Kamis, 03 Januari 2019

MENENGOK PEMULUNG TPA SELAMA BULAN PUASA

Tetep Puasa Meski Bau Sampah Dibawa Sampai Rumah

Bersyukurlah jika kerjaan anda tidak menguras tenaga banyak saat menjalankan ibadah puasa. Coba tengok mereka yang berpuasa di saat pekerjaannya butuh tenaga ekstra dengan setiap hari mencium bau tak sedap. inilah berpuasa ala pemulung di tempat pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.

WAWAN DWI SISWANTO, Pakusari

SUARA motor bebek yang digeber terdengar masuk area tumpukan sampah di TPA Pakusari yang menanjak. suaranya pun lebih berisik dari pada motor sejenisnya. makhlum saja motor itu kotor, tanpa spion, dan yang jelas bau. motor itu dikendarai oleh Azizah bersama putranya.

Mengenakan daster kuning kecoklatan juga menyapa setiap kendaraan roda dua melintas di tumpukan sampah. dia kemudian memarkir motornya dan langsung mengandeng buah hatinya untuk naik ke tenda-tenda pemulung.

Tenda itu jauh dari kemewahan dan kesederhanaan. atapnya saja dari terpal. ada yang warnanya biru, jingga, coklat, tapi semua rusak dan berlubang. untuk lantainya saja beralaskan tanah, tapi ada pula dari plastik bekas sak beras. sekeliling tenda pemulung itu masih banyak tumpukan sampah yang bisa di daur ulang. ada botol plastik, kardus, dan plastik.

Azizah adalah pemulung sampah di TPA Pakusari. dia menunggu suaminya yang mencari sampah sembari merapikan dan mengemasi sampah plastik hasil memulungnya tadi pagi. usai ashar dia harus pulang ke rumah utuk mempersiapkan menu buka bersama. ya meski pekerjaannya sebagai pemulung dia tetap jalankan kewajibannya berpuasa.

Azizah mengaku, suasana TPA Pakusari di bulan suci ramadhan tidak se ramai hari-hari biasanya. "kalau puasa memang agak sepi, karena pemulung ada yang puasa. siang hari sudah banyak yang pulang," katanya. Pulung di TPA Pakusari, kata Azizah,tidak semua berpuasa. dari sekitar total 200 pemulung,tambah Azizah, mungkin 30 persennya berpuasa.

Bagi orang umum yang tak puasa saat datang ke tumpukan TPA Pakusari, mau makan saja tak akan doyan karena selalu cium bau busuk. lantas bagaimana jika berpuasa seperti Azizah dan keluarganya? "sama saja. bahkan bau yang ditimbulkan dari sisa makanan itu sudah terbiasa di hidung," katanya.

Perempuan 35 tahun ini mengaku awal kerja jadi pemulung ini juga alami hal tidak enak. mual hingga tidak doyan makan. "awalnya ya muntah-muntah selama satu mingguan. selanjutnya ya enggak enak perut kalau lihat sesuatu yang tidak enak," katanya.

Pekerjaan Azizah pun juga jauh dari kata menjaga kesehatan. dia bersama pumulung lainnya, tanpa memakai sarung tangan dan masker. terpenting, kata dia, mau makan itu cuci tangan. setiap puasa tiba, Azizah setiap sore pulang dan memasak untuk menyiapkan hidangan berbuka. "sampai rumah itu langsung mandi dan masak," paparnya.

Dia menjelaskan, dari semua pumulung di sini saat puasa tidak ada makan sahur dan berbuka di TPA Pakusari. "semua pulang, karena rumahnya dekat-dekat sini," imbuhnya.

Tak jarang pemulung di TPA Pakusari ini sering mendapatkan makan berbuka gratis. "kalau puasa seperti ini sering juga orang itu beri makanan berbuka," ungkapnya.

Sesuatu yang tidak bisa dilupakan dan harus beradaptasi adalah saat ikut shalat teraweh berjamaah
. bau sampah busuk itu masih menempel di badan. "kalau saat musim hujan, sampah itu lebih bau. jadi mau taraweh ini lebih baik pilih paling belakang biar yang lain tidak terganggu," ujarnya.

Sementara Misyono, 40tahun, ynag juga pemulung di TPA Pakusari mengaku, biasanya dibantu istri jika sang istri tidak ada pekerjaan di Gudang Tembakau. "kami juga tetap berpuasa. karena puasa ini wajib," pungkasnya. (dwi/hdi)

SUMBER : JP-RJ 24 MEI 2018

Rabu, 02 Januari 2019

SISWA SMK NURIS, KEMBALI PRAKERIN DI THAILAND

Kembangkan Wawasan, Semakin Terpacu untuk Maju.

Di Jember, boleh jadi hanya SMK Nuris yang mengirim siswanya prakerin ke luar negeri. setiap tahun, siswanya dikirim ke Thailand untuk menambah wawasan. hasilnya, mereka yang pernah ke Thailand memiliki semangat tinggi untuk maju.

BAGUS SUPRIADI, Sumbersari

PADA 9 Februari 2018 lalu, siswa SMK Nuris berangkat ke Thailand untuk melakukan prakerin. selama sebulan, mereka menghabiskan waktunya untuk praktik. Di sana, mereka tak hanya praktik, namun juga menambah wawasan tentang kamajuan negara lain.

Abdul Latif, siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan (TKJ) memiliki kesempatan ke luar negeri. di sana, dia sekaligus membantu pondok pesantren. yakni menjadi tim informasi teknologi. "Pesantren di Thailand butuh SDM di bidang teknologi, saya membantu," katanya.

Di sana, Latif menerapkan ilmu yang didapatkan di sekolah.
Selain membantu pondok pesantren, dia juga belajar mengenal budaya sekitar. siswa asal Sumatra itu mempelajari karakter kemajuan Thailand. "Di sana cari pengalaman yang lebih," ucapnya.

Latif tak hanya berhenti di Thailand, namun sebelum pulang ke ponpes Nuris, masih memperluas wawasan dengan mampir ke Singapura. kemajuan negara itu juga menjadi motivasi untuk terus berkarya.

