Rabu, 31 Oktober 2018

SAFINDA, KELOMPOK IBU-IBU YANG NGAJI DI KERETA API

Misi Kami Agar Membaca Alquran Seperti Baca Koran

mengaji bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Inilah yang dilakukan kelompok Ngaji di Kereta (Ngaret). Mereka memaksimalkan waktu untuk mengaji dalam perjalanan banyuwangi-Jember di kereta Api (KA)Pandanwangi.

WAWAN DWI SISWANTO

IDE beribadah kreatif tersebut dilakukan kelompok program pelatihan Terjemahan Alquran (PPTQ) Safinatul Huda (Safinda) di Banyuwangi Ahmad Zakaria, salah seorang ustad yang menjadi instruktur PPTQ Safinda Banyuwangi mengatakan, perjalanan mengaji di kereta adalah langkah agar umat muslim bisa mengaji di mana saja dan kapan saja.

Dia mengaku, ada persepsi di masyarakat mangaji itu harus di dalam ruangan seperti masjid dan rumah. padahal, setiap perjalanan seperti dikereta juga bisa melakukan aktifitas mengaji.

Misi pengajian di Safinda, menurut Zakaria, adalah mendapatkan masyarakat dengan ALquran. karena itu, para jamaah berasal dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan ormas. Mereka mengembangkan metode untuk orang dewasa yang belum bisa membaca Alquran agar lebih cepat menguasai. Selain itu, bagi yang sudah mampu membaca, mereka diajak memahami arti Alquran. "Misi kami adalah membaca Alquran bisa seperti baca koran," ujarnya.

Dengan menyasar masyarakat secara luas, kegiatan di Safinda diisi dengan konsultasi atau tanya jawab masalah fiqih di kalangan jamaah. selain beragam latar belakang profesi, anggota kelompok itu terdiri atas berbagai macam ormas. mulai NU, Muhammadiyah, persis, hingga Al-Irsyad. keragaman tersebut mendorong kajian figh dilakukan secara terbuka.

"Ketika ada jamaah yang bertanya pertanyaan figh, kami berikan berbagai macam alternatif pendapat figh. Jadi, jamaah bisa lebih leluasa memilih dan dewasa dalam beragama," ujar alumnus Pondok Pesantren Langitan, Tuban, itu.

Setelah sampai di stasiun Jember, para jamaah PPTQ Safinda Banyuwangi langsung bertolak ke Masjid Baitul Amien, Jember, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari stasiun. (wah)

SUMBER : JP-RJ 30 APRIL 2018

Selasa, 30 Oktober 2018

IDA SAIDA, YATIM PIATU YANG JADI WISUDAWAN TERBAIK FEBI IAIN JEMBER

Banyak DIbantu Dosen, Kuliah Sambil Dagang dan Ngajar

Semula, Ida Saida sempat terpukul ketika sang ayah wafat. Dukungan motivasi dari dekan dan para dosen membuatnya bangkit hingga bisa meraih gelar wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Jember, kemarin. Untaian kalimat penuh makna dalam karya sufistik Jalaluddin Rumi, turut memberi suntikan semangat hidupnya.

ADI FAIZIN, Kaliwates.

RONA muka gembira terpancar dari wajah Ida Saida . Di sela-sela profesi yudisium yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Jember kemarin, Ida menyempatkan diri untuk menemui Jawa Pos Radar Jember. "Alhamdulillah, senang sekali. Meski Ayah-ibu tidak ada di sini," tutur Ida.

Dalam wisuda yang digelar IAIN Jember pada sabtu (28/04) pagi kemarin, Ida mendapatkan posisi yang cukup spesial. Tidak sekedar lulus, Ida juga meraih gelar sebagai wisudawan terbaik dari FEBI.

Dengan masa studi 3 tahun 7 bulan, Ida juga memperoleh gelar wisudawan tercepat di fakultas tersebut. Torehan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,89 juga menempatkannya menjadi salah satu kandidat lulusan terbaik dalam wisuda IAIN Jember kali ini.

Di balik capaian tersebut, bukan yang mudah bagi Ida untuk meraih gelar terbaik itu. Pada tahun keduanya kuliah, sang ayah, yakni Solehan, wafat karena sakit. Kepergian sang ayah ini begitu terasa, karena sebelumnya, sang ibu, yakni Jar'ah juga sudah meninggal dunia. Sang bunda meninggal ketika Ia duduk di kelas 1 madrasah aliah. "Waktu itu sangat terpukul. Tidak terpikir bisa menyelesaikan kuliah," ujar gadis asal banyuwangi ini.
Setelah menunggu proses penyembuhan sang ayah selama tujuh hari, Ida harus membatalkan kepulangannya ke Jember karena ayahanda meninggal dunia. Setelah lewat tujuh hari, barulah Ida kembali dari rumahnya di Banyuwangi ke Jember. "Karena waktu itu sudah UTS. Untungnya dibantu catatan dari teman-teman," ujar Ida.
Beruntung, di saat kondisi sedang berduka, ada banyak tangan yang membantu Ida untuk bangkit kembali. Ida merasa banyak diberi motivasi dan dorongan semangat dari dosen-dosennya di FEBI.

