langsung memperbaiki riasan mereka.

Tak banyak teori. melatih, langsung dengan ilmu terapan. perempuan yang sedang menempuh pendidikan S3 ilmu manajemen, berperan sebagai guru rias.

Tak sembarangan, karena baru-baru ini, dia berhasil meraih runner up Piala Ris Model Fashion Show Walikota Surabaya.

Mimin-sapaan Siti Aminah, juga peraih gelar siswa terbaik Sekolah Make Up Profesional Hollywood, pimpinan Vina Wijayanti. Bridal, menjadi spesifikasi keahliannya. namun ke depan, dia bakal mengemmbangkan rias dengan teknik airbrush. "saya sebut Jember potensial," katanya.

Seperti beberapa pengalaman berkarya d beberapa kota besar. diakui Mimin, ada daja talenta yang ikut bertanding ternyata masih berdarah Jember. namun, mmereka lebih memilih keluar Jember, karena menilai daerah lain lebih subur. "Kecenderungannya memilih tinggal di kota besar," tuturnya.

Berbeda dengannya. belajar dari orang luar daerah, setelah menguasai ilmu dan tekniknya, dia pun memilih kembali pulang ke Jember. tak sekadar mengembangkan kemampuan pribadinya. karena dia, ingin menularkan ilmunya ke banyak orang di Jember.

Tentu, teknik airbrush dan teknik rias yang masih tergolong langka di Jember. namun apa pun harus dia lakukan, sebab dia menginginkan perias potensial bertumbuhan di Bumi Pandhalungan Jember.

Mempraktikkan teknik airbrush memang tak mudah, menyemburkan tinta kosmetik lewat pena airbrush yan didorong udara melalui kompresor, sehingga menimbulkan "kabut" tipis pada bagian wajah yang diinginkan. teknik yang sama digunakan juga dalam teknik duco untuk mencat mobil, maupun dalam dunia lukis dan grafis.

Tetapi soal hasil teknik ini memiliki keunggulan jauh lebih higenis. karena tangan dan alat kosmetik tidak menyentuh kulit wajah, dan pengerjaannya lebih cepat. hasilnya pun lebih merata, lebih licin, lebih halus, terutama dalam membuat gradasi warna.

Bersama guru sekaligus sahabatnya - Ce Jeny, Mimin akan menjadikan Jember semakin salah satu kiblat make up nasional. tentu, bukan sekadar mengairahkan pendidikan informal tentang make up, karena yang paling tepat dan efektif, perlu ada event make up berstandart nasional yang digelar kontinu.

Dia mencontohkan di beberapa kota besar. beberapa event pemerintahan, disinergikan dengan pelaku make up. seperti waktu itu, Dinsos Pemkot Surabaya yang menggelar nikah masal, periasnya melibatkan perias sekitar untuk mengasah kemampuannya. "saya yakini Jember bisa," pungkasnya. (rul/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 2 JUNI 2018

Selasa, 15 Januari 2019

ARUS BALIK, ALUMNI PESANTREN SALAFIYAH DUKUNG GUS IPUL

Tak Usah Ragu, Sampaikan Keluarga untuk milih Nomor Dua.

Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mendapat dukungan dari Ikatan Santri & Alumni Salafiyah Syafiiyah (IKSASS) kawasan Banyuwangi dan sekitarnya. Dukungan disampaikan dalam pertemuan yang digelar di Banyuwangi, Rabu malam (30/5).

"KITA semua sudah sepakat mendukung Gus Ipul ini amanah para kiai, para ulama," ujar Ibu Nyai Djuwariyah, malam itu.

Ungkapan itu disampaikan istri almarhum KHR Fawaid As'ad itu, dalam pertemuan ynag juga dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Saat itu, ratusan santri senior dan alumnus pesantren salafiyah syafiiyah, Sukorejo-Situbondo memang membacakan ikrar untuk bekerja tulus dan sepenuh hati memenangkan Gus Ipul.

Tampak hadir juga di antaranya santri senior Mudzakkir Abdul Fattah, Muhammad Toha, dan Mustain.
"Jumlah alumnus Pesantren Salafiyah Syafiiyah di Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso ini ratusan ribu, belum termasuk keluarga dan simpatisan pondok. sesuai amanat dan ikrar tersebut, kami semua siap memenangkan Gus Ipul," ujar pengurus pondok, Masykuri.

Dia menyebar ini sebagai "arus balik" karena sebelumnya tokoh-tokoh pesantren tersebut selalu mendukung Khofifah dalam dua kali pemilihan gubernur sebelumnya, yaitu pada 2008 dan 2013.

Dalam bahasa Madura, Bupati Anas menambahkan, pencalonan Gus Ipul adalah amanat KHR Fawaid Asad, sebagaimana sering disampaikan Ibu Nyai Makkiyah As'ad Syamsul Arifin.

"Nyai Makkiyah juga selalu mengatakan, keputusan mendukung Gus Ipul adalah arahan kiai Fawaid sebelum kiai meninggal," ujar Anas yang cuti untuk berkampanye.

