Selasa, 11 Desember 2018

SMA NURIS RAIH 6 PRESTASI TINGKAT NASIONAL SELAMA 2018

Temukan Solusi Literasi, Raih Juara Dua KTI Nasional

Pelajar SMA Nuris terus membuktikan kemampuannya di tingkat nasional. Mereka mampu bersaing dengan sekolah negeri ternama. Terbaru, karya tulis ilmiah tentang solusi literasi bagi anak-anak meraih juara dua lomba KTI di Unner Malang.

BAGUS SUPRIADI, Sumbersari.

DELEGRASI dari SMA Nuris saat mengikuti lomba karya tulis ilmiah (KTI) tingkat nasional di Universitas Merdeka Malang membanggakan. Selain meraih juara dua, mereka juga meraih best presentation. juara satu diraih oleh SMAN 1 Malang.

Tiga pelajar itu adalah Sukmal Insan Rohmatullah, Lailatul Muhafidah, dan lailatul Karomah. Mereka merupakan pelajar kelas XI IPA 1 dan 25MA Nuris. Mereka memang memiliki ketertarikan dengan karya tulis ilmiah, sehingga selalu melakukan percobaan.

Karya tulis yang diikutkan lomba itu berjudul Menuju Indonesia yang Lebih Baik Melalui Langkah dan Raih (LDR) guna Meningkatkan Minat Baca Anak di Desa Bintoro.

Karya ilmiah itu membuat juri tertarik. "Kami hanya kalah karena tidak membawa alat praktik," kata Lailatul Muhafidah.

Menurutnya, penelitian itu dilakukan di Desa Bintoro Kecamatan Patrang. Mereka datang ke sana untuk melihat tingkat literasi anak-anak. Berkeliling dan melakukan wawancara. Ternyata, tak mudah membuat anak agar cepat bisa membaca dan menulis.

Selama sehari di Bintoro,tiga pelajar itu menemukan ide untuk mencarikan solusi agar anak-anak suka membaca. Yakni membentuk metode LDR, permainan anak-anak mencari huruf-huruf yang disembunyikan. "Jadi, metode itu yang kami tulis," ujarnya.

Mereka pun menuliskannya dalam bentuk ilmiah. Merumuskan masalah, mencari kajian pustaka, dan lainnya. Setelah itu, mereka mengirimkan abstrak yang dibuat kepada panitia. Ternyata lolos dan harus presentasi di Malang, bersaing dengan peserta lainnya ditingkat nasional.

Saat presentasi, tiga pelajar itu mampu menerangkan hasil penelitian dengan fasih. sayangnya, mereka tidak membawa alat peraga hasil penelitian. Akhirnya, mereka kalah karena peserta SMAN 1 Malang membawa alat peraga. "Kami tidak membawa, hanya memperlihatkan vidio," paparnya.

Selain juara dua, siswa SMA Nuris juga meraih presentasi terbaik. Mereka adalah Anisa Sakinah, Widi Astutik, dan Dian Ayu Wahidah. Judul KTI yang dipresentasikan adalah Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Menjadi Gula Cair Guba Meningkatkan Perekonomian di Kabupaten Jember.

Presentasi yang diraih oleh pelajar SMA Nuris bukan hanya itu. Selama tahun 2018, mereka sudah meraih enam piala tingkat nasional. Kemudian, 16 penghargaan tingkat provinsi, delapan piala tingkat  eks Karasidenan Besuki, dan 16 piala tingkat Kabupaten. "Total ada 46 piala selama tahun 2018," kata Kepala SMA Nuris Gus Robith Qosidi LC.

Presentasi itu dari berbagai bidang, mulai dari bidang sains, agama, bahasa, dan lainnya. Seperti juara satu lomba esai tingkat nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM). Juara dua lomba Robotika Line Follower tingkat nasional di Universitas Brawijaya. Juara tiga olimpiade biologi tingkat Jawa Timur-Bali di Universitas Jember.

Bahkan, dalam olimpiade akuntansi, mampu meraih juara dua tingkat eks karesidenan Besuki di IAIN Jember. Di bidang tulis menulis, para siswa juga meraih juara satu menulis puisi. Selain itu, juga meraih juara satu OSK Kimia tingkat kabupaten di SMAN 1 Jember.

Tak hanya itu, di bidang bahasa, siswa SMA Nuris juga meraih berbagai prestasi yang membanggakan. Juara dua pidato bahasa inggris tingkat kabupaten. Beberapa dari siswanya yang aktif di ekskul sains TOEFL juga mengikuti tes TOEFL.