"Salah satu yang paling terkenang selama kuliah adalah ketika saya sedang berduka, dosen-dosennya banyak memberi semangat. Terutama pak Dekan (Moch Chotib, Red) ketika itu menasihati saya agar tetap sabar, banyak berdoa dan tahajud. Beliau memotivasi saya untuk percaya pada janji Allah jika kita berusaha, sabar, dan berdoa," ujar gadis kelahiran 8 Februari 1996.

Selain motivasi dari dosen, gubahan kalimat-kalimat indah dari salah satu sufi terbesar sepanjang masa, Jalaluddin Rumi, juga menjadi energi tersendiri bagai Ida ketika ia berduka setelah ditinggal ayah tercinta. penggalan-penggalan syair penuh makna yang terkandung dalam kitab Matsnawi karya Rumi, seolah membiusnya untuk terus semangat menjalani hidup.

"Syair-syairnya itu selain mengajarkan cinta, juga membuat saya lebih sabar. Karena tidak gampang bagi saya ketika tidak ada orang tua, sedangkan saya masih ada adik. Saya tersadar, bahwa hidup itu harus diperjuangkan," ujar Ida.

Ikhtiar spiritual juga menjadi salah satu kiat Ida selama menuntut ilmu di FEBI IAIN Jember. Seperti puasa senin-kamis yang kerap dianjurkan para dosennya kepada Ida. "Selain ibadah, juga lumayan untuk ngirit ongkos," ujar Ida sembari tersenyum manis.

Faktor ekonomi memang menjadi tantangan lain bagi Ida selama menempuh studi di IAIN Jember. Setelah kepergian sang ayah, Ida memang dituntut mandiri. Karena itu, untuk membiayai kuliahnya, Ida menempuh berbagai cara. Mulai dari mengajar hingga berdagang.

"Aku pernah jualan keripik pare khas Banyuwangi, karena di Jember jarang yang jual. Pare iitu kan makanan pahit, tapi bisa diolah menjadi cemilan yang renyah. Para dosen dan pak Dekan juga suka loh," tutur Ida setengah berpromosi.

Selain itu, Ida hingga kini juga berjualan makaroni. polanya cukup sederhana, yakni dengan sistem reseller. "Awalnya itu aku beli makaroni, iseng aku posting ukuran dan harganya serta testimoni rasanya. Ternyata banyak yang respons. Jadi sekalian aja aku jual," tutur gadis yang aktif di UKM Korps Sukarelawan PMI semasa kuliah. "Seperti yang aku serap dari kuliah marketing. Jadi aku kemas dengan desain kemasan yang menarik, kasih label dan strategi promosi khusus. Respons pasar lumayan juga,: jelas Ida.

Selain berjualan, Ida juga dengan mengajar. Setiap habis salat magrib, Ida mengajar privat di rumah Ani Budiastutie, yang merupakan Kasubag Keuangan FEBI. "Alhamdulillah secara keuangan aku juga banyak dibantu para dosen untuk SPP," tutur Ida.

Dengan seabrek aktivitasnya itu, Ida memang harus pandai-pandai mengatur waktu agar bisa merampungkan studi dengan optimal. Tidak ada kiat khusus yang dilakukan Ida. "Aku biasanya belajar setelah salat subuh sampai pagi menjelang kuliah. Selain karena suasananya tenang, itu juga tradisi para ulama dulu," ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Ada banyak kenangan yang dirasakan Ida selama kuliah di FEBI IAIN Jember. Salah satunya adalah hubungan antara mahasiswa dengan dosen yang terbangun layaknya keluarga. "Dosennya humble, jadi dengan dosen itu kita bisa akrab seperti teman. Meski tetap ada sopan santunnya. Sering juga kita diteraktir makan atau dikasih uang saku sama pak Dekan atau dosen lainnya," pungkas Ida. (ad/cI/hdi)

SUMBER : JP-RJ 29 APRIL 2018

Senin, 29 Oktober 2018

PERTUKARAN PELAJAR DI NURIS JADIKAN SANTRI BERWAWASAN GLOBAL

Buka Peluang Baru, Siapkan Santri Jadi Duta Besar dan Diplomat

sebanyak 12 pelajar Thailand belajar di Ponpes Nuris, sejak 1 April 2018. Sedangkan 12 santri Nuris sudah ke Thailand pada 10 Februari hingga 10 Maret lalu. Pertukaran pelajar antar-negara itu menjadikan para santri lebih percaya diri meraih mimpi.