Tak heran, semangat untuk maju terus muncul karena motivasi yang berbeda. pengalaman dari negara lain mendorong Latif agar tak tertinggal. di sekolah, dia semakin semangat belajar. "Pengalaman dari Thailand membuat semangat lebih tinggi," ucapnya.

Singapura menjadi tempat singgah kedua setelah lebih dari sebulan tinggal di Thailand. siswa SMK Nuris menikmati pesona Negeri Seribu Larangan tersebut. di sana, mereka mengamati kebiasaan baik yang dilakukan oleh warga negaranya.

Selama sebulan di luar negeri, Latif merasakan betul manfaatnya. selain prakerin, dia juga bisa jalan-jalan. dia tak hanya belajar di dalam ruangan, namun menikmati pengalaman dunia luar yang tak terbatas.

"Tahun lalu ada empat orang yang berangkat, sekarang hanya satu anak," kata Drs Haryono, kepala SMK Nuris. menurut dia, Singapura terkenal denagn budaya disiplin yang sangat ketat. para siswa SMK Nuris bisa belajar kebiasaan baik masyarakat Singapura.

Selain itu, kebiasaan baik seperti mendahulukan yang lebih tua juga bisa ditiru. kemudian, aturan yang tegas dilakukan bisa menjadi inspirasi.misal, merokok bukan pada tempatnya langsung mendapat sanksi. selain itu, semangat kerja warga Singapura juga menjadi inspirasi.

SMK Nuris, kata Haryono, sudah melakukan kerja sama dengan Thailand. setiap tahun, siswanya akan dikirimkan ke sana untuk prakerin. manfaat ynag diperoleh sudah dirasakan. tak hanya menambah semangat, namun beberapa lulusan SMK Nuris diterima di kampus ternama.

Mereka bekerja di Istana Honda Mobil, di Suzuki dan Perusahaan lainnya. Bahkan, ada yang melanjutkan studi di fakultas Teknik Universitas Jember, Universitas Guna Darma Jakarta, Teknik Mesin Universitas Malang, dan lainnya.

Selain itu, prestasi SMK Nuris juga terus meningkat setiap tahunnya. tahun sekarang, sudah ada tujuh piala yang diraih oleh siswa. bahkan, mereka juga semakin produktif dalam berkarya, seperti menciptakan mobil listrik dan mobil tenaga surya.

Pertukaran pelajar itu merupakan kerja sama Nuris Student Exchange Program (Nsep). setiap tahun selalu ada pertukaran pelajar,tak hanya SMK Nuris, tetapi juga siswa MA dan SMA.

"Ini sudah yang ke empat kalinya santri Nuris keluar negeri," kata Imam Sainusi, ketua NSEP.
Di Thailand, para siswa disebar di sejumlah daerah, seperti di Krabi, Pttani, dan Songkla. ada yang mengajar di Pondok Pesantren, ada yang magang di perusahaan. "Mereka yang kesana dapat sertifikat pertukaran pelajar," tuturnya.

pengasuh Ponpes Nuris Gus Robith Qosidi menambahkan, SMK Nuris ingin membuka cakrawala para siswanya. Yakni dengan berkeliling ke luar negeri untuk mengetahui perkembangan dunia global. "Misal ketika ke Singapura, mereka tahu kemajuannya," ujarnya.

SMK Nuris lanjut dia, ingin mencetak lulusan yang dibutuhkan oleh industri. sehingga, selain menambah sarana prasarana, juga memperluas wawasan dan jaringan dunia kerja di tingkat lokal hingga internasional. oleh karena itu, NSEP terus memperluas jaringan, tak hanya Thailand dan Singapura, tetapi juga ke negeri lain seperti Malaysia, bahkan China hingga Mesir. (kl/gus/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 23 MEI 2018

Selasa, 01 Januari 2019

ANJASMORO, DESTINASI WISATA BARU DI DESA SUMBERSALAK, LEDOKOMBO

Menurut mitos, Tempat Berpisahnya Minak Jinggo dan Kencana Wungu


Jika mau dikelola lebih serius, Jember sejatinya memiliki puluhan destinasi wisata alam yang memukau. Tersebar di berbagai pelosok desa. Kini muncul gairah masyarakat setempat untuk mengembangkannya. Seperti Air Terjun Anjasmoro. Berada di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, air terjun ini menawarkan nuansa keindahan alam.

ADI FAIZIN, Ledokombo

BUTUH perjuangan ekstra untuk mencapai Air Terjun Anjasmoro. Tidak hanya karena Desa Sumbersalak yang relatif cukup jauh dari pusat kota Jember. untuk menuju Air Terjun Anjasmoro dari kantor Balai Desa Sumbersalak pun, pengunjung juga harus melewati jalan bebatuan.

Tetapi, sedikit perjuangan itu akan terbayar lunas begitu pengunjung tiba dan menikmati cantiknya Air Terjun Anjasmoro. "Perlahan kita bangun infrastruktur pendukung untuk Air Terjun Anjasmoro ini," tutur Iwan Joyo Suprapto, salah seorang pemuda asli Desa Sumbersalak.

Bersama empat rekan lainnya, yakni Kholik, Abdul Munif, Didik Hadi Prayitno, dan Muhammad Lutfi, Iwan berinisiatif untuk merombak salah satu air terjun yang ada di desanya tersebut menjadi destinasi wisata alam. "Dulunya air terjun ini dipenuhi tanaman liar, masih seperti hutan lah. Tidak ada yang berani menjamah ke sana," tutur Iwan. Selain penuh pepohonan, mitos yang menyelimuti Air Terjun Anjasmoro menambah suasana angker di destinasi tersebut.

Air Terjun Anjasmoro memang lekat dengan cerita dari mulut ke mulut. Tak sekadar cerita mistis, destinasi ini juga dikaitkan dengan mitos sejarah yang dijadikan dasar penanamannya.

"Kata orang tua-tua dulu, air terjun ini adalah petilasan atau tempat berangkatnya Prabu Damarwulan sebelum berangkat ke Banyuwangi untuk melawan Prabu Menang Jinggo, penguasa Blambangan. Memang cerita itu tidak didukung bukti sejarah yang valid," ujar alumnus Fakultas Dakwah IAIN Jember ini.