Ada Utari Isni Aryida Fitri yang meraih nilai TOEFL 527. Lalu, Nais Septia Ningrum meraih nilai 520. Mereka yang berhasil meraih nilai TOEFL tingkat itu mendapat penghargaan dari SMA Nuris memperdalam bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Prestasi yang diraih oleh para pelajar itu merupakan upaya SMA Nuris untuk mengembangkan bakat siswanya. Mereka dilatih secara profesional. Siswa yang suka dengan ilmu sains, memilih tinggal dikamar sains. Suka di bidang ekonomi, memilih fokus mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. (gus/mgc/hdi)

SUMBER: JP-RJ 17 MEI 2018

Senin, 10 Desember 2018

REZANDRA, MANTAN PEMAIN JEMBER YANG MELATIH KLUB PAPAN ATAS INDIA

Terapkan Latihan Keras dan Ketat untuk Mencetak Pemain Andal

Lama tak terdengar, ternyata Rezandra Putra Hardita jadi pelatih utama di Shinning Star Academy, New Delhi India. Ini adalah salah satu klub papan atas India, yang banyak menelurkan pemain muda berbakat.

HADI SUMARSONO, Jember Kota

ERA 2005 silam, adalah era emas bagi Rezandra Putra Hardita. Sebagai pemain muda junior, saat itu dia sukses menembus persaingan ketat bulutangkis nasional.

Reza, pemain asli Jember ini matang ketika pada tahun 2000 hijrah ke salah satu klub papan atas Indonesia, PB Djarum Kudus. Di sinilah, dia malang melintang di satu kejuaraan ke juaraan lain. Tak hanya level nasional Indonesia, namun juga sering tampil di level internasional.

Puncaknya adalah ketika pada 2009 silam, sukses merebut juara ASEAN University, yang berlangsung di Malaysia. "Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah gantung raket.

Saya fokus sebagai pelatih saja," ucap Reza, kemarin malam.

Sejak 2010 karir pemain Reza memang lagi turun pamor. Penyebabnya, saat tampil di kejuaraan internasional Challenge di Surabaya (kalender rutin WBF) dia mengalami cedera lutut yang lumayan parah. Berbagai terapi sudah dicobanya. Namun tak kunjung sembuh.

Lambat tapi pasti, dia pun mundur dari dunia bulutangkis profesional. Dia keluar dari PB Djarum Kudus, kembali ke Jember. "Di kampung (Jember, red) tetap latihan. Tapi hanya sekadar jaga stamina saja. Emang hobi," jelasnya.

Sambil mengisi waktu pria kelahiran 11 Januari 1989 ini juga mencoba meniti karir sebagai pelatih. Dia pernah jadi sparring partner tim peru (Peru Badminton Association), kemudian Guatemala, Badminton Club Osaka Jepang, dan terakhir ikut melatih tim junior Putra Suryanaga Jember.

Dan tiba-tiba, pada 2015 lalu mantan pemain yang tinggal di Perun Puri Bunga Nirwana Sumbersari Jember ini di hibungi oleh Akhay Dewalkar, untuk melatih India. "Akhsay Dewalkar adalah teman dekat saya waktu sama-sama aktif latihan di PB Djarum Kudus. Kami juga sering ketemu di turnamen internasional," jelasnya.

Kedekatan inilah, yang membuat Reza mantap terbang ke India untuk menukarkan ilmunya. Selama setahun, dia melatih D'Academy Badminton, New Delhi. Kemudian pada tahun 2016 dapat tawaran melatih di Shinning Star Academy, juga di New Delhi.

"Sampai sekarang masih melatih Shinning Star Academy. Sebagai pelatih utama. Saya pegang single Usia 17-19 tahun," jelasnya.

Di Klub ini namanya mulai dikenal. Apalagi Shinning Star Academy adalah akademi bulutangkis terbesar kedua di India, setelah Ghopican Academy. Di sinilah, TC timnas junior India digembleng. "Kalau timnas senior kayak Srikanh Kidambi dan PV Shindu, latihannya di Ghopican Academy," jelasnya.

Reza menyebut, pola latihan di Jember dengan India berbeda. Terutama soal hari. Di India, latihan hari selasa hingga minggu. Justru Senin Libur. Sehari juga latihan tiga kali. Pagi jam 05.00-07.30. Kemudian siang jam 11.00-14.00, disusul malam jam 18.00-20.30. "Semua pemain disiplin. Jarang absen," jelasnya.

Di klub ini, total ada enam pelatih, termasuk dua asisten. Tiga diantaranya dari Indonesia. Yakni Viki Indra Okvana (pegang double), Veronika Pratama dan Maya Dewi (pegang usia 15 tahun). "saya sendiri pegang sennnnnior (U-17 sampai U19 tahun)," tambahnya. Lewat tangan dinginya, sudah banyak anak asuhnya yang jadi juara, baik di level India maupun internasional junior.

Sikap profesional benar-benar diterapkan di India. Tak heran, belakang muncul pemain-pemain dunia asal India karena pola latihan yang keras dan benar seperti itu.

