Kamis, 31 Januari 2019

MUFID, KALLIGRAFER YANG FOKUS PEMBINAAN KALIGRAFER

Dirikan Sanggar Gratis, Mendidik 13 Lembaga di Jember

Membuat tulisan Arab indah atau biasa yang disebut kaligrafi bukanlah hal yang mudah. Ternyata, di Jember sudah bisa menghasilkan banyak kaligrafer nasional. jalan ini sudah dirintis oleh Mufid sejak tahun 1993 lalu.

RANGGA MAHARDIKA, Jember Kota.

MENJADI kaligrafer sebenarnya bukan  menjadi jalan pilihan bagi Mufid. saat itu dia belajar kaligrafi  dengan tidak sengaja. yakni sekitar tahun 1984 saat dirinya yang menjadi santri angkatan pertama di Pondok Pesantren Nurul Islam, Antirogo Sumbersari Jember.

Mufid 'dipaksa' oleh pengasuh KH. Muhyidin Abdussomad untuk belajar kaligrafi. kemudian dia belajarlah kepada Ustad (alm) Abdullah. "Dulu pertama belajar kaligrafi karena di pondok tidak ada yang bisa menulis bagus," ucapnya mengenang masa kecilnya.

Menurut kelahiran Jember, 15 juni 1967 saat itu dia belajar menulis arab bagus untuk dituangkan dalam kitab yang diajarkan di Ponpes yang diasuh oleh KH. Muhyidin Abdussomad ini. hingga kemudian berkembang menjadi belajar di kanvas dan media lainnya.

"Dulu belajarnya pakai lidi pohon aren dengan tinta cina dan media ares (dalam pohon) pisang," terang putra kedua dari enam bersaudara ini.

Dirinya juga sempat mengikuti berbagai lomba tingkat lokal. tidak puas, pada 1992 suami dari Zamrani ini pun memperdalam ilmu kaligrafi kepada Ustadz Faiz Abdul Rozak di Bangil, Pasuruan yang merupakan kaligrafer tingkat internasional. bahkan, Uztad Faiz ini menjadi pembina dan juri nasional kaligrafi tingkat nasional.

Di Bangil inilah, Mufid bisa belajar berbagai jenis kaligrafi. mulai dari yang kaligrafi murni yang sesuai dengan kaidah pakem kaligrafi hingga ke kontemporer yakni yang kekinian dengan berbagai tambahan yang rumit. hingga dirinya pun kemudian mulai berani mengikuti lomba tingkat propinsi dan nasional. "pertama ikut MTQ (Musabaqah Tilawati Quran) tingkat propinsi tahun 1993 di Banyuwangi," jelasnya.

Di tingkat ini, dirinya belum mendapatkan juara karena masih pertama dan kalah dengan para seniornya. apalagi, dirinya di tiga jenis kategori kaligrafi. dimana untuk setiap jenis lomba dirinya diberikan waktu selama delapan jam dan bertarung di tiga kategori. "Tantangan jika ikut lomba adalah berperang dengan kesabaran," ucapnya. bahkan di angkatannya dari enam orang hanya dirinya yang terus bertahan di kaligrafi.

Baru pada MTQ Propinsi di Jombang tahun 1996 dirinya meraih juara harapan dua untuk jenis kaligrafi Mushaf. "baru mendapatkan juara dua tingkat nasional di MTQ Bali tahun 2000 di jenis kategori yang sama," tutur bapak dari Alifa Mustafidah dan Nanda Farha Mufidah ini. baru tahun 2006 dirinya tidak bisa ikut MTQ karena terkendala umur yakni dengan batasan usia 35 tahun.

Dirinya pun kini terus memperdalam ilmu kaligrafi ini. pasalnya, untuk jenis ini ada kejuaraan hingga ke tingkat internasional. "selain itu, kaligrafi ini sebenarnya yang paling sulit, namun paling mudah dibaca orang," terangnya. hal inilah yang membuatnya juga terus menelurkan hingga ke generasi mudanya.

Tetapi, untuk jenis kaligrafi yang terus dikembangkannya ada cukup banyak. kini dirinya menguasai empat jenis kaligrafi yakni selain hiasan Mushaf ada Naskah, dekorasi dan kontemporer. "ada sekitar delapan jenis tulisan arab yang saya pelajari," terangnya menambahkan.

Usai tidak mengikuti MTQ, dirinya bukan berarti berhenti dari kaligrafi. dirinya masih sering menjadi juri di tingkat propinsi dari nasional. Mufid juga banyak  menyumbangkan karyanya untuk sejumlah masjid di Jember yang digambar manual. seperti di masjid Baitun Nur di Ponpes Nuris Antirogo, RSD dr. Soebandi, Terminal Arjasa, Masjid Rambipuhi dan Masjid Nur Inka Mako Brigif 9 Jember masih banyak masjid lainnya.