Minak Jinggo dikenal sebagai perwira militer di kerajaan Majapahit. sedangkan Menang Jinggo yang berkuasa di Blambangan, dikenal sangat sakti dan menjadi ancaman bagi eksistensi Kerjaan Majapahit. oleh karena itulah, Minak Jinggo bermaksut untuk melakukan serangan pendahuluan (pre-emptive strike) demi keberlangsungan Majapahit.

Namun, operasi militer Minak Jinggo itu kurang direstui sang istri, Kencana Wungu. Mereka berdua akhirnya berpisah di satu tempat ynag di kemudian hari menjadi Air Terjun Anjasmoro yang ada di Desa Sumbersalak. "Kencana Wungu menangis sehingga menjadi air terjun. tetapi itu memang cuma mitos saja," lanjut Iwan.

Bukan mitos yang dijual dari destinasi wisata Anjasmoro. untuk mendukungnya menjadi destinasi wisata alam. kelima pemuda desa itu sepakat untuk terus merevitalisi Air Terjun Anjasmoro. "Kita mulai merintis sejak awal 2017, dengan membentuk pokdarwis atau kelompok sadar wisata berbasis desa," ujar Iwan.

Gairah untuk mengembangkan Air Terjun Anjasmoro tak lepas dari geliat yang lebih dulu dialami "kakak kandungnya," yakni Air Terjun Damar Wulan. Desa Sumbersalak memang memiliki dua air terjun yang sama-sama indah. hanya saja, Air Terjun Damar Wulan lebih dulu ramai dan dikembangkan warga sekitar yang ada di dusun tersebut.

"Sebenarnya kalau menurut saya, lebih indah Air Terjun Anjasmoro, karena nuansa alamnya lebih eksotis. seiring ramainya Air Terjun Damar Wulan, warga di Dusun Juroju yang ada di sebelah timur desa, berinisiatif untuk mengembangkan Air Terjun Anjasmoro," cerita Iwan. Air Terjun Damar Wulan mulai dibenahi dan dipromosikan oleh warga sejak akhir tahun 2013.

Langkah pertama yang dilakukan para pemuda desa adalah dengan membentuk pokdarwis. semula, Iwan berhasil mengumpulkan 10 pemuda. Namun, tak lama, jumlahnya menyusut tersisa lima, termasuk Iwan di dalamnya. "Karena ini memang misi sosial untuk desa. yang lain masih memiliki kesibukan lain," tutur pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Baitul Arqom, Balung, Jember ini.

Meski hanya tersisa lima personel, tidak menyurutkan langkah mereka untuk merevitalisasi Air Terjun Anjasmoro. Dengan bergotong royong, mereka membenahi batu-batu yang ada di sekitaran air terjun.
Mereka juga membuat kolam-kolam di sekitar air terjun. "Kami nekat memberanikan diri karena ingin desa kami lebih maju," kenang Iwan. sebelumnya, Desa Sumbersalak yang cukup terpencil dikenal sebagai salah kantong pengiriman buruh migran di Jember.

Saat awal melangkah, tantangan justru berasal dari warga desa setempat. "Awalnya banyak yang tidak setuju air terjun air terjun anjasmoro dijadikan destinasi wisata. mereka khawatir akan dijadikan tempat maksiat seperti mabuk atau pacaran," tutur Iwan.

Namun, secara perlahan, Iwan dan rekan-rekannya bisa mengikis keraguan warga tersebut. untuk menambah keyakinan, mereka juga mengandeng Babinsa dan Babinkamtibnas untuk bersama warga mencegah terjadi tindakan yang melanggar norma sosial di Air Terjun Anjasmoro.

Karena sudah mendapat kepercayaan, warga sekitar pun dengan sukarela bersedia membantu inisiasi dari Pokdarwis Anjasmoro. untuk pembuatan pembatas jalan menuju air terjun yang berfungsi tempat pegangan tangan, mereka mengunakan bambu milik warga secara gratis. "Kebetulan yang punya lahan mempersilahkan bambunya kita manfaatkan. mereka senang karena jadi bersih  dan ramai," tutur Iwan.

Upaya revitalisasi Air Terjun Anjasmoro memang berlangsung perlahan. Tak terhitung berapa biaya total yang sudah digelontarkan untuk investasi sosial ini. "Sambil jalan saja. selain di sumbang warga, juga ada pemasukan dari tiket masuk sebesar Rp 2 ribu untuk sekali masuk. Itu yang kita kembangkan," ujar Iwan.

Berhasil meyakinkan warga, Iwan dan rekan-rekannya fokus pada upaya promosi dan revitalisasi memang sengaja dilakukan dengan swadanya. "kita tidak mengajukan proposal karena ingin mandiri," tegas Iwan.

Untuk promosi, Pokdarwis Anjasmoro banyak memanfaatkan media sosial. meski sinyal internet di desa tersebut tidak selalu optimal. "Kebetulan saya kan diamanahi sebagai operator desa di kantor desa. saya juga banyak melibatkan anak-anak mahasiswa yang lagi KKN di sini, seperti dari IAIN Jember, Unej, maupun IKIP PGRI Jember untuk bantu promosi," urai Iwan.

Sebagaimana layaknya anak kekinian yang familier denagn media sosial, cara promosinya pun cukup kreatif. seperti lomba swafoto (selfi) di instagram denagn latar air terjun anjasmoro. selain itu, Iwan juga memanfaatkan relasinya di Jember kota untuk menopang promosi Air Terjun Anjasmoro. "Saya akhirnya bergabung denagn destinasi-destinasi wisata yang ada di jember. Lumayan membantu promosi juga," jelas Iwan.

Selang beberapa bulan berikutnya, upaya Iwan dan rekan-rekannya tersebut membuahkan hasil. secara perlahan, kunjungan wisatawan ke Air terjun anjasmoro mulai meningkat. kondisi ini tentu saja berimplikasi positif pada geliat ekonomi warga setempat. "Setidaknya inimenambah penghasilan untuk warga yang berjualan makanan. kita juga sedang merintis produk pangan sehat desa seperti camilan dan krupuk mocaf," tutur pria yang juga aktif di komunitas Tanoker, Ledokombo ini.