Reza menyebut, beru dapat liburan tiap enam bulan sekali. Sebagai pelatih, dia juga berhak atas apartemen, sampai transportasi. "Soal kebutuhan, semua tercukupi. Cuma satu yang susah, soal makanan," selorohnya. Untuk mengakali hal itu, dia terpaksa memasak sendiri di apartemennya.

Pemain Jember sendiri, menurut Reza, sebenarnya banyak bibit-bibit muda potensial. Namun, sikap mental sepertinya harus jadi perhatian utama untuk mencetak seorang pemain tangguh.

"Sekarang ini, kayaknya banyak atlet yang gampang menyerah. kasarannya nggak mau soro. Badminton tidak bisa dihasilkan secara instan. Jadi jangan gampang menyerah dengan keadaan," pungkasnya. (hdi)

SUMBER : JP-RJ 16 MEI 2018

Minggu, 09 Desember 2018

PUJASERA TRADISIONAL SEMANGGI, AMAL USAHA KEMANDIRIAN EKONOMI WARGA

Dibangun Bareng, Hasilnya pun bisa Dinikmati Bareng

Hidup di tengah lingkungan pertokoan bukan berarti tak bisa kompak antarwarganya. Buktinya,  mereka yang tinggal di RW 27, Kelurahan/kecamatan Sumbersari, bisa bergotong royong membangun usaha bersama, berkonsep pujaserta tradisional. seperti apa?

RULLY EFENDI, Jember kota

NAMANYA Pujaserta Tradisional Semanggi. Supaya lebih mudah diingat, mereka menyebut warungnya dengan nama Putra Semanggi. Putra tak lain akronim dari pujasetra tradisional. Sedangkan Semanggi, mengadopsi nama jembatan yang ada disekitar wilayahnya.

Secara fisik, tak ada yang berbeda dengan tempat tongkrongan lain. Terlebih di sekitaran kampus. Pun demikian dengan sajian makanannya. Tidak jauh berbeda. Hanya saja, menu yang dijual beberapa ada yang tradisional. Mulai dari minuman, makanan ringan, hingga nasi jagung yang jadi andalannya.

Namun, di luar itu ada yang menarik di pujasera yang ada di tengah perkampungan RW 27 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari tersebut. Semua pengelolanya warga setempat. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga remaja kampung, berbaur membangun amal usaha. Tentu, untuk kemandirian ekonomi warga setempat.

Sebelum dibangun pusat jajanan rakyat, tempat usaha itu tak lain bekas lapangan bulu tangkis. Namun, tidak pernah dimanfaatkan lagi, sehingga kotor dan tidak terawat. "Kemudian kita manfaatkan untuk pujasera, Ritop Sukoco.

Rencana pembangunan pujasera rupanya disambut donatur yang tak lain warga setempat. Dia menyanggupi pembiayaan pendirian bangunan pujasera. Namun, semangatnya tetap gotong royong. Sehingga, tak heran, tukang bangunannya pun tidak mereka bayar, karena bagian dari warganya.

Kompensasinya, mereka yang aktif ikut berpartisipasi mendirikan pujasera diperbolehkan menitipkan makanan dagangannya. Namun, tetap ada pembagian hasil. Meski persentasenya tidak banyak. Sebab, dari pembagian hasil tersebut, dana yang terhimpun digunakan lagi untuk operasional pujasera.

Ternyata bukan hanya selesai di sana. Pendapatan pujasera juga disiapkan untuk kas lingkungan. Agar ada support anggaran saat ada kegiatan di lingkungan mereka. Sehingga, seperti tujuan awal, warga di RW pitu likur bisa benar-benar mandiri.

Supaya lebih kental dengan nuansa tradisional, pengelola memasang beberapa kata-kata kuno yang mengandung nilai filosofi tinggi. seperti Jarkoni: Iso Ujar Iso Ngelakoni (Bisa Bicara, tapi tidak bisa melakukannya).

Beberapa bahasa yang dulunya lazim digunakan masyarakat juga dipasang di pujasera tersebut. Seperti jedeng yang artinya toilet. Kata-kata kuno seperti itu sengaja dipasang, tak lain untuk melestarikan  tradisi lawas. "Selain itu, untuk  menyampaikan pesan moral," ujar Ritop.

Pujasera itu tergolong masih "perawan". Sebab, baru Minggu (13/5) malam resmi dibuka. Namun yang pasti, meski memilih konsep tradisional, fasilitas seperti free wifi juga tersedia untuk menyaingi tawaran warung lain yang jadi kompetitornya. (rul/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 15 MEI 2018

Kamis, 22 November 2018

BERKAH PERATURAN ZONASI BAGI SEKOLAH-SEKOLAH PINGGIRAN

Dulu Murid dengan NEM Belasan Pun Bisa Diterima

Sempat kontroversial tahun lalu, pemerintah kembali menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA dan SMK negeri. Aturan ini dianggap memberi dampak agar sekolah-sekolah yang belum berada pada posisi unggulan untuk berbenah. Bagi sekolah di luar wilayah kota, ini menjadi berkah tersendiri.