BAGUS SUPRIADI, Sumbersari

SEBANYAK 12 pelajar sedang berkumpul di  Ponpes Nuris Antirogo kemarin (25/4). Selama sebulan, mereka menghabiskan waktunya untuk belajar disana. Tak hanya mengasah kemampuan di bidang keagamaan, tetapi juga ilmu bahasa Arab dan Inggris.

Mereka mengikuti Thailand student Exchage Programe yang di selenggarakan setiap tahun. Begitu juga dengan santri Nuris, mengikuti Nuris student Exchage programe.

Bedanya, santri Nuris tak hanya belajar, tetapi juga mengajar di Thailand.

Pertukaran pelajar itu menjadi semangat baru bagi para santri untuk meraih cita-citanya. Mualai dari menjadi duta besar hingga diplomat. Mereka belajar menguasai banyak hal, bahasa, budaya serta kemampuan di setiap negara.

"Kami ingin belajar banyak hal di Nuris terutama akhlak santri," kata Nurul Amani Wateh, pelajar dari Darawithaya School Narathiwat.

Dia tak sendiri, tetapi teman-teman lainnya juga ingin melakukan hal yang sama. mengembangkan wawasan dan memperbanyak pengalaman.

Mereka berasal dari kabupaten yang berbeda di Thailand, seperti Ya'la, Pattani dan Narathiwat. Mereka saling kenal setelah berada di Ponpes Nuris. "Kami baru kenal disini, karena berasal sari sekolah dan daerah yang berbeda," tambah Husna Leache.

Para pelajar mulai dari tingkat SMP hingga SMA itu berasal dari satri Islam Vitya Mulniti School, Tarbiyatun Mulniti School, Rusmeesthapana School, Tokdamiyah School, Thamvitya Mulniti dan Arunsat Vitaya School.
Di Nuris mereka sama seperti para santri lainnya. Belajar bahasa, mengikuti pengajian kitab kuning dan berbagai kegiatan lainnya sesuai aturan. "Budaya indonesia dengann Thailand berbeda, itu juga kami pelajari," imbuhnya.

Paling penting, lanjut dia, adalah menambah wawasan tentang perkembangan di berbagai negara. Sebab, program pertukaran pelajar itu tak hanya ke Indonesia, tetapi juga negara lain. Seperti ke China. "Saya pernah ke China ," aku Nurul Amani.

Santri Nuris sendiri yang pernah ke luar negeri mengikuti kegiatan tersebut memiliki motivasi yang berbeda. Mimpi mereka semakin tinggi untuk dicapai. Ada yang ingin menjadi duta besar dan diplomat. Tak heran. Ketika lulus, mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi ternama.

Misal, santri lulusan tahun ajaran 2016/2017 menempuh kuliah di jurusan hubungan internasional. Yakni Marthania Rizqy Amalia dan Alfiatul Rizqiyah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian, M.Roqib Alhabib kuliah di hubungan Internasional Universitas Jember.

Mereka semua Santri SMA nuris yang pernah mengikuti Nuris Student Exchange Program (NSEP). Belajar ke Thailand, Malaysia dan Singapura. "Hasilnya mereka ingin mengembangkan wawasan internasional dengan kuliah di jurusan hubungan internasional," kata Gus Robith Qosidi, pengasuh Ponpes Nuris.

Menurut dia, para santri semakin mengetahui dunia luar dengan program NSEP. Hal itu menjadi peluang bagi untuk mempelajari perkembangan dan kemajuan negara lain. Ketika pulang, mereka semakin memiliki rasa percaya diri karena memiliki banyak pengalaman.

Setelah satu bulan di Thailand, mereka masih studi banding di Malaysia. Disana juga belajar tentang banyak hal, terutama tentang perkembangan negara. Bahkan, juga belajar tentang astronomi." Di Malaysia tiga hari," akunya.
Tak puas disitu, mereka melanjutkan perjalanan studi tour ke Singapore. Belajar tentang kemajuan negara tetangga di asia tenggara. Kelak ketika menjadi pemimpin, bisa memajukan daerahnya sendiri.

"Kami ingin memperluas wawasan santri hingga tingkat internasional," ucapnya. Kedatangan para pelajar dari Thailand itu membuat Nuris dikenal oleh dunia internasional. Seperti dengan keinginan besarnya, menjadi pesantren yang go internasional.

Para santri memiliki pengalaman yang positif. Mereka semakin percaya diri untuk meraih cita-citanya. Ada yang ingin menjadi diplomat hingga duta besar. Selain itu, kemampuan bahasa inggris mereka semakin terlatih.