Dirinya juga tidak ingin ilmu yang dimilikinya berhenti padanya saja. "pada tahun 2006 juga mendirikan sanggar kaligrafi Darul Qalam di rumah Antirogo," tuturnya. di sanggar ini, dirinya mengabdikan diri untuk mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar kaligrafi. bahkan kini sudah berkembang mendidik hingga ke seluru Jember, bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

"Semuanya gratis tidak dipungut biaya," jelasnya. semua kalangan bisa belakar kaligrafi disini. dia juga menjadi pembina di Jember. dirinya bahkan pernah melanglang buana menjadi pembina pada 2008 yakni di Ambon, Maluku. sejak tahun tersebut dirinya sudah banyak  menelurkan juara-juara nasional kaligrafi dari Jember.

Diantaranya ada Reska, Jimli, Alifa Mustafidah, Afif Binuril Aribi, Qoimatul Adila, siti Nur Azizah, dan Miftahul Jannah. saat di Maluku yang juara basional ada Endang dan Ika Raihani. "yang akan berangkat tahun ini di Nasional mewakili Jember ada Viona dari SMPN 3 Jember dengan kaligrafi kontempurer dan M.Nasihin dengan kaligrafi MUshaf," jelasnya.

Bukan hanya di sanggar, ternyata Mufid terus menelurkan anak didik binaannya. karena dirinya kini mendidik hingga ratusan murid. "saya juga mengajar kaligrafi di 13 Lembaga di Jember. ada sekolah negeri, swasta dan pondok pesantren," jelasnya. dengan harapan akan semakin banyak anak jember yang berprestasi melalui kaligrafi di tingkat nasional dan internasional nantinya.

Mufid menuturkan jika kaligrafi masih menjadi harapan untuk masa depan yang cerah. bukan hanya untuk ekonomi kreatif yang karyanya dijual, namun juga bisa menjadi jalan prestasi bagi penggiatnya. "karena sertifikat juara kaligrafi bisa digunakan untu7k melanjutkan ke sekolah favorit. baik jenjang SMP, SMA hingga perguruan tinggi," pungkasnya. (ram/hdi)

SUMBER : JP-RJ 17 JUNI 2018

Rabu, 30 Januari 2019

IMAM SANTOSO, AREK AMBULU YANG AKAN JADI DOKTOR DI DINLANDIA

Dari Keluarga Petani Sederhana, Bertekad Motivasi Anak Desa.

Pendidikan adalah jalan paling ampuh untuk mengubah nasib seorang menjadi lebih baik. keyakinan itulah yang dipegang teguh dan telah dibuktikan Imam Santoso, Kandidat doktor dari salah satu universitas ternama di Finlandia. berbekal keyakinan tersebut, setelah pulang ke tanah air nanti, Imam juga bertekad untuk membantu anak-anak desa di Jember meraih cita-cita terbaiknya.

ADI FAIZIN, Jember Kota

SUDAH empat tahun terakhir, Imam Santoso merasakan tantangan durasi puasa yang jauh lebih lama dibanding dengan puasa di indonesia. sejak awal menginjak kaki di kota Aalto, Finlandia, Imam harus berpuasa selama sekitar 21 jam setiap hari dibulan Ramadhan.

"perlahan nanti waktu puasanya akan mundur lebih pendek ketika musim dingin, puasa bisa hanya 6 jam. tapi itu masih sekitar 4 tahun lagi," tutur Imam sembari memberikan emoticon tersenyum. Jawa Pos Radar Jember berkesempatan mendapatkan cerita menarik dari Imam Santoso melalui surel (email) dan aplikasi pesan singkat di gawai.

Dengan waktu berbuka, sahur, serta salat magrib, isya, dan subuh ynag hanya tiga jam, kaum muslimin di Finlandia menjalankan kelimanya hampir dalam satu waktu. "beruntung udaranya di sini sejuk, jadi tidak terasa," tutur Imam.

Pemuda asal Dusuun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu itu, saat ini menjadi mahasisawa tingkat akhir program Doktoral di Aalto University, salah satu universitas terkemuka yang ada di Finlandia. setelah empat tahun berjuang, Imam kini sedang menantikan proses kelulusan dan bersiap membawa pulang gelar PhD dalam bidang teknik metalurgi ke Indonesia.

"Saat ini, syarat kelulusan hampir semua sudah terpenuhi. sekarang proses menulis disertasi dan juga persiapan public defense pada September 2018 nanti," ujar Imam. selain diharuskan untuk mempresentasikan karya tulisannya di depan publik dan dewan penguji, kampus tempat Imam berkuliah juga mensyaratkan adanya publikasi ilmiah untuk lulus. tidak main-main, selama kuliah, Imam harus menerbitkan 4 publikasi di jurnal internasional. namun, Imam sudah melampaui syarat itu karena sekarang sudah berhasil menerbitkan 6 publikasi internasional.

"Kalau sekarang saya juga masih ada percobaan di laboratorium untuk menambah-nambah jumlah publikasi. mumpung diberikan fasilitas yang lengkap dan canggih di sini. rencananya, saya akan pulang ke tanah air pada bulan November 2018," tutur pria kelahiran Jember, 29 Agustus 1983 ini.