Nyai Makkiyah adalah pengasuh pesantren salafiyah syafiiyah sekaligus putri almarhumah KHR As'ad Syamsul Arifin, ulama berpengaruh NU yang jugaa pahlawan nasional. ia adalah penyampai pesan (isyarah) berupa tongkat dari Syaichona Kholil Bangkalan untuk KHR Hasyim Asy'ari yang merupakan cikal bakal berdirinya NU.

"Daddi ampon tak osa ragu, atorragi dek sedajana kaluarga ben tan-teretan sedhejeh ka angguy mele Gus Ipul alampa agi dhabuna para kyai (jadi tidak usah ragu lagi, sampaikan ke keluarga dan semuanya untuk memilih Gus Ipul sesuai amanat para ulama)," kata Anas dalam bahasa madura.

Pesantren Salafiyah Syafiiyah adalah salah satu pesantren besar dan berpengaruh di Jatim.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul berterima kasih atas mengalirnya dukungan dari santri, alumnus, dan simpatisan pesantren salafiyah syafiiyah.

Dia bercerita, selama sepuluh tahun terakhir menjadi wakil gubernur Jatim telah mendorong penguatan madrasah diniah (madin). Jatim adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang mengalokasikan program dan dana khusus untuk madin.

"Keberadaan madrasah diniah harus kita pertahankan sampai kapan pun, untuk ikut menanamkan sikap keagamaan yang baik pada generasi bangsa," ungkapnya.

Sebanyak 10.000 guru madin juga telah mendapatkan beasiswa kuliah. "dan ini kita terus perluas ke depan dengan menambah insentif untuk ustaz/ustazah, para guru, dan hafiz/hafizah," kata Gus Ipul. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ-1 JUNI 2018

Minggu, 13 Januari 2019

PERJALANAN BERLIKU DARI JURNALIS HINGGA RAIH GELAR DOKTOR

Bela Wajah Pesantren, Teliti Isu Terorisme di Media Siber.

Berkat penelitiannya tentang isu Terorisme dan Radikalisme Terhadap Pondok Pesantren, Kun Wazis, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Jember meraih gelar doktor Ilmu Komunikasi dari fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Alumni wartawan Jawa Pos Radar Jember 1999-2009 ini memiliki kisah menarik dari perjalannya sebagai jurnalis hingga menempuh gelar tertinggi akademik di perguruan tinggi ini. seperti apa?

KUN WAZIS, Bandung

"SAYA setujui kalau doktor yang ditempuh sesuai dengan kebutuhan kampus. Mumpung , ada program 5000 Doktor Kementrian Agama RI, itu bisa dicoba, bisa berkompetisi dulu." itulah kenangan saya berdiskusi dengan Rektor IAIN Jember Prof. Dr H. Babun Suharto, S.E., M.M., pada awal Januari 2015 silam. berbekal rekomendasi Rektor yang pernah menjadi ketua PC GP Ansor Jember ini, saya mengisi pendaftaran online program Mora2015 Dirjen Pendis Kemenag dengan meng-klik pilihan program S3 Ilmu Komunikasi Unpad. Waktu itu, tercatat di web scholarship. kemenag. co.id tertanggal 09-04-2015.
alhamdulillah, hasil tes yang diselenggarakan tim Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, saya dinyatakan lulus.

Melalui beasiswa yang berlaku 6 semester ini, sejak awal kuliah saya bertekad untuk selesai tepat waktu, jangan sampai motor. saya belajar banyak dari pada doktor di IAIN Jember yang memiliki beragam pengalaman menyelesaikan studi. agar memudahkan target, bersama teman-teman satu angkatan mengontrak rumah di kawasan Caringin Regency Jatinangor yang dijadikan sebagai tempat diskusi. diskusi itu memudahkan para mahasiswa S3 menajamkan isu yang akan dipilih jadi riset disertasi, biar tidak gampang mandeg nalar kritisnya.

Selain membangun dialektika dengan komunitas seangkatan, komunikasi dengan dosen pengajar dijaga dengan baik dengan cukup kental di Unpad. Kegiatan seminar nasional maupun internasional diikuti untuk menambah wawasan keilmuan dan relasi. proses akademik, mulai dari perkuliahan, ujina prakualifikasi, seminar usulan penelitian, Ujian Naskah Disertai, hingga Ujian Disertai saya jalani dengan enjoy. memahami perbedaan budaya menjadi sangat penting agar kita tidak salah dalam berkomunikasi, agar kita tidak salah dalam berkomunikasi, agar tidak terjadi noise (gangguan,red) yang berdampak pada ketegangan antar kita dengan orang lain.

Setelah menjalani proses akademik yang berliku, saya berhasil mempertahankan disetasi berjudul "Relasi Media Massa dalam Konstruksi Realitas Pondok Pesantren di Indonesia (Analisis Wacana Kritis tentang Isu Terorisme dan Radikalisme terhadap Pondok Pesantren pada Media Siber Jawa Pos.Com, Kompas.cpm, dan Republika.co.id)" pada sidang promosi doktor, Kamis 24 Mei 2018 lalu. "Ya, semunya dijalani, dinikmati, nanti juga selesai." begitu pesan Prof. Babun kepada saya.