LINTANG ANIS BENA K, Jember Kota.

SEMENJAK tahun ajaran lalu calon peserta didik baru harus mempertimbangkan jarak tempat tinggal dengan sekolah tujuannya. Hal tersebut tertuang dalam peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 tentang PPDB pada TK, SD SMP, SMA, SMK dan bentuk lain yang sederajat.

Dampaknya, dengan sistem zonasi, maka siswa mau tidak mau harus mendaftar di sekolah terdekat, tidak bisa lagi mendaftar ke sekolah yang jaraknya jauh tapi menyandang status favorit.

Tak ada lagi siswa pintar terkumpul di satu sekolah, yang selama ini disebut sekolah favorit.

Untuk tingkat SMA, di Jember sendiri terbagi menjadi enam zona yang mencangkup 18 SMA negeri. Bagi sekolah-sekolah yang bukan menjadi favorit masyarakat, kebijakan ini cukup membawa perubahan yang signifikan. Sebab muncul persaingan bagi siwa yang mendaftar dengan nilai ujian nasional. "Yang nilainya rendah, akan tergeser dengan sistem itu," ujar Ngatminah, kepala SMAN Jenggawah.

Sebelum adanya sistem zonasi, siswa yang nilai ujian nasionalnya cenderung lebih tinggi memprioritaskan pendaftarannya ke sekolah-sekolah favorit di pusat kota. Dengan adanya zonasi mereka harus memilih sekolah di zona kecamatan tempat tinggalnya. "Ini yang perlu dicatat, minimal satu sekolah pilihannya harus ada di zona tempat tinggalnya," tegasnya.

Di SMAN Jenggawah sendiri, kata dia, mengalami sejumlah perubahan sejak peraturan tersebut diterapkan oleh pemerintah. Salah satunya dari sisi jumlah pendaftar yang meningkat cukup signifikan.

"Kalau dulu, misalnya pagu yang tersedia 240, yang mendaftar hanya sekitar 100 siswa dan selebihnya dipenuhi dari limpahan sekolah lain. Karena pendaftar pertama tidak memenuhi pagu maka NEM berapapun pasti diterima," terangnya.

Namun tahun ajaran lalu, dirinya menerima kurang lebih 150 siswa pendaftar pertama yang mendaftar secara online. Selain dari jenggawah, beberapa juga datang dari kecamatan lain seperti ajung, Ambulu, Tempurejo, dan Wuluhan yang gabing dalam zona 4.

Selain jumlah pendaftar, peserta didik baru ini juga mengalami peningkatan kualitas pendidikan. Pada tahun 2017 lalu NEM tertinggi siswa yang daftar di SMAN Jenggawah mencapai 31, dan terendah yaitu 24. Ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, di mana banyak siswa dengna NEM rendah yang masuk ke sana.

Karena konsisi tersebut, tak sedikit siswa dengan NEM rendah yang bersekolah di sana. Sebelum 2017 ada saja siswa dengan NEM yang cukup mengenaskan. "Tertinggi hanya 22, bahkan yang NEM belasan saja ada," lanjut Ngatminah.

Sistem zonasi ini memunculkan seleksi alam bagi mereka yang memiliki NEM rendah. Namun dirinya menyangkal jika tidak menerima siswa dengan NEM rendah. "Kita harus menerima siswa dengan kualitas pendidikan apapun," imbuhnya.

Mengatur siswa pun menjadi lebih mudah. Menurut Ngatminah, etika mengimbangi kualitas pendidikan di sekolah. "Akhirnya muncul pemerataan kualitas pendidikan, tidak hanya di Jenggawah saja tetapi di sekolah-sekolah pinggiran yang lainnya. Siswa berprestasi tidak hanya bersekolah di wilayah pusat kota saja," tegasnya.

Walau begitu, perlu ditegaskan kembali bahwa siswa bisa mendaftar lintas zona apabila ingin mendaftar di sekolah lain. Syaratnya, satu sekolah harus berada di zona tempat tinggalnya. "Kalau ingin lintas zona berarti siswa tersebut tentu punya modal, misalnya prestasi yang tinggi, itu tentu harus diberi kesempatan untuk bersekolah lintas zona," lanjut Ngatminah.

Selain pemerataan kualitas pendidikan, sistem zonasi PPDB kali ini juga menekankan penerimaan peserta didik baru melalui berbagai jalur. Di antaranya jalur prestasi, bidik misi, mitra warga, dan inklusif. Hanya saja dinas pendidikan provinsi Jawa Timur tidak menunjuk satupun SMA negeri di Jember untuk menerima peserta jalur inklusif.

Jalur penerimaan melalui mitra warga ini juga menjadi sarana SMAN Jenggawah untuk menghimpun siswa. Diperuntukan bagi calon siswa yang belajar dari keluarga kurang mampu, calon siswa yang tinggal disekitar sekolah juga bisa masuk melalui kuota lima persen dari pagu.