Perjuangan Imam unutuk mencapai posisi akademis saat ini terbilang berliku. terlahir dari keluarga petani sederhana di Desa Andongsari, Ambulu, tak membuat Imam ragu untuk mengejar mimpi setinggi langit. sang Ayah adalah seorang petani sederhana yang tidak memiliki tanah. oleh karena itu, sang ayah harus menyewa tanah agar bisa bertani." makanya bapak saya di desa disebut petani bayam, karena dengan bayam menguliahkan anak-anaknya," tutur putra pasangan Suyanto dan (alm) Siti Rohani ini.

Oleh karena itu, saat lulus dari SMAN Ambulu dan melanjutkan pendidikan di Isntitut Teknologi Bandung (ITB), Imam sempat kesulitan biaya. "waktu itu orang tua sempat utang sana sini untuk uang saku saya. karena beasiswa di sana umumnya adanya setelah semester 2," tutur alumnus SMP Muhammadiyah 9 Watukebo Ambulu ini.

Di ITB Imam mengambil Prodi Teknik Metalurgi yang berkaitan dengan dunia pertambangan.

Tuntunan untuk selalu mendapat beasiswa, justru membuat Imam berhasil menyelesaikan studinya di ITB dengan gelar wisudawan terbaik. momen mengharukan pada tahun 2007 itu membuat ayah dan neneknya terharu saat menyaksikan Imam berdiri di atas mimbar dan memberikan valedictorian speech sebagai  lulusan terbaik ITB. "waktu itu saya menjadi satu-satunya lulusan cum laude yang lulus 7 semester," kenang Imam.

Lulus dengan gelar terbaik dari kampus teknik prestisius, membuat Imam tak kesulitan mencari kerja selepas wisuda. tanpa perlu melamar, berbagai tawaran kerja dari perusahaan terkemuka justru datang menghampiri Imam, namun, Imam memilih jalan ynag berbeda. rutinitas sebagai guru les privat semasa kuliah S1 membuat Imam mengubah cita-citanya, dari bekerja di tambang, menjadi akademisi.

Di sela-sela kesibukan tersebut, Imam juga menyiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 dengan mengejar beasiswa.

Upaya itu membuahkan hasil. pada akhir 2008. Imam melanjutkan studi S2 di Australia atas beasiswa dari salah satu perusahaan setempat. namun, cobaan datang. krisis finasial yang melanda dunia pada 2008 membuat perusahaan Australia, bangkrut. akibatnya, beasiswa untuk Imam pun harus terhenti dan Imam harus pulang ke tanah air sebelum studinya rampung.

Namun, Imam tak menyerah, ia terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa inggrisnya dan mencoba beasiswa dari pemerintah Australia.

"Akhirnya, pada tahun 2011, saya kembali melanjutkan  studi di Universitas of Queensland atas beasiswa pemerintah  setempat. saya mengambil bidang Pyrometallury," jelas Imam.

Setelah lulus dari University of Queensland pada tahun 2013, Imam langsung menyiapkan studi lanjut ke jenjang S3. pada tahun 2014, Imam berhasil lolos seleksi beasiswa S3 di LPDP dari Kemenkue.tahun 2014 begitu berkesan, karena pada saat yang hampir bersamaan, imam juga diterima sebagai dosen PNS di almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Berbekal beasiswa dari ITB, Imam melanjutkan program doktoral ke Aalto University, sebuah kampus terkemuka di Finlandia. tidak hanya pendidikan yang berkualitas, Imam merasakan kenyamanan tersendiri selama menempuh studi di salah satu negara di Skandinavia tersebut.

"Alhamdulillah, kampus dan apartemen saya terletak di pinggir danau. jadi saya bisa menikmati pemandangan yang indah sekali," kata Imam.

Kenyamanan studi di Finlandia tidak membuat Imam lupa akan kampung halamannya. setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Imam bertekad pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya bagi kemajuan sains di Indonesia. selain itu, masa kecil yang penuh perjuangan membuat Imam bertekad untuk menularkan inspirasinya bagi anak-anak muda di Jember, khususnya. (mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 14 JUNI 2018

Selasa, 29 Januari 2019

DRUM CUSTOM, FURNITUR UNIK DARI DRUM BEKAS

Kaget Dihubungi Polisi, Ternbyata Mau Pesan Set Furnitur.

Mungkin ini ynag dinamakan Reduce, reuse, recycle. setelah memanfaatkan isinya, drum bekas ini diubah menjadi seperangkat furnitur yang cukup unik. jika awalnya hanya dijadikan hobi, saat ini drum custom bisa dipasarkan dengan nilai mencapai jutaan rupiah. bagaimana cara pembuatannya?

LINTANG ANIS BENA K, Jember Kota

SEPINTAS dilihat, sebuah area di kawasan Pakusari ini hanya tampak seperti tempat tumpukan drum-drum bekas. tak ada yang menarik ari tempat tersebut. orang akan melihatnya sebagai tempat loakan besi-besi bekas.

Namun, sedikit bergeser, terdapat sebuah bengkel yang diisi beberapa personel tengah 'menyulap' drum tersebut. bukan sulap bukan sihir, drum ini berubah bentuk. drum bekas yang awalnya sedikit berkarat, berganti menjadi kursi, meja, dan lemari yang sangat fashionable. dengan warna yang terang dan logo-logo produsen terkenal.