Semangat berusaha keras menyelesaikan studi S3 ini tidak lepas dari pembentukan karakter pada diri saya sejak lama. Terutama didikan kedua orang tua saya, H Roqib (alm) dan Hj Siti Marchamah. Ayah saya adalah santri Pondok Tremas Pacitan Jawa Timur yang menghabiskan hidupnya di Pondok sepuh itu sebagai guru fikih. dalam berbagai pengajian dna kegaitan pondok, saya dikenalkan semangat keikhlasan, keistiqamahan, dan kemandirian sebagai karakter santri. untuk itu, meski mata kuliah yang saya ajarkan komunikasi massa, tetap saja saya melihat bagaimana wajah pondok pesantren di konstruksikan oleh media. saya tergelitik kritis, karena tesis saya sejak awal mengatakan tidak mungkin pesantren sebagai lembaga pendidikan ajaran islam yang rahmatan lil alamin, kok mengusung ajaran terorisme dan radikalisme.

Soal tekad, kehidupan jurnalis yang pernah saya jalani ikut mewarnai sikap saya. sebab, pilihan berkarir sebagai jurnalis di Jawa Pos Radar Jember sejak 1999 silam, terinspirasi oleh kehebatan jurnalis dalam mengungkap realitas yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. berkat berita yang kritis, suatu kejahatan bisa dibongkar dan masyarakat bisa menjadi lebih waspada. hikmahnya, tulisan atau berita bisa mendatangkan manfaat yang besar bagi banyak orang yang membacanya.

Hanya saja, menulis bukan pekerjaan gampang. sebagai jurnalis selalu dituntut berfikir keras mencari isu yang menarik, terjun ke lapangan menggali sumber berita yang berimbang, wawancara dengan informan secara mendalam , dan menarasikan peristiwa secara lugas. kesabaran, keteladanan, kecepatan, dan kedisiplinan terlatih selama menjadi jurnalis. dengan rutinitas seperti itu, dibutuhkan fisik yang memadai dan strategi komunikasi yang baik dengan siapapun.

Hikmah lain ynag dipetik adalah jaringan komunikasi yang luas. selama saya menjadi jurnalis, karakter sumber berita sangat beragam sehingga harus bisa dipahami sekaligus pelajaran yang menarik. ternyata, setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda di dalam memandang sebuah realitas. peristiwa politik, misalnya bisa dilihat dari beragam sudut sesuai dengan subyektifitas seseorang. untuk itu, seorang jurnalis harus dapat memperlakukan sumber berita dengan proporsional agar faktanya berimbang, tidak njomplang. saya sendiri belajar berbuat adil dari cara menampilkan nara sumber di koran.

Relasi yang terjalin dengan baik dengan berbagai kalangan mengantarkan saya menjadi pengajar diSTAIN Jember sebagai dosen luar biasa sejak 2004. saat itu, tawaran dari kampus Mangli ini tak bisa saya tolak. kebetulan mata kuliah yang ditawarkan adalah "Teknik Wawancara dan Menulis Berita" sehingga masih nyambung atau sesuai denagn kemampuan sebagai jurnalis. karena bersifat praktik, ilmu kewartawanan yang saya dapatkan dari pelatihan di Jawa Pos dan pengalaman jurnalistik di lapangan saya sampaikan di kampus.

Pengalaman sebagai jurnalis dan dosen luar biasa ini memberikan hikmah tersendiri bagi saya. sebagai dosen, saya dituntut memahami lebih mendalam ilmu komunikasi, terutama komunikasi massa. selama bertahun-tahun, "dua profesi" itu saya lakoni sesuai dengan kemampuan. setidaknya memahami teori-teori komunikasi massa. ya, belajarnya harus sedikit ekstra.

Pernah suatu ketika saya menghadapi pilihan sulit antara bertahan sebagai jurnalis atau menerima dosen sebagai profesi yang baru. bagi saya, waktu 10 tahun sudah cukup untuk menimba pengalaman lapangan jurnalistik. dan, selama mengajar, komunikasi dengan institusi media massa tidak terputus. setidaknya, hubungan itu terus terjalin karena berbagai kegiatan kampus, misalnya PPL juga ditempatkan di perusahaan media, baik media cetak, media elektronik, maupun media online. hubungan media massa dengan  kampus, menurut saya, tidak boleh putus. bisa saling besinergi, bisa saling mengontrol, bisa saling menyampaikan pesan kebaikan dengan caranya masing-masing.

Konsekuensi menjadi yang memadai sebagaimana diamanatkan dalam UU Guru dan Dosen bahwa dosen wajib berkependidikan minimal S2. Berbekal tekad pula, S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Dr Soetomo Surabaya dapat saya selesaikan meski harus menguras energi, pikiran, dan waktu. saya selalu diingatkan oleh abah ketika beliau masih hidup agar mencari ilmu itu diniati ibadah biar nggak sia-sia ya, kalau mau jadi dosen, ya bismillah. berusaha yang keras dan berdo'a yang kuat, itu kata kuncinya. (ras)

SUMBER : JP-RJ- 30 MEI 2018

Kamis, 10 Januari 2019

NUNCHAKU, SENI OLAHRAGA BELA DIRI YANG MULAI BERGELIAT DI JEMBER

Penggeraknya Bersal dari Atlet Berbagai Aliran Bela Diri

Kian banyak seni olahraga bela diri yang berkembang di Jember. salah satunya Nunchaku, seni bela diri yang lahir di Tiongkok dan lantas berkembang di Jepang pada abad ke II sebelum Masehi. geliat Nunchaku di Jember kian semarak sejak berdirinya komunitas tersebut pada akhir 2017 lalu. mereka biasa berlatih di lapangan terbuka seperti di Alun-alun Jember.