Nuris ingin membuktikan bahwa lulusan pesantren siap bersaing di dunia global. Pesantren bukan lembaga pendidikan yang tertinggal. Tak hanya menguasai ilmu agama dan kitab kuning. Tetapi kemampuan ilmu lainnya juga diperoleh.

"Lulusan pesantren sudah bisa kemana-mana," tambahnya. Untuk itu, pesantren terus mengembangkan santrinya agar menjadi generasi yang siap memimpin bangsa. Mereka dilatih untuk memiliki kemampuan sains, teknologi, bahasa dan agama. (kl/gus/hdi)

SUMBER : JP-RJ 27 APRIL 2018

Minggu, 28 Oktober 2018

DUA TAHUN SABET SAKIP A, BANYUWANGI BAWA INOVASI INTEGRASI PEMBANGUNAN

Bikin Terobosan Baru dalam Pengelolaan Kinerja Pemerintah

Pembkab Banyuwangi dalam dua tahun berturut-turut, 2016 dan 2017, menyabet nilai A dalam penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Kabupaten berjuluk The Sunrise of java itu menjadi satu-satunya kabupaten se-Indonesia yang mendapat nilai A.

TAHUN ini, dalam penilaian tertinggi kinerja akuntabilitas yang dihelat pemerintah pusat tersebut, Banyuwangi menyajikan inovasi baru dalam pengelolaan kinerja pemerintah. Di antaranya soal kian terintegrasinya pelaksanaan pembangunan.

"Dalam beberapa tahun ini, kita jalin kolaborasi antarorgansasi perangkat daerah. Ego sektoral dihapus. Yang jadi fokus adalah target kinerja, bukan siapa pelaksananya.

Karena satu target itu dikeroyok banyak dinas, banyak badan," ujar bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela-sela penyiapan penilaian di hadapan Kementrian PAN-RB di Surabaya, senin (23/4/2018).
Anas mencontohkan, upaya memuliakan warga lanjut usia (lansia) lewat program "Rantang Kasih" yang mendistribusikan makanan bergizi gratis tiap hari ke ribuan lansia. Dalam program itu, pelaksananya tidak hanya dinas sosial, melainkan lintas dinas.

Dinas komunikasi informatika dan persandian, misalnya, mengolah data penerima dan calon penerima ke dalam data digital yang kemudian mengajak publik untuk terlibat membantu warga lansia yang belum terjangkau pemerintah daerah. Dinas kesehatan terlibat menyupervisi gizi dan higienitas makanan yang disediakan oleh warung-warung rakyat yang menjadi rekanan. Bahkan, dinas pendidikan juga dilibatkan untuk mengajak para pelajar secara berkala mengunjungi warga lansia, guna memupuk rasa kepekaan sosial sejak dini.

"Jadi, satu program seperti untuk warga lansia dikeroyok banyak pihak. Dengan skema ini, yang jadi fokus adalah target, yaitu lansia. Nggak peduli siapa yang mendukung program ini, yang terpenting target sasaran dibantu maksimal. Itu proses bisnis yang kita kembangkan di pemerintahan Banyuwangi," papar Anas.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bakpeda) Suyanto Waspotondo menambahkan, konsep integrasi pembangunan itulah yang terus coba diterapkan.

"Kalau dulu, empat atau lima tahun lalu, kita bergerak sendiri-sendiri. Sekarang kolaborasi dengan model kerja ini, birokrasi semakin kompak, ego sektoral sudah keritis," ujarnya.

Dia menggarisbawahi, skema kerja pemerintahan seperti itu membuat tim fokus ke tujuan, bukan ke sarana/kendaraan untuk mencapai tujuan.

"Maka, indikator kita jelas. Kalau kemiskinan turun, berarti pembangunan berhasil. Jadi, ukuran keberhasilan bukan terlaksananya program, tapi terwujudnya tujuan, output, dan outcome-nya. Alhamdulillah, kemiskinan melorot drastis ke level 8,6 persen dari sebelumnya selalu di atas dua digit. Pendapatan per kapita melonjak menjadi RP 41 juta per orang pertahun, dibanding awalnya Rp 20,8 juta," ujarnya. (kl/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 25 APRIL 2018

Kamis, 25 Oktober 2018

HERU SUJONO, KEPALA DUSUN YANG HOBI OLAHRAGA PACUAN KUDA

Makin Pede Setelah Dikenal Oleh Para Tokoh Nasional

Mencintai sebuah hewan peliharaan bagi siapapun adalah bentuk rasa cinta. Begitu juga dengan Heru Sujono, Kepala Dusun Krajan Desa/ Kecamatan Jenggawah yang tergila-gila dengan kuda. Kuda bukan hanya sekedar hobi namun malah menjadi pembuka jaringan rezeki hingga nasional. Bahkan kini menjadi bentuk pengabdian pada masyarakat.