Inilah yang dikerjakan Jatminto Wahyudi, seorang kontraktor yang juga mengembangkan ide kreatifnya di bengkel workshop miliknya.

Pria asal Jogyakarta tersebut memiliki 'kadar seni' yang sedikit berlebih, dan mengubah drum-drum bekas tersebut menjadi furnitur siap pakai. melongok ke display store-nya, bisa dilihat seperangkat meja, kursi, dan lemari sudah tersimpan rapi dengan berbagai desain.

Pria yang akrab disapa Yudi ini memang bukan pertama kali mengubah sesuatu dengan desain yang unik dirinya pernah bergabung dengan salah satu brand kaus terkenal di Jogja yangg identik dengan plesetan logonya. sejak pertengahan tahun lalu, Yudi menjajal kembali kreatifitasnya dalam mengubah drum bekas menjadi seperangkat furnitur.

Drum custom, begitu Yudi menyebut karyanya. custom berarti pihaknya mengikuti permintaan konsumen. desain yang dia buat hampir tidak pernah memiliki pakem tertentu. "custom ini bahasa kita, artinya sebuah bentuk yang bisa keluar dari relnya," tuturnya.

Ide menyulap drum bekas ini muncul dari tumpukan srum yang dia miliki. sebagai seorang kontraktor dengan banyak properti drum truck, tak sedikit limbah drum yang dia hasilkan dari pekerjaan sehari-harinya. karena tidak ingin menumpuk barang bekas, Yudi mencoba memotong drum tersebut ke berbagai bentuk furnitur.

"Karena saya juga hobi trail, saya buat kursi dan meja dengan desain warna dan logo berkonsep trail. ternyata banyak teman-teman komunitas trail yang suka, dan mereka membelinya," ungkap Yudi.

Di workshop miliknya, Yudi sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan, termasuk alat potong khusus untuk membentuk drum yang memiliki ketebalan dan bahan dasar kukuh. hampir setiap hari proses produksi dilakukan oleh sekitar tujuh karyawannya. "dalam seminggu kita bisa produksi empat sampai lima set," akunya.

Awalnya, Yudi tak berniat menjual namun ketika banyak jaringan komunitasnya yang tertarik untuk membeli kreasi Yudi, dirinya mulai banting setir menjadikan hobinya sebagai bisnis. "paling murah jual seharga Rp 500 ribu untuk meja, Rp 750 ribu untuk sofa. bahkan ada yang sampai dijual seharga Rp 2,5 juta," tutur pria kelahiran 17 juni 1975 tersebut.

Pemasarannya pun tak main-main. meski bisnis 'anak bawang' ini baru dimulai pada Oktober tahun lalu, pembelinya sudah merambah ke luar pulau. "ini saya baru mengirim ke lampung," imbuhnya.

Penggemarnya pun berasal dari berbagai kalangan. mayoritas mendengar karya Yudi dari komunitas trail yang dia ikuti, kemudian tersebar hingga ke nasional. tak hanya itu, instansi besar pun melirik furnitur custom buatannya. "saya kaget ketika dihubungi Polda Jawa Timur, ternyata mau pesan," ujarnya sembari tertawa.

Tak hanya itu, banyak restoran dan kafe juga memesan furnitur drum custom ini dari tangannya. kekuatan word of mouth menjadi andalan, dan didukung dengan promosi dimedia sosial. "karena yang beli kan belum liat sendiri produk jadinya, hanya lewat foto atau vidio, saya tidak main-main dengan kualitasnya. dengan begitu orang nnati akan puas telah order di saya, dan disebarkan ke teman-temannya," papar Yudi.

Untuk sofanya, Yudi memanfaatkan bahan standar dengan kain oscar sebagai penutupnya. namun, jika pelanggan ingin memodifikasi lain, dia tak keberatan. "kadang ada yang minta dibikinin pakai bahan beledru, nggak mau oscar. ya kita terima," kata dia.

Kualitasnya, kata dia, tidak perlu diragukan lagi. untuk membuktikannya, dia berpesan pada personel yang bertugas di display store untuk tidak menyimpan produk drum custom tersebut jika hujan. "kita nggak takut cuaca, mau kehujanan atau kepanasan ya dibiarin," selorohnya.

Tidak hanya di bengkel workshop dan display store, Yudi juga menjadikan drum custom sebagai furnitur di kafe miliknya. tempat nongkrong di daerah kaliwates ini menjadi media baginya untuk mempersilahkan masyarakat melihat sendiri kreasinya. "Nuansanya pun trail," pungkasnya. (lin/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 13 JUNI 2018

Senin, 28 Januari 2019

MENENGOK KIPRAH AHMADIYAH SELAMA RAMADHAN DI JEMBER

Tidak Alami Diskriminasi, Tetap Aktif Donor Mata

Kerap dianggap memiliki keyakinan yang berbeda, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) ingin membuktikannya dengan tetap menebarkan islam yang ramah. awal puasa ini, salah satu basis Ahmadiyah di Indonesia (di Lombok) di serang kelompok intoleran beruntung, di Jember mereka mengaku tidak pernah mengalami persekusi.