Hampir mirip dengan bidik misi, jalur mitra warga memberi kesempatan siswa untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah dengan beasiswa. Namun jalur ini tidak mewajibkan pendaftar untuk menyertakan nilai rapor yang istimewa. "Tapi tetap disurvei mengani kelayakan tempat tinggalnya," kata Ngatminah. (wah)

SUMBER : JP-RJ 14 MEI 2018

Rabu, 21 November 2018

COKOLADES, KREASI SAMBAL COKELAT BUATAN ASLI JEMBER

Idenya Tidak Sengaja, Disukai di Luar Kota

Biasanya, kita menemukan cokelat dengan rasa campuran manis dan pahit, sedangkan sambal adalah makanan pedas. Namun, bagaimana jika keduanya dikolaborasikan? Inilah kuliner yang dibuat Eko Wahyuni, warga Jalan Raung. Kini, sambal kreasinya ini menjadi salah satu kuliner khas oleh-oleh dari Jember.

RANGGA MAHARDIKA, Sumbersari

SEORANG perempuan berjilbab tampak sibuk di ruangan seukuran 5x5 meter. Tangannya memegang sebuah alat seukuran kepal tangan orang dewasa. Dia terlihat sedang mengolah sambal. Aroma pedas pun menusuk.

Aroma pedas itu sesekali beradu dengan cokelat yang ada di sampingnya. Cokelat itu berbentuk pasta. Sangat kental. Aromanya menusuk-nusuk hidung jika tertiup angin.

Perempuan itu terlihat cukup cekatan. Sejurus kemudian, adonan penuh cabai yang sudah di bumbui dicampur dengan cokelat. Adonan itu kemudian ditempatkan dalam botol-botol kecil yang sudah disiapkan. Botol yang sudah diisi pasta cokelat campur sambal ini ditutup dengan plastik, kemudian di panaskan di atas air mendidih.

Semua proses itu dilakukan manual. "Ini proses pembuatan Cokolades alias Sambal Cokelat Echow," jelas Eko Wahyuni, pengrajin usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menciptakan kreasi baru cokelat itu. Menurut Yuni, ide menemukan makanan unik ini sama sekali tidak disengaja.

Perempuan yang juga bekerja di salah satu pusat fotokopi di Jember ini, awalnyabukan membuat cokolades,. Dia memang suka membuat sambal. Bahkan, sambal buatannya sudah banyak beredar. Namun, sambal itu sama seperti sambal pada umumnya. Seperti sambal teri, sambal cakalang, dan lain sebagainya.

Proses menemukan sambal unik juga bisa dibilang tidak disengaja, yakni saat dirinya mengikuti pelatihan dari pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang ada di Jember pada akhir Desember 2017 lalu. "Saat itu, disuruh membuat proposal usaha yang belum pernah ada. Basis usahanya harus cokelat," jelas Yuni.

Dirinya pun mengaku bingung. Apalagi, selama ini dia tidak memiliki pengalaman tentang cokelat. Dirinya merasa minder, apalagi saat itu banyak rekan-rekannya yang mengikuti pelatihan ini adalah barista yang banyak membuat segala hal tentang kopi dan cokelat. Dari pada bingung tidak ada yang diusulkan, dirinya pun menyebutkan akan membuat sambal cokelat.

"Padahal, saat itu belum tahu apa itu sambal cokelat. Tapi kan memnag dasarnya saya tukang membuat sambal," ucapnya lalu tersenyum. Akhirnya, dia mendapat kabar bahwa dirinya menjadi pemenang  dalam program tersebut. Dia pun kemudian diminta untuk membuat sampling dari rencana di proposal tersebut.

Yuni lantas melakukan eksperimen untuk pembuatan sambal cokelat itu. Mulai dari bentuk cokelat bubuk, kemudian pasta, hingga cokelat batangan. "Awalnya malah bukan jadi sambal cokelat, tetapi rasanya malah kayak pecel," ucapnya.

Dengan banyak melakukan latihan dan uji coba, kemudian dirinya menemukan yang pas, yakni sambal dengan dicampur cokelat pasta. Bahkan, kini dia sudah mengembangkan sambal cokelat ini dengan berbagai varian level sambal. "Ada tiga level. Sedang, pedas, dan pedas sekali," terangnya.

Yuni menjamin, setiap orang yang mencicipi akan ketagihan dengan rasanya, bahkan tidak mau untuk berhenti, karena memang memberikan sensasi sendiri. Mulai dari pedas, manis, gurih, pahit, dan semuanya bercampur menjadi satu.

Namun, memang sambal yang diciptakannya ini cocok untuk menemani bersantai. Sebab, memang bentuknya sambal cocol, sehingga harus dengan camilan agar lebih asyik. "Namun, ada juga pelanggan yang suka dimakan sambal aja. Jadi, tergantung dengan selera," jelasnya.