ADI FAIZIN, Jember Kota

ISTILAH Nunchaku atau ruyung mungkin kurang familier di telinga sebagian besar masyarakat. namun, berbeda jika yang disebut adalah Bruce Lee. aktor bela diri Hong Kong era klasik tersebut, selain memainkan beberapa jenis bela diri seperti Wing Chun, juga kerap menggunakan ruyung sebagai senjata dalam beberapa aksi laganya.

"Ruyung atau chaku itu adalah senjata yang identik dengan Nunchaku.
Kadang ada yang berbentuk triple stick, tapi yang lazim dipakai adalah yang double stick, karena lebih mudah di bawa dan digunakan," tutur Misbahul Hasan, salah satu pendiri, guru, juga ketua Jember Nunchaku Club (JNC), komunitas Nunchaku di Jember.

Sebagai sebuah aliran olahraga seni bela diri, Nunchaku memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan keunikan tersebdiri. dari berbagai literatur sejarah disebutkan, Nunchaku mulai diadopsi oleh masyarakat Ryukyu di Okinawa Jepang sejak sekitar tahun 400-200SM. mereka merupakan imigran yang berasal dari Tiongkok dengan kultur dan mata pencarian di bidang agraris.

Nunchaku merupakan alat pertanian yang dipergunakan untuk merontokkan biji-bijian pada padi maupun kacang-kacangan seperti kedelai dan sejenisnya. "tetapi karena ada kebijakan larangan membawa senjata tajam pada masa itu, maka alat ruyung atau chaku ini kemudian dimodifikasi menjadi senjata untuk bela diri," terang Misbahul.

Di Indonesia, lanjut Misbahul Nunchaku mulai masuk sejak masa penjajahan Jepang. "Dulu memang sempat ada Nunchaku yang murni untuk bela diri. tetapi sekarang, lebih pada free style. dan gerakan NUnchaku bisa diadopsi oleh berbagai aliran atau perguruan bela diri mana pun," tutur pria asal Sempursari, Kaliwates ini.

Sebelum aktif di Nunchaku, Misbahul mula-mula menekuni pencak silat dengan bergabung ke perguruan Al-Musyir pada usia 15 tahun. selang beberapa tahun kemudian, Misbahul lantas pindah ke perguruan Asadur Rijal. aliran Macan Putih. "dulu saya sempat membuka cabang perguruan Asadur Rijal di Timor Leste selama empat tahun, sejak tahun 2010. cuma, karena alasan pekerjaan, saya kembali ke Jember," cerita Misbahul.

Hal senada juga disampaikan Abdul Ghofur, rekan Misbahul yang juga Wakil Ketua JNC. sebelum aktif menggerakkan Nunchaku di Jember, Ghofur lebih dulu menekuni Wushu Sanda dan Kung Fu perguruan Wono Roseto. selain Nunchaku, Ghofur dan Misbahul saat ini juga sedang mempelajari bela diri Alkido.

Kedua orang tersebut kemudian bertemu dengan De John Yassin yang lebih dulu jago menguasai Nunchaku. ketiganya lantas sepakat untuk mendirikan komunitas Nunchaku di Jember dengan nama Jember Nunchaku Club pada November 2017 lalu.

namu, Yassin yang juga atlrt pencak silat Asadur Rijal, saat ini tinggal dan bekerja di Bali sembari mengajar bela diri.
"Sebenarnya JNC ini cabang dari Indonesia Nunchaku, regional Jember. cuma, agar mudah dikenal, kita pakai nama Jember Nunchaku Club saja," terang Abdul Ghofur, wakil ketua JNC. di tingkat nasional, JNC mulai berdiri pada tahun 2008 yang diinisiasi oleh Deddy Irmawan, salah satu penggiat beberapa macam bela diri di Indonesia.

Dari semula 3 orang, jumlah anggota JNC kian bertambah. hingga kini, di usia yang baru 8 bulan, jumlah anggota JNC mencapai 25 orang. selain hadir di media sosial, kian populernya Nunchaku di Jember juga ditompang oleh latihan yang mereka lakukan di ruang terbuka. setiap hari minggu pagi, para anggota JNC rutin berkumpul dan berlatih di Alun-alun Jember. sesekali, mereka juga berlatih di tempat lain seperti di lapangan Unej.

"Kita berlatih di ruang terbuka. selain untuk menarik minat masyarakat, juga alasan keamanan. kita biasanya memilih hari Minggu karena libur. jadi sekalian bisa ajak anak," sambung Abdul Ghofur. salah satu variasi ari gerakan Nunchaku adalah penggunaan api pada dua ujung double sticknya. atraksi ini selain menghibur, juga harus dilakukan oleh mereka yang sudah berpengalaman.