Geliat ekonomi tidak hanya di sektor kuliner. sejak berdirinya pokdarwis di Desa Sumbersalak, secara perlahan beberapa kesenian juga mulai muncul di desa ini. "Seperti jaranan, canmacanan kadduk yang khas Jemebr. juga kesenian hadrah dan Al-Banjari, serta musik patrol," urai Iwan.

Ke depan, untuk semakin meningkatkan ekonomi warga desa, pengembangan Air Terjun Anjasmoro rencananya akan sinergikan dengan badan usaha milik desa (BUMDes) yang sudah terbentuk di Desa Sumbersalak. "Rencana BUMDes juga mau membuat kafe wisata di tengah sawah. karena kita memang menjual suasana alami pedesaan untuk menarik pengunjung," pungkas Iwan. (ad/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 22 MEI 2018

INAIFAS, KAMPUS SWASTA YANG EKSIS DARI LUAR PUSAT KOTA JEMBER

Lestarikan Tradisi Pesantren, Tingkatkan SDM di Jember Selatan

Ada puluhan kampus baik negeri maupun swasta di Jember. Namun hampir semuanya berada di pusat kota. Institut Agama Islam Al-Falah As-Suniyyah (INAIFAS) bisa dibilang satu-satunya kampus swasta yang mampu eksis bertahun-tahun dari luar pusat kota. bertekad mengembangkan SDM mayarakat yang ada di sekitar.

ADI FAIZIN, Kencong

MENGENAKAN peci dan jas hitam berdasi, lelaki itu tampak serius menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dosen pengujinya. hari itu menjadi hari yang cukup penting bagi Abdur Rahman atau Abd Rahman. pasalnya, hari itu Abdur Rahman yang kini sudah berusia 52 tahun itu sedang menjalani sidang skripsi.

"Biar saya bisa menjadi contoh bagi anak cucu saya, kalau belajar itu tidak mengenal usia. agar anak cucu saya nantinya juga mencintai ilmu," begitu jawaban Abdur Rahman saat ditanya mengapa masih semangat kuliah di usianya yang sudah mencapai kepala lima.

Dan perjuangan Abdur Rahman tidak sia-sia.
Mengambil jurusan ahwal syakhshiyah (hukum keluarga islam) di Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Al-Falah As-Asuniyyah (INAIFAS sebelumnya bernama STAIFAS) kencong, Abdur Rahman berhasil lulus dalam sidang skripsi dan kemudian ikut wisuda sebagai lulusan Fakultas Syariah INAIFAS.

Tidak sekadar mengejar kelulusan. sejak awal, selama proses perkuliahan, Abdur Rahman terbilang mahasiswa yang tekun dan aktif. "Beliau juga paling rajin dan telaten mencatat keterangan dosen dan tidak malu bertanya. Pak Abdur Rahman juga tidak pernah datang  terlambat saat kuliah," tutur Rizal Mumazziq Zionis, salah satu dosen yang juga kepala Prodi ASINAIFAS kepada Jawa Pos Radar Jember.

Motivasi Abdur Rahman tidak sekadar mengejar ijazah. pekerjaan sehari-harinya adalah petani yang relatif berkecukupan secara ekonomi, sehingga tidak lagi membutuhkan ijazah untuk menunjang kariernya.

Abdur Rahman barangkali salah satu gambaran tentang mahasiswa di INAIFAS. berdiri sejak tahun 1998 bersamaan dengan angin reformasi, kampus ini semula bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah atau STAIFAS. sesuai namanya, pesantren ini berada di bawah naungan Ppondok Pesantren Al-Falah Assunniyyah, Kencong yang merupakan salah satu pesantren tua di Jember Selatan.

Pondok Pesantren Assunniyyah ini dirintis dan didirikan oleh KH Djauhari Zawawi, di Desa Kencong, pada 1942. pada masa kemerdekaan, pesantren ini menjadi saksi perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang. seiring perjalanan zaman, pesantren ini terus berkembang termasuk STAIFAS yang menjadi salah satu unit pendidikan yang ada di dalam pesantren.

Bahkan mulai tahun lalu, kampus tersebut mencatatkan perubahan penting yakni dengan meningkatnya status dari sekolah tinggi menjadi institut. "Resminya mulai semester lalu. makanya mulai tahun akademik baru ini, kita mulai perkenalkan nama baru yakni INAIFAS," tutur Rektor INAIFAS Drs Khumaidi MHum saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember.

Sebagai salah satu kampus perguruan tinggi agama islam swasta (PTAIS), INAIFAS selama ini membuka tiga fakultas, yakni syariah dan tarbiyah dan ekonomi dan bisnis Islam (FEBI). "FEBI ini baru buka satu tahun dengan konsentrasi ekonomi syariah," lanjut Khumaidi.

Ekspansi kampus negeri di pusat kota Jember seperti Unej dan IAIN Jember selama beberapa tahun terakhir, nyatanya tidak selalu berdampak bagi kampus swasta. Hal ini, menurut Khumaidi karena pihaknya sudah memiliki segmentasi yang jelas untuk peserta didiknya.

"Segmentasi kami sudah jelas, yakni untuk Kencong dan sekitarnya, yakni 5 Kecamatan yang ada di bawah PC NU Kencong serta Lumajang bagian timur. Mahasiswa kamu terutama mereka yang dari keluarga sederhana. meskipun mereka yang dari keluarga mampu di sekitar sini kemudian banyak juga yang akhirnya kuliah di sini," jelas alumnus magister ilmu linguistik UGN ini.

Seiring dengan penigkatan status menjadi institut, INAIFAS juga merencanakan pengembangan lain melalui pembukaan prodi-prodi baru. pemilihan bidang keilmuan pun disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di madrasah atau sekolah-sekolah yang ada di kencong dan sekitarnya. "sekarang ini kan yang kurang guru BK (bimbingan konseling), karena itu setahun terakhir sudah kita buka prodinya di tarbiyah. rencana kita kan buka beberapa prodi nonagama, meski tidak menghilangkan ruh agama. seperti pendidikan matematika atau bahasa inggris," jelas Khumaidi.

Segmentasi mahasiswa INAIFAS tersebut, terlihat dari mahasiswanya terutama di fakultas tarbiyah sebagai fakultas terbesarnya. kebanyakan, mereka yang kuliah di sana adalah guru-guru dari madrasah/sekolah umum yang ada di sekitar Kencong. "alhamdulillah, guru-guru yang ada di sekitar Kencong, sekarang sudah sarjana semua. jadi sekolahnya sudah memenuhi syarat akreditasi," tutur Khumaidi.