Dia menjelaskan, saat ini sambal tersebut sudah banyak dipesan oleh pelanggan dari Jember juga luar Jember. "Bahkan, sudah banyak kirim ke Jakarta, Bandung, dan Luar pulau," terangnya. Meskipun baru dilakukan dengan tenaga sendiri, namun dia sudah sering menerima pesanan ke luar daerah hingga ratusan untuk sekali kirim.

Untuk penjualannya, dia juga telah melengkapi berbagai persyaratan termasuk PIRT dan iain lainnya, meskipun masih skala UMKM. "Sementara untuk keluar daerah dengan botol plastik. Cokolades ini bisa bertahan sampai 1 bulan dengan harga 25 ribu," jelasnya.

Yuni sebenarnya sudah memiliki inovasi untuk membuat dengan botol kaca. "Bisa bertahan sampai 6 bulan," jelasnya. Tetapi, jika dikirimkan ke luar kota, biayanya nambah untuk ongkos kirim, karena bobot perbotolnya cukup berat. Oleh karena itu, sejauh ini masih menggunakan botol plastik.

Dia berharap, ke depan bisa terus membuat sambal cokelat ini bisa dikanal oleh masyarakat. Bahkan, dirinya tengah berjuang agar makanan ini menjadi makanan khas Jember dan bisa dipasarkan melalui berbagai toko modern di Jember dan di luar daerah, sehinga bisa diproduksikan massal.

"Yang sulit adalah memperoleh sertifikat halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan membuat barcode (kode batang) yang bisa dibaca oleh mesin kasir," jelasnya. Dia pun berharap hal ini bisa dibantu pemerintah untuk merealisasikan mimpinya itu. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 13 MEI 2018

Selasa, 20 November 2018

MELIHAT KIPRAH KELAS IBU CERDAS MENDAMPINGI PELAJAR

Sedih Lihat Fakta Banyak Anak Dewasa Sebelum Waktunya.

Di zaman now, bukan hal aneh jika kita mendapati anak sekolah dasar (SD) sudah pacaran. Bahkan, ada yang melakukan hal tidak senono antar lain jenis. Kelas ibu cerdas hadir mendampingi agar perilaku negatif itu tak semakin parah.

BAGUS SUPRIADI, Sumbersari.

"HALO bu, bisa mengisi sosialisasi di sekolah kami, para guru sudah gerah," kata salah seorang guru SD di Jember saat menghubungi Dewi Rohkmah, penggagas kelas ibu cerdas, ceria, sehat, dan tangkas. Ibu guru tersebut merasa risi dengan perilaku siswanya.Ada yang sudah pacaran, ada juga ynag sudah panggil papa-mama.

Tak hanya itu, siswa ternyata cukup familiar dengan istilah-istilah pacaran. Seperti jojoba, jomblo-jomblo bahagia. Tak jarang, sudah berani menyatakan cinta pada orang tua anak yang disukai. Padahal, mereka masih pelajar SD. Namun, sudah melakukan perbuatan yang tidak wajar.

Mendapat permintaan itu, Dewi Rohkmah datang bersama timnya. Mereka menyosialisasikan banyak hal, terutama tentang kekerasan seksual dan kekerasan yang dialami pada anak. "Pertama, kami datangi gurunya, lalu guru menjelaskan kondisi muridnya," kata Dewi yang merupakan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember.

Ternyata, para pelajar di sekolah tersebut sudah dewasa sebelum waktunya. Mereka melakukan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa. Tak hanya berpacaran, tetapi juga ada ynag melakukan perbuatan tidak senonoh. Tim kelas ibu cerdas bersama paa guru di sekolah mengumpulkan para pelajar untuk diberi pemahaman yang benar.

Mereka menjelaskan tentang kesehatan reproduksi, kekerasan anak, dan pelecehan seksual. Selain itu, memberikan kesadaran pada para pelajar tentang perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. "Jadi, kami memberi tahu mereka, kalau yang berpacaran itu tidak boleh," ucap Dewi.

Setelah mengetahui, para siswa itu manggut-manggut dan rela menjomblo. Mereka sendiri bilang jojoba, jomblo-jomblo bahagia. Padahal, istilah itu dipakai oleh orang yang sudah dewasa.

Materi yang disampakan dalam kegiatan kelas ibu cerdas untuk melindungi anak-anak agar terhindar dari kekerasan dan pelecehan. Misal, menjelaskan tentang organ tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain. Apabila mendapat perlakukan tidak senonoh, harus lari.

Kemudian, materi tentang memahami organ tubuh, menjaga kebersihan tubuh, antisipasi bahaya,  melindungi diri saat ada orang asing yang berbuat tidak senonoh.