Di Jember, gerakan Nunchaku memang lebih banyak menonjol sebagai atraksi free style ketimbang bela diri. sebagai atraksi free style, Nunchaku memiliki empat teknik dasar, yakni Huricane, Helicopter, Tornado, dan Fingering. "untuk bela dirinya bisa dikombinasikan dengan aliran beladiri lain," lanjut alumnus Fakultas Hukum UIJ ini.

Chaku atau ruyung sebagai alat utama dalam Nunchaku bisa didapatkan dengan mudah. masyarakat bisa mendapatkannya mulai dari harga Rp 65 ribu hingga yang paling mahal mencapai Rp 500 ribu. "kalau yang bagus itu lebih ringan enak didenagr. biasanya impor, harganya mulai Rp 200 ribu sudah dapat," tutur pria yang bekerja di salah satu perusahaan rokok di Jember ini.

Jika ingin lebih hemat, masyarakat bisa membuat sendiri alat Chaku dari bahan pipa paralon atau gabus. adapun besi tidak dianjurkan untuk menjadi bahan ruyung karena alasan keamanan. "kalau masih belajar, bisa memakai paralon atau gabus, karena lebih aman. resikonya kan bisa terkena tubuh kalau masih proses belajar," ujar Ghofur.

Sebagai olahraga olah tubuh dengan senjata tumpul, risiko sedera karena ruyung mengenai anggota tubuh, sudah akrab bagi mereka yang baru memulai belajar Nunchaku. "saya awal-awal belajar, sering juga cedera. kunci untuk menguasai adalah keberanian dan ketekunan untuk belajar," tutur pria yang juga juri wushu sanda tingkat jawa timur ini.

Selama beberapa bulan, peminat Nunchaku di Jember datang dari berbagai kalangan. salah satunya adalah Pratu Wahyudin, anggota Brigif Raider 9/2 Kostrad. "awalnya, saya melihat adik liting (tingkat, red) saya memainkan Nunchaku, saya langsung tertarik karena gerakannya cukup indah," tutur Wahyudin yang ditemui jawa pos Radar Jember saat tengah berlatih bersama, di alun-alun Jember.

Sejak itu, hampir setiap hari wahyudin berlatih Nunchaku di asramanya. dalam tradisi meliter, gerakan Nunchaku juga banyak dikembangkan. pada beberapa atraksi militer saat acara resmi, sering kali prajurit mempertunjukkan gerakan Nunchaku yang identik dengan kelincahan tangan. "beberapa gerakan yang sudah saya kuasai anatara lain lemparan belakang, memuatar jari, memutar leher, memutar balik badan, serta api," jelas Wahyudin.

Tak hanya orang dewasa. Nunchaku di Jember juga dinikmati oleh anak-anak. seperti Rio, salah satu anggota JNC yang masih duudk di bangku sekolah dasar. "Rio ini baru beberapa minggu intesif berlatih bersama JNC di alun-alun. tapi gerakannya sudah jauh di atas saya, karena dia cukup rajin. setiap hari berlatih," jelas Abdul Ghofur.

Ke depan, JNC merencanakan pembuatan kartu anggota, sesuai wacana yang berkembang di tingkat nasional. "karena chaku ini kan bisa jadi senjata, sehingga ketika anggota pergi, bisa ada kemungkinan terkena razia dari polisi," tutur Ghofur. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 29 MEI 2018

Rabu, 09 Januari 2019

MELIHAT CARA CYBER PATROL POLRES JEMBER AWASI HOAX

Ajak netizen dan Pegiat Media Sosial Ikut Laporkan Hoax

Biasanya, patroli yang dilakukan oleh polisi dengan membawa mobil keliling ke berbagai tempat. namun itu terjadi di dunia nyata. berbeda dengan patroli memantau kejahatan di dunia maya.

BAGUS SUPRIADI, Jember Kota

DI RUANG Media Command Center Polres Jember, ada empat panel digital denagn ukuran besar. masing-masing layar itu berisi tentang media sosial, mulai dari facebook, instagram, teitter, dan website Polres Jember sendiri. di sebelahnya, terdapat layar berisi vidio lalu lintas Jember.

Ruangan itu tak hanya digunakan untuk perkembangan media sosial. tetapi juga untuk memantau lalu lintas di Jember. di sana, ada tim cyber patrol yang mengawasi semua hal di media sosial. mulai dari status, berita, memantau grup dan lainnya.

Ada dua komputer khusus yang disiapkan untuk petugas tim cyber patrol.
Namun, ada pula anggota tim yang memantau perkembangan media sosial melalui gawai. kapolres jember AKBP Kusworo Wibowo sedanmg berada di dalam ruangan itu.

"Ini ruangan untuk memantau media sosial cyber patrol ini dibuat 2017 lalu," katanya pembentukan itu secara serentak dilakukan diseluruh kepolisian di jawa timur. tujuannya untuk mengantisipasi kejahatan dunia maya, seperti hoax dan kampanye hitam.

Jember, kata dia, berpotensi untuk meneruskan penyebaran berita hoax atau kampanye hitam. namun, belum ada kelompok yang membuat berita hoax. namun warga hanya membagikan tanpa melihat kebenarannya. "memang ada kelompok yang dibayar menyebarkan berita hoax, namun di Jember masih belum ada," tegasnya.