ADI FAIZIN, Jember Kota

PADA 19 Mei 2018 atau hari ketiga bulan Ramadhan tahun ini. kekerasan kembali menimpa warga Ahmadiyah di Indonesia. kali ini, giliran mereka yang berada di Dusun Gerepek, Desa Greneng, Lombok Timur, NTB. sejumlah massa intoleran merusak rumah warga Ahmadiyah di tengah kekhusukan bulan suci Ramadhan.

Aksi persekusi dan diskriminasi bagi pengikut Ahmadiyah memnag bukan hal yang baru sejak reformasi bergulir di Indonesia.

Padahal, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia telah ada sejak negeri ini belum merdeka. selama itu pula, mereka bisa hidup rkun dengan sesama beberapa warga Ahmadiyah bahkan sempat berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. sebut saja seperti WR SUpratman yang merupakan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

"mereka melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah (seperti yang terjadi di NTB, red) karena ketidaktahuan mereka terhadap Ahmadiyah. faktor kecemburuan sosial aja, lantas akidahnya yang dijadikan alasan," tutur Hamid Ahmad, ketua Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jember, ketika di temui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, saat berbuka puasa bersama. dalam perbincangan tersebut, Hamid ditemani Wahib Rahman, mubalig Ahmadiyah untuk wilayah Jember dan sekitarnya.

Menurut Hamid, kekerasan dan diskriminasi terhadap warga Ahmadiyah di Indonesia hanya terjadi di daerah tertentu saja, seperti Jawa Barat ataupun NTB. Selain ekonomi, faktornya adalah politis.

"Biasanya kalau mau ada pilkada, untuk merebut simpati masyarakat banyak, kepala daerah bisa membuat larangan beribadah terhadap Ahmadiyah. bisa juga ketika usaha bersama warga Ahmadiyah maju, seperti di NTB kemarin, ada yang cemburu, lantas akidahnya dikait-kaitkan," tutur pria yang baru saja pensiun dari dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unej ini.

Meski demikian, selama ini Hamid mengaku Ahmadiyah di Jember tidak pernah mengalami diskriminasi. "kalau di Jatim dan Jateng tidak akan berani, karena di sini toleran. saya di kampus semua sudah tahu sejak lama kalau saya Ahmadi (sebutan untuk pengikut Ahmadiyah, red)," tutur bapak tiga anak ini. begitu pula dengan istrinya, Titien Suhermiatien yang tidak pernah dianggap berbeda selama menjalankan profesi sebagai dosen di Polije.

Hamid mengenang, saat awal reformasi bergulir dan kelompok intoleran di Indonesia mulai menguat, dirinya langsung mendapat pembelaan dari warga NU, Khususnya GP Anshor. "saya kadang diajak salat jemaah dan dijaadikan imam. mereka bilang lha wong salatnya sama, apanya yang sesat," kenang Hamid.

Selama ini, Hamid kerap berdiskusi dengan beberapa tokoh NU dan Muhammadiyah di Jember, untuk menjelaskan bahwa kayakinan Ahmadiyah tidak berbeda dengan umat iislam kebanyakan. "ada beberapa yang memang sedikit berbeda, seperti masalah tahlil, kan tidak bisa satu pendapat," tutur Hamid.

Di Jember, warga Ahmadiyah memang hanya sedikit. "hanya sekitar 10 kepala keluarga," terang Hamid. karena masih sedikit, mereka belum membangun masjid sendiri. untuk aktivitas bersama,mereka biasanya berkumpul di rumah Hamid di kelurahan Tegalgede, Sumbersari.

Meski berjumlah sedikit, tidak menghalangi Ahmadiyah di Jember untuk beraktivitas sosial. di Idonesia, salah satu kegiatan sosial yang menjadi program Ahmadiyah adlaah donor darah dan donor mata. "karena donor mata ini kan masih jarang dan harus segera dilakukan beberapa jam setelah meninggal. karena itu, anggota sudah tanda tangan surat donor mata ketika masih sehat," tutur Hamid.

Meski kerap mengalami berbagai kekrasan dan diskriminasi, Hamid menjamin Ahmadiyah tidak akan pernah melawan dengan kekerasan. sebab, dalam organisasi Ahmadiyah, ditekankan untuk menyampaikan islam secara damai. "di beberapa daerah yang kami mayoritaskan di desa tersebut. tetapi kami tidak pernah membalas," tutur alumnus Fakultas Pertanian Unej ini.

Jangankan membalas, berdemonstrrasi pun, warga Ahmadiyah juga dilarang. "karena kami ditekanakan untuk setia pada negara," sambung Hamid.

Karena ajarannya yang menekankan islam damai itulah, Ahmadiyah sangat menentang terorisme, apalagi yang berkedok agama. sebab itu pula, ahmadiyah, menurut Hamid, berkembang cupuk pesat di Eropa. "beberapa masjid terbesar di beberapa kota besar di Jerman dan negara Eropa lain, itu dibangun dari Ahmadiyah. kita juga berperan menepis Islamophhhhhobia di Barat," ujar Hamid.