Meski tidak mempermasalahkan ekspansi kampus negeri, Khumaidi berharap penambahan kampus negeri tersebut tidak berlebihan. "Bagi kampus berbasis pesantren seperti kami, mungkin tidak masalah. tapi untuk yang berdiri sendiri, bisa kelimpungan," ujar Khumaidi.

Di sisi lain, sebagai kampus agama berbasis pesantren, Khumaidi kelebihan yang belum tentu dimiliki kampus negeri. "Kemampuannya akhlak dan bahasa Arab seperti baca kitab dari mahasiswa kami tidak perlu diragukan. karena mereka anak pondok," ujar Khumaidi.

Meski pendidikan tinggi tidak termasuk tanggung jawab langsung dari pemerintah daerah, Khumaidi menilai tetap ada peran penting dari pemkab Jember untuk membantu kampus-kampus yang ada di Jember. terutama kampus swasta. "Karena itu kan bagian dari peningkatan SDM yang ada di daerah tersebut. tergantung kemauan dari kepala daerah dan DPRD nya juga sih," ucap Khumaidi.

Peran pemkab tersebut, bisa diwujudkan antara lain melalui bantuan peningkatan sarana prasarana di kampus swasta. "ke depan, kita arahnya menjadi universitas. tidak ada kepentingan lain, misi utama kita adalah meningkatkan mutu SDM untuk masyarakat yang ada di kencong dan sekitarnya sesuai motto dari pesantren kita," pungkas Khumaidi. (ci/ras)

SUMBER : JP-RJ 21 MEI 2018

Kamis, 13 Desember 2018

YENIS PRATIWI, IBU RUMAH TANGGA YANG BERDAYAKAN WARGA SEKITAR

Optimalkan Barang Bekas Jadi Desain Interior yang Cantik

Usaha yang tujuannya baik akan berdampak baik. Konsep inilah yang dikembangkan Yenis Pratiwi. Ibu rumah tangga ini mampu menyerap tenaga kerja orang kampung dan mampu menyulap botol miras bekas jadi desain interior.

WAWAN DWI SISWANTO, Sumbersari

MENCARI kediaman Yenis Pratiwi kini semakin mudah. jika sulu pernah mengontrak di kawasan Sumber Alam, berlanjut masuk dari blok ke blok perumahan. saat ini rumahnya tepat di jalan utama Perum Puri Bunga Nirwana, sumbersari.

Berawal dari kontrak dengan suaminya untuk berhenti kerja, Yenis tetap punya konsep bagaimana perempuan ini tetap berdaya dengan tugas utamanya segabai ibu rumah tangga. jalan usaha ynag dikerjakan di rumah itulah pilihannya.

Punya saudara berprofesi perias dan melihat kondisi anak tetangga, anak yang carut-marut dan tidak meneruskan sekolah, dia ingin memperkerjakannya.

Salah satunya, usaha yang menyerap tenaga kerja rumahan, seperti suvenir pernikahan. "Awalnya ya ibunya dulu jadi pembantu. kemudian, anaknya mulai mau membantu kerja buat suvenir," ungkapnya.

Setelah pindah dari perum Sumber Alam ke Puri Bunga Nirwana, hati Yenis kembali terketuk. kampung yang dekat perumahan itu masih banyak pernikahan dini. "ini masih kota dan dekat kampus. anak-anak perempuan di perkampungan masih banyak yang nikah usia dini.umur 14 tahun atau lulus SD masih ada yang dinikahkan," imbuhnya.

Memakai metode mencari pembantu dari perkampungan dan selanjutnya mempekerjakan pemuda setempat dilakukan lagi. Yenis mengaku, pernikahan usia dini harus diminimalisasi. dia yang menikah di usia 23 tahun saja banyak gelombang yang harus dilalui.

"Nikah itu tidak hanya membuat anank saja. tetapi bagaimana membangun keluarga dan mendidik anak nanti seperti apa," ujarnya.

Pernikahan usia dini secara medis juga tak dianjurkan. sehingga, menurutnya, cara untuk membuat perempuan usia dini tak segera menikah adalah membuat lapangan pekerjaan. "Mengubah pola pikir masyarakat agar tak menikahkan anak usia dini ini sulit. caranya lewat mempekerjakan mereka," katanya.

Walau niat baik untuk meredam pernikahan dini belum tentu diterima oleh masyarakat. Yenis diterima oleh masyarakat. Yenis pernah dibenci karena dianggap orang yang menghalangi nikah.
"Ya sering kali karyawan itu lari ke sini, tidak ingin nikah cepat-cepat," katanya. cara agar tidak dibenci, tambah dia, sering main ke rumah karyawan. "kalau nggak ada kerjaan, main kerumah karyawan," tambahnya.

Menurut Yenis, perempuan semakin berdaya membuat mereka berpikir luas dan membuat laki-laki luluh. perempuan yang membuka usaha bernama Inez Galeri ini juga menyerap karyawan dari anak jalanan dan suka mabuk. tetapi, mereka membaik. perempuan dua nak ini mengaku mulai merambah bisnis desain interior rumah. inspirasinya tak lain dari pegawainya.

Memanfaatkan limbah potongan kayu yang melimpah dari perkampungan menjadi tulisan pernah-pernik hiasan dinding. Paling menarik adalah memanfaatkan botol miras dan gelas tak layak pakai desain decopage.

Botol miras yang selama ini hanya dipakai untukpenjual bensin eceran, disulap Yenis jadi barang hiasan istimewa. memakai metode deco page, yakni tisu bergambar yang ditempel ke botol dan selanjutnya di lem membuat nilai seni berbeda. harga botol yang hanya ratusan rupiah, lewat sentuhan Yenis bisa capai ratusan ribu.