Selama 2018, ada 8 ujaran kebencian yang diterima oleh polres jember. salah satu contohnya, polres jember langsung melacak pelaku kejahatan di dunia maya. yakni salah seorang warga yang mengunggah gambar karikatur mengencingi bendera merah putih. netizen sendiri sudah geram dengan tindakan tersebut dan terjadi peran komentar yang panas.

Mendapati pesan negatif yang bertebaran di media sosial facebook dan whatsapp, polres langsung melacak. tim digerakan agar pembuat konten itu segera ditemukan. hasilnya, pelaku bisa segera diamankan.

Pelaku dari penyebaran berita palsu atau ujaran kebencian itu rata-rata asih dibawah umur. mereka merupakan generasi milenial yang erat dengan gawai, namun tidak tahu caranya dan belum paham bahwa ada konsekwensi hukum. "motifnya karena iseng emosi pribadi," ujarnya.

Patroli di dunia maya memang tidak semudah yang dibayangkan. sebab, harus melihat media sosial dengan jeli. namun, ada beberapa cara yang cukup mudah. seperti melihat hastag yang sedang berkembang.

Dalam melakukan patroli, polres Jember mengajak netizen untuk ikut aktif. seperti relawan TIK, Info Warga Jember dan Mimin Pantau. mereka ikut menjadi tim cyber patrol polres jember. "selain patroli, kami juga memberdayakan warga unutuk patroli," ucap kusworo. kejahatan duniamaya, kata dia, bisa dilaporkan melalui website polres jember.

Seandainya ada gangguan keamanan. baik di dunia maya atau nyata. perlu dilaporkan untuk ditindaklanjuti. "kalau beneran kami datang ke TKP, misal kecelakaan, unit lantas segera berangkat untuk cek lokasi," tambah kusworo.

Kalaupun informasi itu hoax, maka polres jember akan sampaikan bahwa berita itu hoax dan diberi stempel hoax. "ujaran kebencian itu delik pidana aduan, kalu tidak ada pidana yang diadukan, tidak bisa ditindak, kecuali pihak yang dicemarkan nama baiknya melaporkan." paparnya. saat itulah, polres jember bisa melkaukan tindakan sesuai dengan UUITE NO 19 tahun 2016 atas perubahan No 11 Tahun 2008.

Dia menambahkan, polres Jember sedang mengantisipasi kejahatan di dunia maya menjelang pilgub. selain menggandeng netizen dan pegiat medsos, juga melakukan koordinasi dengan Panwaskab Jember. "kalau ada tindak pidana pemilu di medsos, kami komunikasi dulu dengan Panwaskab Jember," tambahnya.

Langkah lain yang dilakukan adalah dengan menggelar deklarasi antihoax. hasilnya mampu menekan warga untuk menyebarkan berita hoax. kedua, kata dia, menggelar seiminar untuk mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan media sosial.

Ketiga, lanjut dia, mengundang media masa setiap diketahui oleh warga. sehingga mereka bisa sadar bila menyebarkan berita palsu ada konsekuensi hukum. "akhirnya warga yangmau coba-coba ga jadi," tuturnya.
Sementara itu, Zainul Hasan, anggota RTIK Jember yang juga salah satu tim cyber patrol menambahkan setiap media sosial diawasi oleh satu orang dalam tim tersebut. dirinya bertugas mengawasi instagram. "yang banyak terjadi menjelekkan pasangan cagub melalui gambar," tuturnya.

Menjelekkan lawan politik dalam pilgub jatim dengan tuduhan yang tidak jelas. hal itu banyak ditemui di instagram. ada waktu rawan penyebaran kampanye hitam, seperti usah pelaksanaan debat kandidat. "ketika kami menemukan, langsung dilaporkan pada grup cyber," imbuhnya.

Diakuinya, patrol hoax dan kampanye hitam tidak bisa ditentukan. sebab, banyak akun fake yang bertugas menyebarkan. "yang kami monitoring akun tertentu yang menjadi perhatian khusus," pungkasnya. (cl/wah)

SUMBER : JP-RJ 28 MEI 2018

Selasa, 08 Januari 2019

TOMISA; PENJAHIT KAMPUNG YANG KARYANYA DIMINATI HINGGA TURKI

Beri Kursus Gratis untuk Warga Miskin dan Anak Yatim

Meski rumahan, karya busana Tomisa ternyata punya daya tarik tersendiri. bahkan, diminati hingga Turki. banyak cerita di balik perjungan panjangnya itu. Tempaan balasan tahun dengan berbagai pengalaman pahit pernah diterima. mulai dari ongkos jahitan tak dibayar sampai ditipu dengan iming-iming bantuan.

WAWAN DWI SISWANTO

RUMAH Tomisa boleh dibilang masih di kawasan kampus. bagi kebanyakan orang, tinggal di daerah kampus cukup menyenangkan. banyak fasilitas. apa-apa mudah. untuk bisnis pun oke.

Rumah Tomisa yang akrab di panggil Bu Titin ada di JL Tidar. dekat dengan Secaba. jalan menuju rumah Bu Titin agak berbeda dengan gang-gang pada umumnya di kawasan kampus. masih jalan makadam. tak ada aspal, tak berpaving.