"Bukan karena kami ingin membanggakan. tetapi yang kami tekankan, jika kita sampaikan islam ynag damai, cinta pada negara dan rasional, itu bisa menekan Islamoophobia sambung Hamid. (ad/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 12 JUNI 2018

Minggu, 27 Januari 2019

MENENGOK KEHIDUPAN PEMAIN PERSID : RUMAH KONTRAKAN JADI MES

Tak lagi Nyusu APBD, Istri Manager jadi Juru Masak

Tak selamanya membangun tim sepak bola harus mengandalkan subsidi duit negara. terlebih, bermimpi menjadikan Persid sebagai tim profesional. meski harus nombok, persid harus tetap berprestasi.

BULLY EFENDY, Jember Kota

TAK ada yang istimewa. rumah yang ada di Blok E 3 Perum Griya Mangli, nyaris sama dengan kontrakan yang diisi puluhan pemuda. namun, para pemuda di sana bukan sembarangan. mereka anak muda pilihan, pesebak bola terbaik di Jember.

Ya, rumah itu adalah mes Persid Jember. sebuah tempat hunian sementara para pemain skuad Persid Jember 2018. memang, sejak tim kebanggaan warga Jember itu dimanajeri Mirza Rahmulyono, mes Persid tak lagi ada di kawasan Kreongan Jember.

Mirza tentu punya alasan memindah mes Persid lebih dekat denagn rumahnya. salah satunya, supaya dia cepat tahu segala kebutuhan para pemain. banyak hal. termasuk persoalan makanan. "kalau dekat begini, saya lebih sering main-main," ujar personel Band Tape Ketan itu.

Memang, memilih rumah kontrakan membuat dia  kembali harus merogoh kocek. namun, ternyata ada hitung-hitungan yang lebih ekonomis. kenapa/ rupanya, pindahnya mes Persid dari Kreongan ke Griya Mangli bisa mengirit biaya makan pemain.

Sepintas, sempat membuat bingung. namun, setelah dijelaskan manajer yang masih berusia 33 tahun itu, ternyata biaya konsumsi bisa efisien. sebab dia tak harus menyewa jasa boga. "kalau dekat rumah kan bisa istri yang masak," tuturnya.

Sang istri-Vita Widya Pratiwi rela menjadi relawan penyedia makanan para pemain. dia tahu betul, sejak suaminya menjadi manajer Persid, keuangan klub tak lagi tajir. maklum, mirza mencoba mandiri tanpa duit (alias tak lagi nyusu) APBD Pemkab Jember. karena sang musisi ingin membuat persid modern dan profesional.

Konsekuensinya, mirza dan istri harus rela nombok. tak jarang duit pribadi harus dia keluarkan untuk kepentingan persid. bahkan, sejak Vita menjadi juru masak persid, tak pernah sekali pun menerima honor dari persid. dia harus pandai-pandai menyisihkan duit belanja dari suaminya.

Selama bulan puasa, jatah makanan hanya dua kali. saat berbuka dan sahur. namun, sebelumnya ada tiga jadwal makan. pagi, siang, dan malam. semua dimasak dari dapur rumah keluarga Mirza dan Vita.

Menu makanan keseharian pemain sama dengan yang di makan Mirza dan istri. sebab, mereka tak ingin ada pembeda. Vita sudah menganggap pemain binaan suaminya seperti adik dalam keluarganya sendiri.
Maklum saja, perempuan yang sedang hamil 6 bulan itu ternyata mantan atlet voli yang pernah juga membawa nama harum Jember. "saya tahu perjuangan atlet. oleh karena itu, saya ikut terpanggil. tentu karena suami," tuturnya.

Kedekatan keluarga Mirza tak hanya dengan pemain. pelatih asisten pelatih, hingga kru yang lain, sudah saling kenal baik, bahkan tak jarang mereka kumpul bersama di mes. biasanya yang paling sering usai menggelar latihan. "karena kekeluargaan, kami betah ada di mes," kata asisten pelatih yang juga mantan kapten persid, Jaya Hartono.

Mereka kompak menyampaikan ikrarnya, dari kesederhanaan rumah kontrakan yang disulap jadi mes, persid akan menunjukan taringnya menjadi tim yang disegani di liga 3 musim ini. sekali pun tak ada yang harus dikelola persid jember dari APBD Pemkab Jember. sebab, persid punya mimpi besar jadi tim profesional. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 11 JUNI 2018

Kamis, 24 Januari 2019

MONUMEN MASTRIP DAN KENANGAN PERJUANGAN YANG TERLUPAKAN

Susahnya Mengajak Masyarakat untuk Kembali Mengingat TRIP

Banyak yang mengira Mastrip adalah nama seseorang. padahal itu adalah sebutan untuk sekelompok anak-anak muda yang bergabung sebagai tentara pelajar. mereka tersebar di berbagai daerah, salah satunya dikaresidenan Besuki. Jember menjadi lokasi di mana pasukan TRIP berhasil menghadang konvoi Belanda.

LINTANG ANIS BENA K, Jelbuk

PADA Juli 1947 di tempat ini telah terjadi peristiwa perjuangan berupa penghadangan oleh Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 4000 dikenal dengan pasukan kukuk beluk terhadap konvoi tentara penjajah saat Agresi Militer I.