RANGGA-JUMAI, Jember

PERINGATAN Isra Mi'raj di Kecamatan Jenggawah sepekan lalu, berbeda dengan biasanya. Dimana biasanya peringatan hari besar Islam dilakukan dengan berbagai kegiatan agama. Namun, di lapangan Jenggawah ini malah diisi dengan pameran dan pacuan kuda. Berbagai jenis kuda pun tumplek blek di lapangan ini.

Bahkan, bukan hanya dari Jember dan sekitarnya saja, namun juga berbagai kuda dari luar kota pun ikut hadir dalam perayaan ini. Hal ini lepas dari keberadaan Heru Sujono, Kepala Dusun Krajan Desa/ Kecamatan Jenggawah yang juga dikenal sebagai pecinta kuda.

Dirinyalah yang mendatangkan berbagai macam kuda beserta dengan pemiliknya. "Jadi ini semacam arisan, memang sengaja saya minta di daerah saya sekalian untuk peringatan Isra Mi'raj," jelas jon, panggilan akrabnya.

Dimana kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Olahraga Berkuda Jember. Memang dimalam hari tetap ada pengajian. Namun, kehadiran kuda-kuda ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat.

Menurut pria kelahiran Jember 11 Juli 1969 ini, dirinya sudah menyukai kuda sejak 2007 lalu. "Sebenarnya saat itu tidak punya niat suka dengan kuda," ucap suami Kuala Ratna Dewi ini.

Kebetulan saat itu, kerabatnya yakni Syamsul Hadi Merdeka yang anggotanya DPRD Bondowoso hendak menjual kuda dengan usia 3 Tahunan. "Saat itu nekat saya tukar dengan mobil talf saya. Harganya sekitar Rp 27 jutaan," terang ayah dari Mariska, Febri dan Ivon ini. Dirinya mengaku saat itu sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan kuda. Namun, Pak Jon tetap nekat membawa pulang kuda tersebut dan memberikan nama Mantra. "Awalnya takut mau ngasih makan saja takut," jelasnya.

Namun, lama kelamaan dirinya menemukan kesamaan antara kuda dengan anjing. Yakni akan jinak dengan orang yang sayang merawat mereka dengan kasih sayang. Dirinya pun mengaku baru menemukan chemistry ketika sudah merawat selama 2-3bulan.

Akhirnya, pada 2010 Hru Sujono diajak berlatih paacuan kuda oleh Kyai Fadil Khobir, pengasuh pondok Pesantren Mambaul Ulum Rambipuji. "Untuk latihan pacuan ini di Kraksaan Probolinggo," terangnya.

Dari pacuan inilah dirinya memiliki banyak pengalaman ke sejumlah daerah untuk berkuda. "Hikmahnya  dari semula takut menjadi ajang hiburan bahkan bisa kemamana-mana dan banyak kenalan dengan pecinta kuda dari berbagai daerah," jelasnya.

Dirinya pun kini memiliki lima ekor kuda yakni 2 jenis kuda poni Australia, kuda besar balap, kuda bima dan kuda lokal Bondowoso.

Dirinya menuturkan, meskipun kecil namun ternyata kuda lokal Jember Bondowoso ini memiliki banyak keunikan. "Kudanya ukuran kurang dari 120 cm, tapi sangat kuat," jelasnya. Dirinya mengatakan kuda Bondowoso ini juga bnayak memiliki peminat di luar daerah, terutama di ibukota.

"Malah yang suka orang-orang terkenal.  Tapi memang mintanya unik-unik," jelasnya. Misalnya minta yang belang-belang, putih mulus dan sebagainya. Asalkan bisa memenuhi maka akan disayang oleh mereka.

Dirinya mengatakan selain banyak kenal orang penting juga menjadi sangat dekat dengan Kyai alim ulama. Karena memang cukup banyak Kyai suka kuda karena merupakan salah satu hewan yang disayang Nabi Muhammad. Dirinya mengatakan, meskipun memiliki hobi kuda, dirinya tidak melupakan tugasnya sebagai kasun. Alumnus SMA Pancasila Ambulu ini tetap melayani masyarakat. Bahkan dirinya mengajak masyarakat untuk juga mencintai kuda seperti dirinya. "Banyak anak-anak muda yang belajar kuda dirumah," ucap Jon.

Mereka diajak cara merawat kuda-kuda itu dirumahnya. Termasuk cara merawat kuda tidak sesulit yang dibayangkan, bahkan lebih mudah dan bersih dibandingkan dengan merawat sapi. Contohnya di rumah Jon, antara dapur dan kandang kuda sebenarnya kumpul jadi satu tetapi tidak bau dan jorok.