Di gang itulah Tomisa setiap hari berkarya. selain itu, di kampungnya dia juga dikenal sebagai orang yang memberi kursus menjahit.

Rumah Bu Titin ini sangat sederhana. tapi rumah itu tak pernah sepi. ada saja ibu-ibu yang beraktivitas di sana. orang-orang di rumah Bu Titin tidak selalu menjahit baju, tapi mereka banyak yang belajar. "Ini saja ada empat yang kursus," ujarnya.

Perempuan dua anak ini mengaku sama dengan ibu rumah tangga lainnya yang awalnya tak punya keahlian menjahit. dia mendapatkan ilmu menjahit itu saat bekerja di permak jeans. mulai memahami menjahit, Bu Titin mulai tertarik untuk mendalaminya dan memilih kursus menjahit. "Buka usaha jahit ini sudah jalan 10 tahun, yang kursus sudah 7 tahun," ujarnya.

Tiga tahun pertama menjalankan usaha jasa menjahit, dia prihatin dengan keadaan sosial masyarakat sekitar. bukan faktor ekonomi saja yang menjadi perhatiannya, tapi mulai banyaknya pergaulan bebas,. "Dulu itu banyak anak-anak sini kepancing ke hal-hal kenakalan remaja, apalagi untuk perempuannya," katanya.

Sehingga, Titin, mulai ada ide bagaimana perempuan sekitar rumahnya ini diberikan ilmu menjahit. merangkul perempuan yang menganggur termasuk ibu rumah tangga, lambat laun pergaulan bebas mulai bisa terhindar. "Pertama membuka kursus ke tetangga yang gratis," imbuhnya.

Hingga saat ini setidaknya ada 25 penjahit batu yang dilahirkan Titin lewat kursusnya tersebut. perempuan yang juga pernah mengajar menjahit di lembaga pemberdayaan perempuan keluarga berencana (LKKB) ini sebenarnya tak menarik ongkos. sebab, ongkos kursus itu sebetulnya kembali ke peserta. "Setiap hari mengeluarkan bahan kain dan tiap hari juga harus membuat baju. untuk makan juga makan di rumah," tambahnya.

Namanya kini telah menjadi rujukan belajar menjahit. namun, Bu Titin tetap tak lupa berbagi. dia memberikan kursus menjahit gratis kepada anak yatim dan orang yang tak mampu. "Hitung-hitunh amal, syukur-syukur bisa buka jahitan sendiri," ucapnya.

Semakin banyak yang kursus di tempatnya, juga makin banyak usaha jasa menjahit. justru membuatnya kebanjiran order. salah satunya adalah pesanan dari Turki yang setiap minggu minta 100 baju. "kalau dikerjakan sendiri nggak bisa. jadi ada anak-anak yang buka jahitan, bisa membantu," jelasnya.

Certa meraih pesanan hingga ke negara Eropa tersebut tak ada dalam rencananya. saat pernah bekerja untuk pembuatan kebaya, ada orang yang tertarik dan memesan. ternyata pesanan itu dikirim ke Turki.

Bu Titin telah berkontribusi terhadap perempuan di Jember lewat transfer ilmu menjahit juga pernah mengalami pil pahit. tertipu itulah yang sering terjadi. tertipu karena baju sudah dijahit tapi sama pemiliknya tak kunjung diberi upah, sudah biasa terjadi. tapi dia beranggapan rezeki itu akan datang lagi dan sering kali terjadi setelah ada saja orderan baru datang.

Tertipu paling menyesakkan hatinya adalah diberi harapan palsu akan diberi bantuan mesin jahit. ya perempuan 37 tahun ini pernah dijanjikan mendapatkan bantuan mesin jahit, tapi harus mengurus akta pendirian perusahaan hingga ke notaris dan pengadilan. "katanya harus ada akta dari kemenkuham dan sudah membayar Rp 2juta. serta selesai urus di notaris, pengadilan, dan NPWP," imbuhnya.

Nyatanya janji hanya sekadar janji. jutaan rupiah, tenaga, dan waktu dikeluarkannya tetap saja janji itu cuma PHP. Hingga saat ini dia tetap punya tiga mesin jahit jadul yang beli bekas dan kemudian diperbaiki.

Nama Titin sebagai rujukan kursus menjahit juga didengar sampai tanggul. seperti Lis Prihatiningsih warga Tanggul yang ingin belajar menjahit. "sudah jarang sekarang yang buka kursus menjahit. menjahit juga peluang usaha di Tanggul, karena sedikit di sana," katanya. (cl/ras)

SUMBER : JP-RJ 27 MEI 2018

Senin, 07 Januari 2019

RONI SUSANTO, KREATOR TAS MAJA PANDHALUNGAN YANG MENDUNIA

Terinspirasi Suku Badui Meski Proses Pembuatan Lama


Tas yang terbuat dari buah maja ini berawal dari keisengan Rony Susanto. Bahkan, sang pembuat sempat minder dan dicibir. Namun, kini eksistensinya menembus pasar mancanegara. hal ini karena sentuhan seni bernilai tinggi hasil sentuhan tangan dingin pria asal Desa Balung Tutul, Kecamatan Balung ini.

RANGGA MAHARDIKA, Jember.