Tulisan tersebut dipadati pada monumen yang berada di tepi jalan Jember-Bondowoso. tak jauh dari Kantor Kecamatan jelbuk. tepatnya di daerah Panduman. masih baru, karena belum lama ini mengalami proses rehabilitas yang dilakukan oleh paguyuban Mas Trip Jember.

Dengan helm sebagai latar, dan senjata laras panjang yang diletakkan menyilang dengan pena bulu ayam. lambang dari Monumen mastrip tersebut adalah lambang dari baju kehormatan TRIP yang dikenkan saat bergerilya.

Paguyuban ini berisi mantan anggota TRIP, serta keturunannya yang terdiri dari beberapa generasi. Budi Sumarsono, ketua Paguyuban Mas Trip menuturkan, tak banyak yang tahu, asal muasal munculnya istilah Mastrip yang kini menjadi nama jalan daerah Sumbersari. Mastrip muncul dari sebutan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). satuan tentara yang terdiri dari kelompok pelajar berusia remaja.

Kala aksi militer Belanda, anak-anak muda dan pelajar memang diimbau untuk berjuang mengangkat senjata. karena mayoritas anggota TRIP adalah pria, maka penduduk banyak memanggil mereka dengan sebutan Mas, untuk menghargai  keberanian para pemuda tersebut. "Penduduk banyak ynag manggil, Mas Trip. ini ada makanan, ini ada minuman, begitu ceritanya," ujar pria asal Bondowoso tersebut.

Konon, panduman merupakan tempat dimana tentara indonesia menghadang iring-iringan tentara Belanda yang hendak menyerang Besuki dari dua arah, yaitu di peisisir Banyuwangi dan Panarukan. serangan Belanda dimulai pada 21 juli 1947, saat Belanda mendaratkan pasukannya di pesisir Banyuwangi dan di Pantai Pasir Putih Panarukan.

Momen Agresi Militer Belanda I terjadi ketika hari libur sekolah. selama masa liburan tersebut anggota TRIP khususnya di Jawa Timur mengisinya dengan latihan kemiliteran dan people defense dalam bentuk samaran. kesatuan TRIP Jawa Timur ynag terlibat dalam kegiatan tersebut adalah dari Batalyon 4000 karesidenan Besuki, ynag memiliki dua kompi yaitu 4100 (Bondowoso dan Situbondo) dan 4200 (Jember).

Pasukan TRIP sempat terpecah akibat serangan tersebut, namun masih bertahan dengan membentuk komando gerilya dengan nama sandi kukuk Beluk Hitam. Panduman menjadi salah satu lokasi perang gerilya yang berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Setelah agresi militer Belanda dan perjuangannya selesai, banyak anggota TRIP yang dikaryakan sebagai apresiasi atas jasa mereka. ada yang dikaryakan di bidang pemerintahan, menjadi tentara, dan lain-lain. namun yang paling banyak berada di sektor perkebunan. "bapak saya si perkebunan, saya juga di perkebunan," kenangnya.

Nmaun tak sedikit pula yang memilih berkarya di kota besar. banyak yang jadi pejabat tinggi dan pindah, salah satunya Jakarta. "kalau di Jakarta, TRIP sekarang itu besar karena dulu banyak ynag berangkat ke sana," ujarnya.

Di Jelbuk, kata Budi, ada beberapa tempat yang berkaitan dengan Trip. salah satunya adalah sumber air yang dijadikan tempat beristirahat ketika gerilya. "ketika penyerbuan Belanda ke daerah Besuki, sumber air itu menjadi tempat mandi Trip," lanjutnya.

Paguyuban Mas Trip Jember kini beranggotakan 55 orang dari tiga generasi. generasi satu adalah para pelaku TRIP, sedang kan generasi dua dan tiga adalah keturunan dari pelaku sejarah ini. bersama dengan aparat setempat, paguyuban tersebut terus berupaya melestarikan monumen tersebut. "kita bersama koramil dan aparat desa setempat yang memellihara monumen," kata Budi.

Hanya saja pihaknya masih belum bisa memberikan inisiasi untuk mengajak anak-anak muda sekarang dalam mengingat perjuangan pasukan TRIP. sebab menurut Budi, tak banyak anak-anak muda yang mash menghargai jasa para pejuang.

"Dulu, anak-anak muda di imbau untuk berperang saja bersedia, bahkan berjuang sampai mati-matian. sekarang orang mau perang hitung-hitungan dulu. katanya, cari makan aja susah. makanya dengan monumen mau mengingat perjuangan mengusir tentara Belanda," pungkasnya. (lin/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 10 JUNI 2018

Rabu, 23 Januari 2019

KREASI PELAJAR TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN (TKJ) SMK NURIS

Setahun Sudah Bisa Merakit Komputer dan Laptop

Jangan heran bila pelajar kelas X program Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Nuris mampu merakit laptop dan komputer. sebab, sekolah itu dipercaya oleh perusahaan internasional Axioo untuk mencetak generasi ahli merakit laptop, melalui kelas Axioo.