Dirinya mengatakan banyak juga anak-anak sekitar yang kini merasakan manfaat dari belajar kuda kepada dirinya. "Jika sudah mahir, biasanya diambil dipekerjakan stable (peternak kuda) besar atau merawat sendiri," terangnya. Yang penting, menurutnya memang masyarakat dan anak-anak suka dengan kuda terlebih dahulu.

Dirinya pun berharap hobinya merawat  kuda ini nantinya juga terus menular. Dirinya pun berharap nantinya kuda Jember Bondowoso ini bisa terus dikenal di pecinta kuda bahkan hingga ke tingkat nasional. (ram/hdi)

SUMBER : JP-RJ 20 APRIL 2018

Rabu, 24 Oktober 2018

KEDONO-KEDINI, KOMUNITAS LANSIA SEHAT NAN PRODUKTIF DI JEMBER

Rame-Rame Bikin Koperasi Untuk Jaga Daya Ingat

Kedono-Kedini (bahasa jawa), yang artinya laki-laki dan perempuan, ingin membuktikan lansia sekalipun masih produktif dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Inilah yang digalakkan komunitas Lansia Jember ini.



ADI FAIZIN, Jember

'KAMI para usia lanjut - seluruh Indonesia - mau tetap berdaya guna - bagi diri dan keluarga. Tingkatkan hubungan sosial - Di dalam masyarakat. Bertaqwa kepada tuhan, yang melimpahkan rahmat. Periksa kesehatan, sebelum penyakit datang'.

Itulah sebagian bait lagu berjudul "Masa Tua Bahagia" atau yang kerap disebut Mars Lansia. Lagu ini kerap dinyanyikan di beberapa perkumpulan komunitas lanjut usia (Lansia) atau di panti Wreda. Seperti yang dilakukan di komunitas Kedono-Kediri.

Berdiri sejak 10 Juni 2009, komunitas ini sengaja dibentuk untuk mewadahi kebersamaan para lansia.

"kedono-Kedini ini berasal dari bahasa jawa. Artinya, laki-laki dan perempuan," tutur Musratin, salah satu pendiri komunitas Kedono-Kedini. Musratin merupakan perempuan pensiunan guru asal Bondowoso yang kini berusia 78 tahun.

Saat awal berdiri, Musratin sampai harus mengetuk satu persatu rumah tetangganya di kawasan Mangli. Dengan telaten dan bertahap, Musratin yang saat itu masih cukup bugar mengumpulkan para lansia untuk diajak berkegiatan bersama. "Ibu sat itu diminta menjadi ketua karena sebagai perintis. Ibu saya semangatnya luar biasa. Cuma setahun terakhir, sedikit berkurang karena terkena stroke," tutur Erwidati, salah seorang anak Musratin yang banyak menemani sang ibu berkegiatan di Kedono-Kediri. Musratin memang tinggal bersama Erwidati di rumah mereka yang ada di Perumahan Pesona Surya Milenia, Mangli.

Berbeda dengan organisasi lainnya, pemilihan ketua di komunitas Kedono-Kedini dilakukan berdasarkan senioritas. Sebagai perintis, Musratin semula diminta menjadi ketua. Kursi pemimpin kemudian dialihkan ke Nyonya Sumiati Saimun, lalu sekarang ketuanya adalah ibu Rofita Solichin.

Adapun sebagai pembina, dipercayakan kepada Bapak Bambang Sumarjono. "Kalau sudah sepuh memang tidak ada ambisi lagi. Perkumpulan ini memang dibentuk agar para lansia merasa masih berarti. Sedangkan kita yang masih muda, banyak membantu kegiatan mereka," tutur perempuan yang akrab disapa Eeng ini.

Diawal berdirinya, Kedono-Kedini hanya diisi dengan kegiatan -kegiatan sederhana. Seperti senam lansia bersama. "Kita punya visi dan misi yang sama, yakni agar lansia tetap sehat. Berikutnya, kegiatan ini lalu berkembang seperti saling sambang ke masing-masing anggota, terutama jika ada yang sakit atau sudah tidak bisa," tutur Erwidati.

Hampir setiap bulan, selalu saja ada kegiatan yang dilakukan komunitas Kedono-Kedini. Kegiatan Kodono-Kedini lantas berkembang hingga mendirikan semacam koperasi bersama. Mereka menyisihkan sebagian uang secara rutin untuk waktu tertentu. "Setelah berkumpul, uangnya digunakan untuk kegiatan bersama, seperti rekreasi atau jika ada yang ulang tahun . Seneng deh pokoknya ngeliatnya," tutur perempuan yang juga pendiri dan ketua Pusat Perlindungan Anak, perempuan dan Lansia (PPAL) Takawida ini.

kegiatan berkoperasi ini, menurut Erwidati tidak sekadar untuk mengisi kegiatan bersama. "Mereka mengumpulkan, menghitung, dan mencatat uang sendiri. Itu juga menjadi salah satu cara atau terapi untuk menjaga daya ingat. Mencegah kepikunan jadi menurut saya, para orang tua kita sebaiknya jangan dibatasi  kegiatannya, agar mereka tetap sehat dan produktif," jelas perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara ini.