SEKILAS, memang gaya pria dengan menggunakan tas berbentuk unik ini terlihat berbeda. bukan hanya tasnya yang berbentuk bulat, tetapi juga dengan berbagai aksesoris yang memperlihatkan dirinya seseorang seniman sejati. namun, gaya bahasa Jawa Khas kuulonan langsung kental menunjukan keakraban.

Dialah sosok Rony Susanto, pria kelahiran Jember, 12 Maret 1980 ini tampil di publik. dirinya memang kini cukup aktif dalam sejumlah kegiatan seni di Jember, terutama yang digelar bersama Rumah Budaya Pandhalungan. Tak lupa, Rony juga sembari menjalankan tas unik yang merupakan buah karya tangannya, tas maja pandhalungan.

Dari namanya saja, orang akan tahu jika ini adalah tas yang terbuat dari buah maja. padahal, selama ini buah maja, yakni buah hijau besar ukuran kepala orang dewasa dengan permukaan mulus namun keras, paling langsung dibuang begitu saja oleh masyarakat. buah maja merupakan buah yang juga cikal bakal nama kerajaan nasional Majapahit.

Tetapi di tangan Rony Susanto, perajin aasal Desa Balung Tutul, Balung, dengan sentuhan kreativitas buah ini diubah menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. "Sejak awal, saya melihat buah ini cantik," ucap suami dari Ika Lutfa ini. Awalnya juga hanya coba-coba saja, dengan melakukan pengamatan dan evaluasi terhadap buah maja ini.

Dirinya pun kemudian mencoba untuk melakukan sejumlah kreasi dari buah tersebut. sempat kebingungan, namun karena tekstur yang keras serta ada ruang di bagian tengahnya, kemudian muncul ide di benak-benaknya. "akhirnya saya coba buat sedemkikian rupa menjadi tas ini," ucapnya mengenang yanbg dilakukannya 2015 lalu.

Kebetulan, Rony muda memang telah melanglang buana ke sejumlah tempat di indonesia. dirinya sudah berjalan kaki   mengelilingi pulau jawa pada 2004-2005 selama 7 bulan lamanya. dengan demikian, banyak referensi dan ide yang ingin dituangkannya ke dalam sebuah karya. apalagi, diaa bersama keluarganya tinggal di Tutul Balung ynag merupakan pusat kerajinan manik-manik di Jember.

Tetapi untuk mewujudkannya menjadi sebuah tas bukanlah hal yang mudah. "Karena saat itu tidak punya alat," jelas bapak dari Fatimah Umi Zahra dan Aquila Najwa ini. hanya bermodal pisau, dia mencoba berkrasi. buah maja ini dibersihkan dan dikeringkan hingga buahnya mengeras. ini membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. buah ynag mengras terlebih dahulu diluruskan permukaannya, karena banyak seratnya.

"Untuk pembersihan, saya lakukan sendiri, ada tekniknya agar buah tidak bau," tutrnya. buah maja kering diberi tali dan ditambah ukiran dan lukisan khas Jawa, sehingga kesan etnik pun semakin keluar. untuk tali, Rony menggunakan bahan yang terbuah dari kulit pohon waru. ide ini didapatnya dari suku Badui di Jawa Barat yang juga pernah disinggahinya. prosesnya juga butuh sekitar 7-10 hari.

Dengan anyamannya yang rumit, membuat buah ynag awalnya menariik. untuk menambah estetika, ditambahkan hiasan dengan ditempelkan manik-manik tulang kering dan kayu cendana agar semakin unik serta memiliki aroma alami. karena keunikannya, tas berbahan buah maja yang diberi nama tas maja pandhalungan ini berhasil menembus pasar internasional.

"Tapi awalnya minder. apa ya tas ini ada yang mau," ucapnya. namun, semuanya berawal saat dia pergi ke Bali menggunakan tas itu. sempat merasa diikuti, ternyata orang yang mengikuti hanya bertanya di mana membeli tas tersebut. tas ini pun semakin banyak diminati. akhirnya, tas tersebut sudah dipasarkan hingga berbagai daerah bahkan internasional.

sejauh ini, tas maja pandhalungan ini sudah dipasarkan ke berbagai kota-kota besar seperti Jogjakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Jakarta. juga sudah banyak ynag dikirim ke luar negeri. Australia, Suriname, Brunei, dan sebagainya. dirinya mengaku, pemasaran tas karyanya tersebut ada yang lewat sejumlah seniman di Bali dan juga Jogjakarta.

"Sementara dipasarkan secara online dulu. sekali kirim bisa sampai puluhan buah," jelasnya. keunikan dari tas buah maja ini semakin banyak disukai masyarakat karena tidak hanya cocok untuk digunakan dalam berbagai kegiatan, namun juga bisa dijadikan hiasan.

Dari buah maja ynag semula tidak bernilai dan hanya dibuang oleh masyarakat, kini harga jual Tas Maja Pandhalungan ini memiliki nilai yang sangat tinggi. pasalnya, satu tas maja pandhalungan berkisar senilai Rp 200-300 ribu per buah. selain itu, tas ini juga sudah ikut memeriahkan sejumlah gelaran budaya di Jember. (ram/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 25 MEI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...