BAGUS SIPRIADI, Sumbersari.

MESKIPUN masih kelas X, pelajar SMK Nuris sudah mampu merakit laptop dengan baik. dalam setahun, mereka bisa menguasai ilmu merakit komputer. sebab, diberi wadah khusus untuk belajar menekuninya yakni kelaas Axioo.

SMK yang berada di bawah yayasan Nurul Islam itu dipercaya oleh perusahaan laptop Axioo. yakni memberikan sparepart kepada siswa untuk dirakit sendiri.

Mereka merakitnya mulai dari awal sampai selesai. "mereka belajar merakit secara berulang sampai mahir," kata ketua program keahlian teknik komputer dan jaringan (TKJ) SMK Nuris, Riant Perdana. setelah mampu merakit laptop, laptop itu menjadi milik pribadi setiap siswa. tak heran, para pelajar itu begitu semangat belajar merakit laptop karena akan menjadi miliknya. "ada standart kurikulum industri yang harus diterapkan, kemudian dikolaborasikan dengan kurikulum 2013," tambah Riant.

Standar industri Axioo, kata dia, harus mengikuti Axioo Class program (ACP) 0 dan ACP 1. seperti pengenalan sparepart dan fungsinya. sedangkan ACP dua lebih pada perakitan. "kelas X wajib mempelajari ACP," jelasnya.

Ada tempat khusus belajar merakit laptop, yakni di kelas Axioo, ruangannya menggunakan Ac, suasananya nyaman, tenang dan sejuk, eduboard. kelas ini memenag dibuat khusus agar siswa bisa belajar dengan tenang dan nyaman.

Suasananya itu membuat para siswa semakin bersemangat belajar. para pelajar yang sekolah di SMK Nuris cukup beruntung. sebab, selain menempati kelas yang nyaman, juga memiliki bisa langsung memiliki laptop Axioo.

Seluruh kelengkapan fasilitas belajar di kelas itu disediakan oleh Axioo, mereka harus memakai baju khusus berwarna putih, sarung tangan karet dan lainnya. Hal itu sesuai dengan standart yang diberikan oleh Axioo.

Para siswa SMK Nuris belajar di ruangan itu selama delapan jam. suasana yang nyaman membuat mereka betah belajar merakit komputer dan laptop. "satu kelas diisi oleh 36 siswa, mereka diseleksi dulu seperti proses melamar kerja," ucapnya. misal, tes tentang psikologi, dan lainnya.

Kelebihan belajar di kelas Axioo, para siswa SMK Nuris memiliki kompetensi sesuai standart industri. kemudian, memiliki sertifikasi internasional dan sertifikasi dari industri. "selain itu, bisa menyerap materi KBM lebih cepat," ujarnya.

Ketika sudah lulus dari kelas Axioo, mereka bisa langsung masuk kerja karena sudah mengantongi sembilan sertifikat yang bbisa digunakan untuk bekerja. misal sertifikat microtik, sertifikat acoding, sertifikat fiber optic dan lainnya.

Selain mudah mencari karier, mereka juga memiliki kemampuan kewirausahaan. bila tak ingin menjadi karyawan, bisa mandiri denagn menjadi entrepreneur. "mereka diajari merakit laptop sampai bisa," tuturnya.

Kemudian itu tak hanya diasakan oleh para siswa, tetapi juga para guru di SMK Nuris. mereka bisa meningkatkan kompetensinya, menjadi perwakilan Axioo sebagai assessor dalam uji kompetensi serta meningkatkan poin akreditasi guru.

Guru juga lebih mudah menerangkan karena siswa sudah siap dengan materi yang ada di dalam laptop. dalam pembelajaran dikelas ini, siswa diminta untuk lebih aktif. "baru kalau tidak bisa memecahkan masalah, ditanyakan pada guru," jelasnya.

Selain itu, guru hanya menyampaikan materi seperlunya pada slide yang sudah disediakan. para siswa mengembangkannya dengan berbagai metode, seperti diskusi. "per semester dipantau oleh Axioo, jika berkembang, peralatan akan terus ditambah, perkembangan teknologi Axioo juga sampaikan," paparnya.

SMK Nuris menggandeng Axioo untuk menciptakan siswa yang memiliki keahlian profesional. kerja sama itu berdasarkan  kebutuhan zaman agar lulusannya bisa bersaing  ketika sudah terjun ke lapangan kerja. "kami tak ingin lulusan kami bekerja di jabatan biasa, tetapi menempati posisi strategis," tambah Drs Haryono, kepala SMK Nuris.

Para lulusan SMK Nuris juga sudah mampu mewarnai dunia kerja. selain ini juga diterima di berbagai perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Jember, Uguna Darma Jakarta, Teknik Mesin Universitas Malang dan lainnya. Pengasuh Ponpes Nuris Gus Robith Qosidi menambahkan pesantren tidak ingin ketinggalan dalam bidang teknologi. sehingga menggandeng Axioo untuk menciptakan smart class agar para siswanya lebih berkompeten. (kl/gus/cl/hdi)

SUMBER : JP-RJ 9 JUNI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...