Tak jarang, gelas-gelas yang tak terpakai oleh tetangga bisa diberi sentuhan deco page jadi barang yang sayang untuk dibuang. usaha perempuan asal Banyuwangi ini membuktikan bahwa ibu rumah tangga bisa berkarya. bisa jadi perempuan berdaya untuk suami dan keluarganya. (dwi/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 20 MEI 2018

ADAM BADRA CAHAYA, AREK JEMBER YANG RAIH DOKTOR FISIKA DI USIA 28 TAHUN

Pulang, Siap Tinggalkan Kenyamanan di Jepang

Tahun 2008, namanya sempat mengejutkan karena menyabet medali emas dalam olimpiade fisika tingkat dunia. Kini,satu dasawarsa berselang, Adam Badra Cahaya kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun merantau di Jepang untuk menempuh studi dari S1 hingga S3, dalam bidang Fisika murni. Alumnus SMAN 1 Jember ini tak ragu  meninggalkan kenyamanan hidup di Negeri Sakura.

ADI FAIZIN, Patrang

BEBERAPA minggu sejak tinggal di Indonesia, Adam Badra Cahaya melakoni aktivitas sebagaimana layaknya orang asing yang baru tinggal di tanah air. Seperti mengurus SIM yang sudah mati beberapa tahun lalu. "Kemarin saya tes tulis, lulus. Tapi, pas praktik mobil, tiga kali gagal. brgitu SIM C, juga ngulang.

Sampai tiga kali," tutur Adam sembari tersenyum. SIM Adam SIM C yang dimiliki Adam memang sudah mati sejak 2016 lalu. Kesibukan menjalani studi di Jepang membuatnya tidak sempat untuk mengurus perpanjangan SIM tersebut di Jember.

Sepuluh tahun lalu, nama Adam sempat menyita perhatian masyarakat. Saat itu, dalam olimpiade fisika tingkat dunia yang digelar di Kazakhstan, Adam meraih medali emas. Kemenangannya sempat mengundang kontroversi, pasalnya saat itu ia baru saja lulus dari SMAN 1 Jember. sebelumnya, Adam juga meraih medali emas dalam olimpiade fisika tingkat Asia yang digelar di Mongolia, namun saat itu ia masih berstatus sebagai pelajar SMAN 1 Jember. "Saat itu, saya bisa ikut karena belum menjadi mahasiswa," tutur Adam saat ditemui jawa pos Radar Jember di rumahnya, dikawasan perumnas patrang.

Fisika murni memang menjadi kecintaan Adam sejak lama. Meski di Indonesia Ilmu murni dianggap tidak menarik untuk ditekuni, tak menyurutkan semangat Adam untuk menggelutinya. Tak heran, jika setelah meraih medali emas dalam olimpiade Fisika Dunia, Adam memantapkan diri untuk mengambil jurusan fisika murni. "Meski juara olimpiade fisika internasional, tapi tidak jaminan langsung diterima di Universitas luar. saya tetap tes seperti yang lainnya," ungkap pria kelahiran 3 April 1990 ini.

Adam sempat tes dan lulus di National Technology University (NTU), salah satu kampus terbaik dunia yang ada di Singapura. Namun, kesempatan itu tidak dia ambil karena tidak mendapat beasiswa. Target utamanya sejak SMA memang kuliah di jepang melalui beasiswa Monbukagakusho yang disediakan pemerintah Jepang.

Selain karena kualitas pendidikan. Faktor lain yang membuat Adam bertekat untuk kuliah ke Jepang adalah kecintaannya terhadap manga (dibaca mangga,red), sebutan untuk komik-komik Jepang. Hingga kini pun, Adam masih menyimpan koleksi manganya. "Di Jepang, pecinta manga tidak terbatas usia. banyak orang dewasa yang suka manga. di sana juga tidak surut trennya," ujar pria yang semasa SMA aktif di pencak silat Merpati Putih ini.

Adam akhirnya mulai merantau di Jepang sejak tahun 2008. namun,, dia tidak langsung kuliah, melainkan harus menjalani kursus intensif bahasa dan budaya Jepang selama setahun di Center for Japanese Language and Culture, Universitas Osaka. Saat itu, ia minim kemampuan berbahasa jepang. "Setelah dites akhir, saya peringkat nomor dua dari bawah. Total ada 50 mahasiswa dari berbagai negara. Untungnya, Tohoku tidak terlalu ribet mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang," tutur Adam.

Dari Osaka, Adam akhirnya pindah ke Sendai untuk menjalani studi Fisika Murni di Universitas Tohoku. "Sendai ini sebenarnya bukan kota besar, mungkin seperti Jember, tapi lebih ramai sedikit lah. Sekitar 2 jam dari Tokyo kalau naik shinkanzen," jelas putra pasangan Prawoto dan Sulistyani ini.

Sempat kesulitan mempelajari bahasa Jepang, Adam memberanikan diri untuk banyak mempraktikkan bahasa Jepangnya. Antara lain dengan membantu komunikasi beberapa WNI yang baru tiba  di Sendai.

Ternyata, cara itu cukup manjur dalam meningkatkan kemampuan berbahasanya. "dapat setahun, saya ternyata bisa lulus tes bahasa jepang untuk orang asing dengan hasil yang bagus. ternyata, bahasa kalu dipaksa berkomunikasi, malah lebih bagus," ucap Adam.

Adam menempuh studi sarjana sejak tahun 2009 hinga 2013. Lulus sarjana, Adam langsung melanjutkan ke jenjang master hingga selesai tahun 2015. Dari tahun 2015 hingga 2018, Adam menempuh studi doktor.

Semuanya dalam bidang fisika murni di Universitas Tohoku. Disertasinya membahas tentang teknologi spintronic. teknologi ini antara lain bermanfaat untuk efisiensi teknologi penyimpanan data," jelas Adam.

Selama 10 tahun tinggal di Jepang, banyak pengalaman suka duka yang ia dapat. Dari Negeri Sakura pula, Adam bertemu Yuni Nurul Azizah, gadis asal bogor yang kemudian menjadi istrinya. sang istri juga menempuh sttudi master dan doktoral di Universitas Tohoku, dalam bidang ilmu hubungan internasional.

Dari Jepang pula, Adam berkesempatan menunaikan ibadah haji pata tahun 2013 bersama sang istri. "Karena kalu angkat dari Jepang kan enak, tidak usah antre kebetulan dapat diskon juga. pemilik travelnya orang mesir yang berbisnis di Jepang," tutur Adam.