Setelah selesai mengumpulkan anak-anak dan gurunya, kelas ibu cerdas meminta agar orang tua juga dikumpulkan. Mereka diberi pemahaman tentang kondisi yang terjadi pada anaknya. Wali murid tersebut juga mendapat materi tentang perkembangan dan perlindungan anak.

Dewi Rohkmah tak sendiri dalam melakukan kegiatan itu. Dia bersama timnya, yakni Ninna Rohmawati, Anita Dewi M, Retno, dan Desi Amalia. Kelima orang itu kompak dalam mendampingi siswa, guru dan wali murid. "Kami sosialisasikan secara terpisah antara anak dan orang tua," tambah Ninna Rohmawati.

Selain itu, siswa dibawah kelas IV juga dipisah, mereka mendapat materi yang lebih ringan. Sedangkan siswa di atas kelas IV hingga VI mendapat materi yang lebih tinggi. Kelas ibu cerdas menghubungkan komunikasi antara siswa, guru, dan wali murid. Sehingga, penyampaian materi tentang kesehatan reproduksi, kekerasan, dan pelecehan seksual bisa diselesaikan bersama. Tak hanya di tingkat sekolah, namun orang tua juga terlibat aktif dalam mengawasi anaknya.

Fenomena kejanggalan pada anak itu hampir merata di setiap sekolah. Penyebabnya beragam, salah satunya karena penggunaan gawai yang berlebihan dan tanpa didampingi oleh orang tua.

Contoh kecil, kata Dewi, dirinya mendapat permintaan dari ketua RT salah satu kampung untuk menyosialisasikan kekerasan seksual. Penyebabnya, ada dua keluarga yang berselisih karena salah anaknya mengalami kekerasan seksual.

Ceritanya, dua anak itu sedang bermain dokter-dokteran. Lalu, anak cowok itu memasukkan pensil (maaf) pada kemaluan anak perempuan itu. Akibatnya, kemaluan itu terluka dan menjadi bahan pertengkaran antar dua keluarga.

"Mereka tahu itu dari internet, namun melakukan kekeliruan karena tidak didampingi," ujar Desi Amalia. Dia menyadari pengunaan gawai bila tidak didampingi bisa menjadi ancaman. Akses pornografi begitu mudah didapatkan. Bahkan, saat bertanya pada siswa yang memegang gawai, beberapa dari mereka sudah mengakses pornografi.

Ada yang dikirim via Whatsapp dan ada yang melihat langsung dari internet. Untuk itulah, dalam setiap kegiatan sosialisasi di sekolah, materi yang disampaikan juga tentang gawai sehat untuk anak. "Siswa sulit konsentrasi karena pemakaian gadget," ucapnya.

Gawai membuat prestasi anak di sekolah menurun. Mereka tidak bisa belajar maksimal karena lebih menyukai gawai. "Di kelas tidak bisa konsentrasi, gawai sendiri sangat dinamis," ucapnya.

Menurut dia, tak sedikit anak yang menjasi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Bila itu dibiarkan, maka ada kecenderungan korban tersebut akan menjadi perilaku. "Seperti api dalam  sekam, banyak yang diam," ujarnya.

Salah satu contoh yyang cukup miris adalah salah seorang siswi SD yang sudah mengalami keputihan. Informasi itu di dapatkan karena orang tuanya bercerita tentang kondisi anaknya. "Pada hal keputihan itu terjadi karena ada hubungan berkali-kali," ujarnya.

Ada seorang anak yang melihat orang tuanya berhubungan seksual tanpa sengaja. pengetahuan itu kemudian diceritakan pada teman-temannya. Bahkan, ada yang dipraktikan. "Ada orang tua yang baru menyadari hal itu," tambah Anita Dewi.

Ironis sekali, tim kelas ibu cerdas tak ingin generasi bangsa hancur. Untuk itulah, mereka kerap melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah. Melakukan pendampingan pada murid, guru, dan orang tua. Semua dilibatkan karena saling membutuhkan. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 12 MEI 2018

Kamis, 15 November 2018

RAHMAT BUDIARTO, ANAK LOPER KORAN YANG JADI LULUSAN MAGISTER TERBAIK IPB

Raih Beasiswa, Tempuh Doktor Sekaligus dengan IPK 4

Keterbatasan ekonomi tidak menjadi halangan bagi Rahmat Budiarto. Dengan program beasiswa yang dijalaninya, lulusan Unej ini menjalani kuliah megister dan doktor nyaris bersamaan. Seperti halnya IPK yang telah diperoleh di jenjang magister, pada jenjang doktoral, Rahmat juga meraih IP sementara sempurna, 4.

ADI FAIZIN, Jember Kota.