Kini, anggota komunitas Kedono-Kedini mencapai sekitar 35 orang. Meski belum memasuki usia lansia atau masih pralansia, Erwidati mengaku sangat senang bisa menemani sang ibu berkegiatan di komunitas ini. "Rata-rata anggotanya itu lansia yang sudah tidak serumah dengan anaknya. Jadi, mereka sering merasa sepi kalau anaknya sibuk dengan kegiatannya masing-masing," tutur perempuan kelahiran Bondowoso 17 Mei 1966 ini.

Di setiap kegiatannya, Kedono-Kedini selalu menyisipkan hiburan yang memberikan motivasi bagi sesamanya, agar bisa mengisi hari tua dengan bahagia dan sehat. Jika ada anggota yang karena kesehatannya sudah tidak memungkinkan untuk datang, maka secara periodik akan disambangi oleh komunitas ini. "Intinya agar tetap bahagia walau sudah lanjut usia . Kalaupun sakit, itu hanya bagian dari perjalanan hidup. Yang penting kita tetap berarti," jelas Erwidati.

Acara gembira yang dilakukan Kedono-Kedini, menurut Erwidati tidak sekedar untuk bersenang-senang saja. Upaya itu juga menjadi bagian dari cara mereka untuk mengingat akhirat. Oleh karenanya, secara berkala komunitas ini juga mengunjungi Panti Wreda, sekadar menjalin silaturahmi dengan para lansia yang mungkin nasibnya berbeda dengan mereka.

"Kegiatan silaturahmi ke panti wreda ini juga menjadi pengingat agar kami senantiasa bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT. Sesekali, kita juga ada ziarah kubur, untuk mengingat bahwa itu adalah rumah masa depan kita" tutur istri advokat senior yang juga Ketua IKADIN Jember, Jani Takarianto ini.

Tak hanya itu. Acara sosial juga sesekali dilakukan oleh Kedono-Kedini dengan menyantuni pemulung, saat mereka mengadakan acara bersama. Kekompakan anggota Kedono-Kedini juga ditunjang oleh meleknya mereka terhadap perkembangan teknologi. Mereka saling berkomunikasi melalui grup WhatsAp. "Meski ngetiknya masih sering typo (saltik,red)," tutur Erwidati sembari tersenyum.

Adanya grup WA menurut Erwidati sangat efektif dalam menunjang komunikasi di antara mereka. Setiap ada hajatan atau kabar dari masing-masing anggota, bisa mudah tersampaikan dengan segera di antara para lansia tersebut. "Misalnya ada kabar anggota sakit, langsung dijenguk, tidak menunggu besok. Sudah seperti keluarga baru. Di situ, saya merasa haru dengan kekompakan mereka," tutur advokad alumnus Magister Ilmu Hukum Unej ini. (ad/mgc/hdi)

SUMBER : JP-RJ 19 APRIL 2018

Selasa, 23 Oktober 2018

RUDY JOELIJANTO, DOSEN YANG GETOL TEKUNI LARI MARATON

Gelorakan Semangat Lari Lewat Dentistry Runner dan Caniners Run

Kesadaran tentang hidup sehat dengan olahraga lari muncul saat tubuhnya mulai melemah. Tak kuat mengayuh sepeda dalam waktu yang lama dan jarak yang jauh. Untuk itulah, Rudy bangkit menjadi pelari maraton hingga sekarang.

BAGUS SUPRIADI, Tegalboto

BEKERJA sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember membuat Rudy cukup sibuk. Kegiatan olahraga tak sempat dilakukan. Tubuhnya molor hingga 81 kilogram. Kondisi kesehatan tubuh juga mulai berkurang.

Tak hanya itu, kekurangan olahraga membuat tubuhnya tak segar. Bangun tidur, justru merasa tidak enak. Hal itu membuat dirinya tak nyaman dengan keadaan itu. Padahal sejak kecil, olahraga lari sudah menjadi kegemarannya di Surabaya.

Suatu hari, dia membelikan sepeda anaknya. Iseng-iseng, dia mencoba mengayuh sepeda itu. Namun jalan tak begitu jauh, napasnya sudah tersengal-sengal. "Saat itu saya mulai sadar sudah tidak bergelut dengan olahraga," katanya ketika ditemui di ruang ortodonsia lantai 2 RSGM FKG Unej.