Sejak pulang haji itulah, Adam mulai memanjangkan jenggotnya hingga saat ini. menariknya, Adam merasakan perbedaan cara pandang masyarakat antara di Indonesia dengan di Jepang, tentang jenggotnya. "Di Jepang, saya tidak terlalu ditanya orang tentang jenggot saya. Paling cuma apakah semua muslim wajib berjenggot? saya jawab tidak. Di sana juga sudah biasa orang berjenggot walau tidak semuanya muslim," jelas Adam.
Pengalaman berbeda dialami sejak Adam pulang ke Jember beberapa minggu terakhir, kebetulan, dia juga jarang pulang ke Jember. "Orang lebih banyak bertanya tentang jenggot saya ketimbang studi saya di Jepang," ujar Adam sembari tersenyum.
Sebagai minoritas muslim, Adam tidak merasakan diskriminasi selama tinggal di Jepang. bahkan, sejak tiga tahun terakhir Adam merasakan masyarakat di Sendai banyak yang mempresiasi dan ingin memahami agama Islam. "Tahun 2020 kan mereka jadi tuan rumah olimpiade. makanya, mereka mulai antisipasi kedatangan wisatawan muslim dengan banyak belajar tentang Islam," tuur sulung dari tiga bersaudara ini.

Salah satu wujud nyata dari apresiasi terhadap Islam di Jepang adalah dengan dibangunnya tempat salat atau musallah di beberapa fasilitas publik. "Saat itu, saya beri saran ke stafnya Wali Kota Sendai. Bandaranya kan sudah level internasional, masak tidak ada mesallanya. ternyata, tidak sampai 2 bulan setelah saya sampaikan, musalla itu sudah dibangun," kata Adam.

Selain kedisiplinan, birokrasi di Jepang diakui Adam sangat baik. tidak hanya  di pemerintahan, tapi juga di lingkungan kampus. "Aturan itu bisa ada kelonggaran,, sepanjang bukan untuk dilanggar. jadi memang kita tidak dipersulit," ucap Adam.

Oleh karena itulah, banyak diaspora Indonesia di Jepang yang ragu untuk pulang ke tanah air. Selain masalah kesenjangan kesejahteraan, banyak kakak kelas Adam yangmengeluhkan rumitnya birokrasi di Indonesia. "Di sana, dana riset melimpah dan prosedurnya tidak rumit. sehingga, akademisi bisa lebih fokus mengurusi riset dan mengajar," tutur adam.

Meski demikian, sedari awal adam sudah mantap untuk pulang ke Indonesia setelah merampungkan studinya. terlebih, ia menilai, selama beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mulai memberikan perhatian lebih untuk dunia riset dan pendidikan tinggi. "saya tidak takut untuk pulang ke Indonesia, karena ibu saya kan dosen di FKG Unej. jasi, saya paham lah, gaji dosen setidaknya masih cukup untuk makan," pungkas Adam sembari tersenyum. (mgc/ras)

SUMBER : JP-RJ 19 MEI 2018

Rabu, 12 Desember 2018

KISAH KIPTIYAH, TKI YANG 28 TAHUN "HILANG" DI ARAB SAUDI

Di Kampung, Sudah Dislamati sampai Seribu Harinya

Tak bermaksud mendahului takdir. Namun, karena putus asa, keluarga Jumanti Kiptiyah akhirnya menganggap perempuan yang jadi TKW itu sudah meninggal. Namun kisah sedih itu berbalik ketika akhirnya didapat kepastian itu nyata-nyata hadir di tengah keluarga. Seperti apa kisahnya ?

JUMAI, Tempurejo

HARI masih pagi. sekitar pukul 08:00. rumah Saiful Hadi terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa tamu terlihat hilir mudik di rumah yang ada di Dusun Krajan RT 1 RW 2, Desa/Kecamatan Tempurejo itu.

Tak sedang ada jabatan. tetapi, karena banyak tetangga yang penasaran dengan Jumiati Kiptiyah. Nenek 71 tahun itu kembali setelah sempat menghilang ke Arab Saudi sejak 28 tahun lalu.

Perempuan asli Dusun Krajan Timur, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari itu memang diminta tinggal di rumah Saiful Hadi, anak pertamanya, setelah berhasil kembali pulang ke tanah air. Semua anak-anaknya sepakat Kiptiyah tinggal disana untuk menghabiskan masa tuanya.

Memang, suasana pagi itu tak seramai malam ketika Kiptiyah baru datang, usai dijemput anak-anaknya di bandara Blimbingsari, Banyuwangi. tetapi, pagi itu sisa-sisa penasaran warga  masih terlihat. satu dua tetangga dan kerabat ingin melihat Kiptiyah dari dekat. ingin mendengar langsung kisahnya dari mulut perempuan yang berangkat menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke Arab pada 1990 ini.

Rona bahagia bercampur haru juga terlihat masih meliputi Kiptiyah dan anak-anaknya. kisahnya selama di Arab sering kali diulangnya. setiap ada yang menanyakan, Kiptiyah dengan sabar menjlentrehkan. Saiful Hadi terlihat selalu ada di samping ibundanya itu. dia seperti tak ingin jauh. bisa dimaklumi, sudah 28 tahun berpisah dengan ibundanya itu. dia juga termasuk anak yang paling sibuk mengurus kepulangan dan penjemputan ibundanya itu.

Meski terus terlihat rona bahagia, dia tak bisa menyembunyikan wajah kuyunya. "Saya nggak istirahat sama sekali, sejak menjemput di Blimbingsari, Selasa siang sampai sekarang (Rabu pagi, 16/5,red)," katanya.

Saiful mengaku sangat gembira dengan kehadiran kembali ibunya di tengah-tengah keluarga. Jujur, ketika itu, dia dan keluarga sebenarnya tak rela ibunya harus pergi menjadi TKI ke Arab Saudi. saat itu, dia masih 24 tahun. Namun, karena kondisi ekonomi keluarga, akhirnya keluarga pun memilih merelakan. "Ibu saya terpaksa pergi (ke Arab) meninggalkan alm Holil, Bapak, dan empat anak," jelasnya.