SENYUM mengembang senantiasa terlihat dari wajah Rahmat Budiarto. Rasa syukur karena baru saja mengukir prestasi akademik yang cukup membanggakan. Pemuda asal Jember ini baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik program magister dalam wisuda yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB), pada akhir April lalu. Dalam wisuda tersebut, Rahmat meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 4 alias sempurna.
Banyak yang berdecak kagum atas prestasi tersebut. "Belakangan memang banyak yang bertanya tips belajarnya. Saya juga bingung kalau menjelaskan. Saya juga bukan orang yang terlalu suka membaca banget," tutur pria yang akrab disapa Diar itu.

Tidak seperti bayangan sebagian orang, Diar mengaku tidak terlalu ngoyo dalam belajar. Meski demikian, dia juga tidak mau setengah-tengah saat mengerjakan tugas kuliah.

"Kalau memang sudah penat, ya sudah, percuma kalau dipaksa belajar. Refreshing dulu, tapi setelah itu belajar lagi. Kalau untuk tugas, memang saya agak perfeksionis," jelas Diar.

Lulus dari program Studi Agroteknologi Fakultas Jember (Unej) pada Agustus 2015 dengan IPK 3,93, Diar hanya punya jeda waktu 15 hari sebelum akhirnya dinyatakan resmi sebagai mahasiswa pascasarjana IPB.
Dia bisa berkuliah di IPB berkat beasiswa Pendidikan Magister. Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kemenristek Dikti.

Mampu menyelesaikan Kuliah master dengan predikat terbaik di Kampus pertanian terbaik di Indonesia, menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Diar. Maklum saja, Diar berasal dari keluarga sederhana.
Sang ayah, Gatot Subagio bekerja sebagai loper koran. Sedangkan sang ibu, Sudi Rahayu adalah ibu rumah tangga biasa. Diar mengenang, semasa kecil, rumahnya yang ada di daerah Gebang berbahan gedek (bambu), dan beralasan tanah.

"Beberapa kali rumah saya dulu bantuan bedah rumah dari pemerintahan. Kini sudah lumayan membaik karena anak-anaknya sudah mentas (lulus) sekolah," tutur dari tiga bersaudara ini.

Kini, di keluarga besarnya, Diar menjadi anggota keluarga dengan tingkat pendidikan terbaik. "Sejak kecil, keluarga besar saya memang sangat mendukung dan memotovasi saya untuk meraih prestasi di sekolah. Sering kali, dulu nenek kasih hadiah karena hasil rapor saya bagus," kenang Diar.

Profesi sebagai sebagai loper koran sudah detekuni sang ayah sejak Diar masih duduk di kelas 3 SD.
"Dulu waktu saya masih SMA, ayayh bisa kuat membawa 60-70 eksemplar per hari. Kini hanya sekitar 30 eksemplar per hari, seiring usia juga," tutur alumnus SMKN 5 Jember ini.

Sebagai loper koran,risiko di jalan cukup karib dengan ayah Diar. Ketika masih kuliah di Unej misalkan, pernah pula sang ayah mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa bekerja selama beberapa waktu . Sejak kecil, Diar sekeluarga akrab dengan berbagai kesederhanaan.

"Pernah sih waktu masih kecil, kalau lagi tidak ada uang, kita satu keluarga makan pakai mie yang murah atau krupuk. Tapi tidak sering, karena keluarga besar saya sangat membantu," kenang Diar.

Beruntung, sejak kuliah SI, Diar tetap mendapat beasiswa, sehingga meringankan beban orang tuanya. Beasiswa PMDSU memungkinkannya untuk menempuh jenjang S2 dan S3 di IPB secara hampir  bersamaan.

Sejak Mei 2016, Diar sudah mulai menjalani kuliah doktoral sembari menyelesaikan kuliah magisternya. Saat diwisuda S2 bulan lau, Diar juga sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah di program S3.

"Untuk S3-nya, IP sementara 4. Tapi belum tahu untuk IP kumulatifnya, karena poin penelitiannya kan belum masuk," jelas pria kelahiran 10 April 1993 ini.

Diar menempuh kuliah S2 di IPB sejak September 2015 hingga Agustus 2016. Sebenarnya, Diar bisa saja mengikuti wisuda magister pada pertengahan tahun lalu, Namun, profesor pembimbingnya menginginkan Diar untuk bisa menghasilkan publikasi ilmiah dengan hasil terbaik. Hingga akhirnya, selama menempuh pendidikan di IPB, Diar sudah mempublikasikan satu jurnal internasional, dua jurnal terindeks scopus (masih tahap reviewer) dan satu draf jurnal internasional.

Berkat beasiswa, tak hanya karier akademis Diar yang melambung. Berat badannya pun ikut bertambah. Sejak awal kuliah di IPB 3 tahun yang lalu, Diar mengaku berat badannya naik sekitar 20 kilogram. "Kalau bertemu teman-teman lama atau guru saya dulu, komentar pertama pasti bertanya kok saya makin gemuk," tutur penyuka film fiksi-ilmiah ini. (ad/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 11 MEI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...