Rudy, sapaan akrabnya, pun mencoba mengubah pola hidupnya. Dia mulai menata niatnya untuk melakukan lari pagi rutin. Lari sekitar empat kilometer setiap dua hari sekali. "Dua kilo jalan, dua kilonya lari di sekitar rumah," akunya.

Lari kecil itu dilakukan selama empat tahun, saat dirinya berumur 40 tahun. Hasilnya dirasakan, tubuhnya semakin sehat. Kegemaran olahraga mulai menjadi bagian dari hidupnya. "Akhirnya saya mencari informasi tentang event lari," ucapnya.

Pria kelahiran 15 Juli 1972 tersebut mulai menghubungi teman kuliahnya waktu di FKG Universitas Airlangga Surabaya. Dari sana, dia mendapatkan informasi tentang berbagai event lari maraton. Pertama ikut race

Jawa Pos di Suramadu sejauh 10 kilometer.
"Awalnya khawatir tidak kuat, namun karena banyak pesertanya semakin termotivasi," papaenya. Ada banyak peserta yang bergabung dalam event tersebut. Saat suami dari Yani Corvianindya itu semakin

memiliki semangat untuk menjadikan olahraga lari sebagai hobi yang tak bisa dilepaskan.
Lari maraton sejauh 5 kilometer, 10, half maraton hingga 50 kilometer dilakukannya. Bahkan seminggu sekali selalu ikut event lari maraton di luar kota. "Ikut berbagai event saya mulai sejak tahun 2016 lalu," aku pria 46 tahun tersebut.

Event lari kedua dilakukan dalam Borobudur Maraton sejauh 10 kilometer. Ayah dua anak itu mampu menyelesaikannya.

Tak hanya itu event yang terus diikuti dari berbagai kota, mulai dari Malang, Semarang, Bandung, Batu, Lombok, Pasuruan, Bondowoso, Banyuwangi, Depok, Bromo, Kelud Maraton, dan lainnya. Semua itu dilakukan hampir seminggu sekali di hari libur.

Ketika mengikuti Bromo Tengger Semeru Ultra 100 Maraton, dia harus menaklukkan jarak sepanjang 50 kilometer. Tentunya tak mudah, karena harus melewati jalan yang terjal, bahkan melewati jalan yang pasir. "Itu lebih sulit dibandingkan event yang lain," ungkapnya.

Namun dirinya berhasil menemouh jarak tersebut. Sebab, sebelum pelaksanaan harus mempersiapkan mental dan fisik terlebih dahulu sehingga ketika lari tidak mengalami kendala. "Perlu survey dulu lokasi lari, dan latihan," ucapnya.

Dia menambahkan untuk memilih lari Virgin Maraton di Kuala Lumpur Malaysia. Dia ingin membuat kenangan bahwa dirinya bisa menuntaskan jarak sejauh 42,195 kilometer di luar negeri. "Saya mampu
mencapainya selama 6 jam 30 menit, lebih cepat dari ketentuan," tuturnya.

Kegemaran lari yang menyehatkan itu tak ingin dilakukannya sendiri. sebab, dia merasakan manfaatnya yang begitu luar biasa. "Akhirnya saya ajak keluarga dan teman-teman untuk ikut lari," tuturnya.

Tak hanya itu, alumnus pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia lari di Jember itu membentuk komunitas lari di Jember, yakni Dentistry Runner. Mayoritas masih mahasiswa, namun semua orang bisa bergabung.

Di tingkat Jawa Timur, membentuk Komunitas Caniners Run yang diisi oleh teman-teman kuliahnya dulu. Mereka rutin berbagi informasi tentang event lari maraton. Kemudian bertemu dalam satu kegiatan.

Banyak orang ingin olahraga, tapi selalu merasa sibuk. Padahal, kuncinya hanya ada pada niat, kemudian melakukan. "Kalau sudah niat dan melakukan, siapa pun pasti bisa olahraga rutin," paparnya.

Di Jember, minat warga untuk lari maraton masih belum banyak. Ditambah dengan dukungan yang kurang memadai, seperti penyelenggara event. Padahal, beberapa warganya suah ada yang menjadi pelari maraton. "Ini perluterus digelorakan agar olahraga menjadi budaya warga," pungkasnya. (ci/hdi)

SUMBER : JP-RJ 18 APRIL 2018

KREATIFITAS WARGA DESA SIDOMEKAR UBAH PASAR KUMUH JADI MURAL

Ini Strategi Untuk Memikat Pembeli Datang ke Sini Awalnya, hanya sebuah pasar Krempyeng yang kumuh di dalam gang. namun, sejak April pem...