Kisah terpuruknya ekonomi keluarga itu memuncak ketika Kiptiyah bangkrut. sebelumnya, ibunya itu berjualan intan di Pasar Paleran, Kecamatan Umbulsari. Awalnya lancar-lancar saja. "Namun, karena banyak diutuangi orang saat itu, akhirnya usaha ibu ini bangkrut," ujarnya.

Kiptiyah pun akhirnya memutuskan menjadi TKI, dia berangkat melalui PT Afida Afia Duta Kebon Jeruk, Jakarta, Saiful Hadi menyebut, saat itu alamat yang ada di paspor memang bukan di Umbulsari. karena sesuatu hal, Kiptiyah menggunakan alamat Desa Dadapan RT 010 / RW 002, Kecamatan GRujukan, Kab.Bondowoso. perbedaan alamat di paspor itu pulalah yang sempat membuat pencarian Kiptiyah di Arab Saudi terkendala.

Awalnya, memang Kiptiyah masih berkomunikasi dengan keluarga, sekitar setahun. setelah itu, dia tak bisa berkomunikasi lagi. keluarga pun tak bisa melacak keberadaannya. Rupanya, Kiptiyah sudah pindah majikan. Tercatat, Kiptiyah 7 kali pindah majikan selama di saudi.

Keluarga terus berupaya melacak surat yan dikirimkan ke alamat majikan pertamanya tak pernah berbalas. Kiptiyah sendiri, rupanya juga kesulitan berkomunikasi dengan keluarganya. praktis, setahun setelah berada di Arab, komunikasi mereka putus total.

Karena putus asa, keluarga akhirnya menyimpulkan bahwa Kiptiyah sudah meninggal. sebab, dilacak kemana pun tak ada hasil. Termasuk ke PT yang memberangkatkannya. "Keluarga akhirnya menyimpulkan ibu sudah meninggal sekitar 2010 lalu," terang Saiful Hadi.

Selamatan untuk orang meninggal pun dilakukan keluarga itu. mulai dari tujuh hari, empat puluh hari, sampai peringatan seribu hari dilakukan. "Kami kirim doa sekaligus menghormati ibu yang kami anggap sudah meninggal," katanya.

Usai salat, Saiful dan adik-adiknya juga mengaku selalu kirim doa. selain sebagai wujud bakti kepada orang tua, mereka berharap doa itu bisa melapangkan kubur ibundanya.

Namun, perjalanan hidup orang memang tak ada yang tahu. Awal tahun kemarin, Saiful Hadi dan adik-adiknya mendapat kabar bahwa ibundanya masih hidup. Kabar itu beredar dari akun media sosial masyarakat di Jember. ada yang mengabarkan bahwa ada TKW yang mencari keluarganya di Jember setelah berpisah 28 tahun.

Sebelumnya, Kiptiyah memang bertemu dengan seorang TKW asal madura. kepada TKW itulah dia menceritakan kisahnya. termasuk ingin mencari keluarganya di Jember. Rupanya, oleh TKW itu, kabar tersebut disebar ke media sosial.

Menerima kabar itu, Saiful Hadi sempat ragu. "Melihat fotonya dan namanya memang sepertinya ibu saya, tapi alamatnya kok di Umbulsari," jelasnya.

Dia pun lantas mengingat-ingat, keluarganya dulu emang berasal dari sana. dia pun lantas mencoba mengejar informasi itu. "sebab, saya yakin. Kiptiyah di Paleran tidak ada lagi selain ibu," jelasnya.

Setengah tak percaya ketika pertama kali berkomunikasi dengan ibunya lewat HP. pun meski sudah difasilitasi lewat panggilan video. "Ya namanya sudah hampir 30 tahun pisah. Banyak perubahan dan benar-benar menglingi," kata Saiful Hadi.

Sosok Kiptiyah memang jauh berubah. selain wajahnya yang menua, dia sekarang berkerudung. Logat bicaranya juga tak sejelas dulu lagi. tak heran, ketika dijemput di bandara Blimbingsari, dia sempat tak mengenali anak-anaknya. pertama kali bertemu, Saiful Hadi,anak pertamanya itu, dia panggil kakak. Umi Lutfa, anak Keduanya, dia panggil Mbakyu. tak heran jika kali pertama bertemu setelah berpisah lama, ibu anak itu sempat canggung di tengah keharuan. "jangankan ibu, saya aja pangling meski sebelumnya sudah berkomunikasi lewat video call," kata Saiful.

Kiptiyah yang kini sudah memiliki tujuh cucu dan satu cicit ini mengaku, di Saudi dia terakhir bekerja merawat bayi. Dia mengaku selama di Saudi berkali-kali pindah  majikan. "Sekitar tuju kali pindah," katanya dengan bahasa yang patah-patah karena usia tua.

Dia mengaku beruntung selama bekerja selalu mendapat majikan yang baik. "Tidak pernah disiksa. Baik-baik orangnya," ucapnya.

KIptiyah ketika dikunjungi jawa pos Radar Jember, Rabu (16/50 lalu, masih terlihat bingung. Dikelilingi tetangga dan sanak saudaranya, pandangan matanya sering kali masih terlihat kosong dan bingung Dia juga belum mengenal anak-anaknya satu persatu dengan baik. apalagi cucu-cucunya.

Kini, keluarga itu merasa sangat bahagia. Kiptiyah mengaku tak menyangka jika akhirnya dia bisa kembali pulang dan bertemu anak-anaknya lagi. Berkali-kali dia mengucap syukur.

Lebih-lebih, gajinya selama 28 tahun bekerja di Saudi juga tidak hangus. "Saya titipkan ke majikan. kalau lagi butuh, diberi," katanya.

Selain itu, Kiptiyah juga mendapat bonus. Dia mendapat bantuan dari keluarga kerajaan Arab Saudi. "Uangnya kemarin langsung kami tukarkan dengan rupiah di Genteng, Banyuwangi," jelas Umi Lutfah, anak kedua Kiptiyah, dengan mata yang masih sembab.

Ya, selama dua hari Umi Lutfah berkali-kali harus menangis. Haru karena ibu yang disangkanya sudah meninggal itu ternyata kembali ke tengah-tengah keluarga dengan kondisi sehat. (mgc/ras) 

SUMBER : JP-RJ 18 MEI 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...